Sunyi di Balik Karantina: Kisah Penumpang MV Hondius Melawan Jenuh

Sunyi di Balik Karantina: Kisah Penumpang MV Hondius Melawan Jenuh
Foto: Ilustrasi Sunyi di Balik Karantina: Kisah Penumpang MV Hondius Melawan Jenuh.

Keseharian berjalan lambat di dalam ruang isolasi yang steril di Omaha, Nebraska. Bagi Jake Rosmarin, pemandangan laut lepas dari dek kapal pesiar MV Hondius kini telah berganti dengan empat dinding fasilitas medis khusus. Pria berusia 29 tahun itu merupakan satu dari puluhan penumpang yang harus dievakuasi setelah pelayaran impian mereka berubah menjadi mimpi buruk kesehatan global.

Wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius menjadi perhatian dunia setelah tiga penumpang meninggal dunia dan puluhan lainnya harus dievakuasi ke berbagai negara untuk menjalani karantina. Kapal yang berangkat dari Amerika Selatan itu awalnya membawa sekitar 150 orang dari 23 negara untuk menikmati pelayaran ke wilayah terpencil mengutip dari Al Jazeera, sebelum perjalanan berubah menjadi situasi darurat kesehatan internasional.

Di tengah situasi penuh ketidakpastian itu, para penumpang yang dikarantina mulai membangun rutinitas baru di kamar isolasi mereka masing-masing. Jake, yang merupakan seorang kreator konten dan fotografer, kini harus menyesuaikan diri dengan ritme hidup yang sangat berbeda dari rencana awalnya untuk pulang ke Boston bersama tunangannya.

Pada hari Rabu melalui wawancara dengan BBC, Jake mengawali harinya dengan membuat roti lapis isi telur di kamarnya menggunakan bahan makanan yang ia pesan dari menu yang disediakan oleh staf fasilitas medis. Tidak ada lagi jamuan makan malam mewah di atas kapal; yang ada hanyalah jadwal pengecekan kesehatan rutin yang dilakukan oleh para perawat yang mengenakan alat pelindung diri lengkap.

Prosedur medis dilakukan dengan sangat ketat untuk mencegah potensi penularan. Jake mengamati bagaimana para staf sangat berhati-hati setiap kali melakukan kontak fisik atau masuk ke dalam zona isolasinya.

ÔÇ£Setiap berganti ruangan, mereka harus melepasnya dan kemudian mengenakan perlengkapan baru,ÔÇØ ujarnya.

Kamar karantina yang ditempatinya sebenarnya telah dilengkapi dengan fasilitas penunjang seperti tempat tidur, televisi, telepon, meja, hingga sepeda olahraga. Namun, keberadaan barang-barang tersebut belum cukup untuk mengusir rasa jenuh yang merayap. Untuk membuat suasana lebih nyaman, Jake memesan alas kasur baru, bantal, hingga buku mewarnai secara daring.

ÔÇ£Saya rasa saya hanya kewalahan,ÔÇØ ujarnya.

Pelarian Lewat Layar Ponsel

Di balik pintu yang terkunci, media sosial menjadi jendela utama Jake menuju dunia luar. Melalui akun @jakerosmarin yang memiliki 127 ribu pengikut, ia mendokumentasikan setiap detail kecil hidupnya, mulai dari menu sarapan telur orak-arik dan bacon hingga kopi Starbucks yang dipesannya untuk makan siang.

Bagi Jake, konten bukan sekadar pekerjaan, melainkan mekanisme pertahanan diri agar tetap waras di tengah kesendirian. Ia merasa kehilangan arah jika tidak menyibukkan diri dengan kamera dan unggahan digital.

ÔÇ£Seluruh hidup saya ada di media sosial, dan jika saya tidak bisa membuat konten, saya tidak tahu harus melakukan apa dengan diri saya sendiri,ÔÇØ ujar Jake.

Meski begitu, keterbukaan ini tidak selalu berbuah manis. Di kolom komentar, Jake harus menghadapi beragam reaksi publik yang terkadang menyakitkan. Beberapa orang menuduh para penumpang bersikap egois karena tekanan yang mereka rasakan selama proses evakuasi.

ÔÇ£Membaca komentar-komentar itu membuat semuanya terasa berat,ÔÇØ tuturnya.

Terlepas dari kecaman tersebut, Jake memilih untuk tetap mendokumentasikan pengalaman langka ini. Ia berniat menyusun sebuah catatan tertulis agar pengalaman pahit ini tetap teringat di masa depan.

"Ini bukan sesuatu yang ingin saya lupakan, karena ini adalah cerita yang pasti ingin saya ceritakan kepada anak-anak saya suatu hari nanti," ungkap Jake kepada BBC.

Memahami Ancaman Hantavirus

Secara medis, karantina yang dijalani Jake dan penumpang lainnya memiliki karakteristik yang berbeda dengan protokol Covid-19 yang pernah melanda dunia. Hantavirus, yang biasanya dibawa oleh hewan pengerat melalui urine atau kotoran, memiliki masa inkubasi yang jauh lebih lama, yakni mencapai delapan minggu.

Hal inilah yang menyebabkan para penumpang tetap harus diisolasi hingga enam minggu meskipun mereka tidak menunjukkan gejala apa pun. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, pun merasa perlu memberikan klarifikasi tegas agar masyarakat tidak terjebak dalam kepanikan serupa pandemi masa lalu.

ÔÇ£Saya perlu Anda mendengar saya dengan jelas: ini bukan COVID yang lain,ÔÇØ pungkasnya melalui keterangan resmi dikutip dari Al Jazeera.

Artikel terkait

Rekomendasi