Lembaga riset nasional Australia, CSIRO, mengonfirmasi temuan jamur tanah Fusarium oxysporum yang memiliki kemampuan unik untuk berinteraksi dan mengonsumsi emas pada Rabu, 15 April 2026. Organisme ini ditemukan mampu melarutkan logam berharga tersebut dari lingkungan sekitarnya sebelum mengendapkannya kembali ke tubuh mereka.
Sebagaimana dilansir dari Detik iNET, proses biologis ini melibatkan oksidasi partikel emas yang kemudian diubah menjadi bentuk padat pada struktur hifa atau benang jamur. Fenomena ini mengejutkan para ahli karena emas dikenal sebagai elemen kimia yang sangat tidak reaktif dan sulit mengalami perubahan melalui proses alami.
"Emas sangat tidak reaktif secara kimia, jadi interaksi ini tidak biasa dan mengejutkan," kata Dr. Tsing Bohu, peneliti utama dari CSIRO. Penelitian menunjukkan bahwa jamur yang berinteraksi dengan emas tersebut justru mengalami pertumbuhan yang lebih cepat dan ukuran yang lebih besar dibandingkan populasi jamur biasa.
Penemuan ini membuktikan peran penting organisme hidup dalam siklus pergerakan logam mulia di lapisan kerak Bumi. Selain faktor biologis, temuan ini memberikan dampak signifikan bagi sektor industri karena keberadaan jamur tersebut dapat menjadi indikator alami adanya cadangan emas di bawah permukaan tanah.
Para geolog kini mempertimbangkan penggunaan Fusarium oxysporum sebagai alternatif pemetaan lokasi tambang guna meminimalkan aktivitas pengeboran eksplorasi yang mahal dan merusak lingkungan. Metode ini dinilai lebih efisien dalam mengidentifikasi potensi sumber daya mineral secara presisi melalui sampel tanah permukaan.
Di sisi lain, para peneliti mulai menjajaki konsep biomining atau penambangan biologis untuk misi eksplorasi luar angkasa di masa depan. Penggunaan mikroorganisme dianggap sebagai solusi paling memungkinkan untuk mengekstraksi material berharga di lingkungan ekstrem dengan gravitasi rendah seperti asteroid.
Pemanfaatan jamur dalam skala industri ruang angkasa diprediksi akan lebih hemat energi dan praktis dibandingkan membawa alat berat dari Bumi. Saat ini, tim peneliti masih terus melakukan pengujian tahap awal untuk memahami batasan kemampuan biologis jamur tersebut dalam berbagai kondisi lingkungan ekstrem.