Sektor perdagangan elektronik ritel mengalami penurunan penjualan hingga 50 persen akibat nilai tukar rupiah yang menembus angka Rp17.500 per dolar AS pada Selasa (12/5/2026). Gejolak kurs ini memicu lonjakan harga barang yang secara langsung melumpuhkan daya beli masyarakat di tingkat pedagang kecil.
Dilansir dari Suara, pelemahan mata uang Garuda ini mencatatkan titik terendah sepanjang sejarah yang berdampak signifikan pada operasional pasar. Kondisi tersebut memaksa konsumen menunda belanja perangkat elektronik karena kenaikan harga yang dirasa sangat membebani pengeluaran rumah tangga.
Riri, seorang pedagang elektronik di Pasar Minggu, mengonfirmasi terjadinya kemerosotan transaksi yang sangat tajam sejak awal Mei 2026. Ia menyebutkan bahwa separuh dari potensi penjualan biasanya kini hilang akibat penyesuaian harga barang impor tersebut.
"Lumayan sih, mungkin sekitar 50 persen ada. Dari 100 persen, 50 persen ada, separuh," kata Riri.
Penurunan omzet ini dirasakan jauh berbeda dibandingkan kondisi pada bulan April yang relatif masih stabil. Menurut Riri, tekanan mulai muncul secara nyata tepat setelah harga-harga produk di etalase toko mulai merangkak naik mengikuti pergerakan dolar.
"Kalau yang bulan April kemarin soalnya kan harga belum masih belum naik, masih standar. Pengaruhnya baru awal-awal ini," ujar Riri.
Ketergantungan sektor elektronik terhadap komponen dan produk berbasis dolar Amerika Serikat menjadikan lini bisnis ini sangat sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar. Ketidakstabilan kurs menciptakan tekanan ganda, yakni kesulitan bagi penjual untuk menjaga perputaran modal dan keengganan pembeli untuk bertransaksi.
"Soalnya pengaruh (nilai tukar rupiah) ke penjual-penjual sama yang pembeli itu pengaruh semua," kata Riri.
Harapan besar kini tertuju pada kebijakan pemerintah untuk segera menstabilkan nilai tukar rupiah guna melindungi kelangsungan usaha mikro. Tanpa intervensi yang cepat, para pedagang mengkhawatirkan terjadinya kebangkrutan massal karena tingginya biaya pengadaan barang yang tidak sebanding dengan daya serap pasar.
"Kalau buat pemerintah sih pengennya ya harga ya tolong dituruninlah jangan sampai naiknya melonjak banget, pengaruh soalnya buat yang dagang," pungkas Riri.