BRIN Ungkap 65 Persen Garis Pantai Utara Jawa Mengalami Erosi

BRIN Ungkap 65 Persen Garis Pantai Utara Jawa Mengalami Erosi
Foto: Ilustrasi BRIN Ungkap 65 Persen Garis Pantai Utara Jawa Mengalami Erosi.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melaporkan bahwa 65,8 persen area garis Pantai Utara (Pantura) Jawa yang membentang dari Serang hingga Situbondo kini mengalami erosi pada Senin (4/5/2026). Fenomena ini dipicu oleh pembangunan permukiman dan pusat ekonomi yang memicu ekstraksi sumber daya pesisir secara tidak terkendali.

Analisis Citra Satelit Sentinel periode 2000-2024 menunjukkan laju erosi yang mendominasi perubahan garis pantai dibandingkan tingkat akresi yang hanya mencapai 34,2 persen. Data riset tersebut menunjukkan dampak kerusakan lingkungan telah mengakibatkan hilangnya ruang hidup warga serta kerusakan infrastruktur publik di sepanjang pesisir utara.

Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Tubagus Solihuddin menjelaskan bahwa struktur geologi Pantura yang belum terkompaksi kuat membuatnya sangat rentan terhadap tekanan fisik. Wilayah ini sebagian besar tersusun oleh endapan pluvial dan delta yang mudah mengalami pemampatan.

"Jadi, 84 persen Pantai Utara Jawa tersusun oleh endapan pluvial dan endapan delta. Secara geologi endapan yang menyusun Pantai Utara Jawa itu masih unconsolidated, masih belum terkompaksi dengan kuat sehingga sangat mudah mengalami erosi dan pemampatan," kata Tubagus dalam keterangannya dilansir dari Lestari.

Kondisi morfologis kawasan juga memperburuk kerentanan karena didominasi oleh dataran rendah. Berdasarkan data teknis, sekitar 83 persen dari total panjang garis pantai memiliki elevasi ketinggian di bawah 10 meter di atas permukaan laut.

"Secara morfologi, Pantai Utara Jawa didominasi oleh pantai berelief rendah atau pantai dataran rendah dengan elevasi ketinggian kurang dari 10 meter. Dan itu menempati 83 persen dari panjang seluruh Pantai Utara Jawa," beber Tubagus.

Kerusakan lingkungan paling signifikan terjadi akibat modifikasi aliran sungai di hulu yang memutus pasokan sedimen ke muara. Di Tanjung Pontang, Serang, daratan seluas 1,72 kilometer persegi telah hilang, sementara di Bekasi dan Subang, ribuan hektare tambak terendam akibat intrusi air laut yang merangsek jauh ke daratan.

Selain faktor manusia, kenaikan muka air laut global turut menekan kawasan ini dengan tren rata-rata 0,41 hingga 0,42 sentimeter per tahun. Hal ini berpadu dengan laju amblesan tanah yang cukup ekstrem di beberapa kota besar di sepanjang jalur Pantura.

Daftar Laju Penurunan Muka Tanah di Wilayah Pantura Jawa (2017-2023)
WilayahLaju Penurunan (Per Tahun)
Demak16 cm
Jakarta15 cm
Sidoarjo14 cm
Pekalongan11 cm
Surabaya8 cm
Brebes7 cm
Serang6 cm
Cirebon6 cm
Indramayu6 cm

Tubagus menegaskan bahwa situasi di Pantura bukan lagi sekadar permasalahan lingkungan di tingkat daerah, melainkan sudah menjadi krisis berskala nasional. Hal ini mengingat posisi strategis kawasan tersebut sebagai pusat pergerakan ekonomi utama di Pulau Jawa.

"Pantura Jawa sedang menghadapi krisis nyata. Tadi disampaikan tantangannya bukan hanya erosi, abrasi, banjir, tapi juga kenaikan muka air laut dan ambelasan tanah. Dan itu bukan isu lokal, itu isu nasional mengingat Pantura Jawa sebagai tulang punggung perekonomian nasional," papar Tubagus.

Artikel terkait

Rekomendasi