Kepadatan Volume Kendaraan Picu Munculnya Istilah Sawangan Kubro dan Sugro

Kepadatan Volume Kendaraan Picu Munculnya Istilah Sawangan Kubro dan Sugro
Foto: Ilustrasi Kepadatan Volume Kendaraan Picu Munculnya Istilah Sawangan Kubro dan Sugro.

Kepadatan lalu lintas yang ekstrem di sepanjang Jalan Raya Sawangan hingga Jalan Raya Muchtar, Kota Depok, pada Selasa (13/1/2026), memicu lahirnya fenomena sebutan Sawangan Kubro dan Sugro di kalangan masyarakat. Kondisi ini dipicu oleh ketimpangan antara kapasitas jalan peninggalan era perkebunan dengan masifnya pertumbuhan permukiman modern.

Dilansir dari Megapolitan, jalur ini awalnya hanya dirancang sebagai penghubung distribusi hasil bumi pada abad ke-17 hingga 19. Namun, pembukaan pintu Tol DepokÔÇôAntasari (Desari) di kawasan tersebut justru menambah beban volume kendaraan yang melintas setiap harinya.

Pengamat tata kota, M. Aziz Muslim, menjelaskan bahwa pertumbuhan kantong perumahan dari berbagai kelas menjadi faktor alami meningkatnya jumlah kendaraan. Infrastruktur jalan yang ada saat ini dinilai tidak lagi mampu mengakomodasi mobilitas warga yang sangat tinggi.

"Volume kendaraannya cukup banyak, apalagi di sana ada banyak kantong perumahan dari berbagai kelas. Kawasan Sawangan memang berkembang pesat sebagai wilayah hunian," ujar Aziz.

Ia menambahkan bahwa lonjakan arus lalu lintas semakin tidak terkendali sejak akses tol mulai beroperasi secara penuh. Hal ini memaksa jalan lingkungan berfungsi sebagai koridor utama kota.

"Setelah exit Tol Sawangan berfungsi, volume kendaraan semakin tinggi," kata Aziz.

Aziz menegaskan bahwa akar permasalahan terletak pada ketidaksiapan infrastruktur dalam mengantisipasi perkembangan kawasan. Pelebaran jalan tidak berjalan beriringan dengan laju pembangunan properti di wilayah Sawangan dan Bojongsari.

"Kapasitas Jalan Raya Sawangan tidak mampu menampung kendaraan yang lewat," ujar Aziz.

Seorang warga Bojongsari, Fahri, mengungkapkan kekesalannya karena kemacetan terjadi hampir sepanjang waktu tanpa mengenal jam sibuk. Ia bahkan pernah terjebak selama dua jam hanya untuk menempuh jarak dua kilometer.

"(Bahkan tengah malam) juga padat, setiap waktu tanpa mengenal hari. Sebenarnya sangat berbahaya ya ketika ada situasi atau kebutuhan darurat," ucap Fahri.

Fahri menceritakan pengalamannya saat harus menghabiskan waktu sangat lama untuk mencapai gerbang tol dari persimpangan jalan terdekat. Durasi perjalanan tersebut dinilai sudah tidak masuk akal untuk jarak yang relatif pendek.

"Waktu itu dari Simpang Tugu Bantu ke pintu Tol Desari pernah memakan waktu dua jam," ungkap Fahri.

Warga lainnya, Lutfiatul, menyebutkan bahwa satu-satunya waktu luang dari kemacetan hanyalah saat dini hari. Menurutnya, pemandangan kendaraan yang mengular sudah menjadi santapan harian bagi penduduk setempat.

"Buat jawab kapan Sawangan bisa nggak macet kayaknya bingung deh, soalnya selalu macet. Mungkin sebentar jalanan agak kosong pas weekend pagi aja," tutur Lutfiatul.

Ia pun mengaku sudah terbiasa dengan pemandangan macet tersebut hingga merasa aneh jika jalanan mendadak lancar. Lutfiatul sering terjebak di area dekat pintu tol meskipun hari sudah larut malam.

"Kalau saya enggak lihat macet justru heran, kok tumben lancar, pasti kayak gitu sih kalau warga sini," sambung Lutfiatul.

Merespons rencana Pemerintah Kota Depok untuk memberlakukan sistem satu arah di Jalan Raya Muchtar, Lutfiatul memberikan dukungan namun tetap memberikan catatan kritis. Ia berharap solusi tersebut tidak hanya memindahkan titik kemacetan ke lokasi lain.

"Paling nanti setelah keluar di Jalan Pemuda ya harus dipikirin solusi penguraian macetnya. Kalau ternyata kemacetan juga terjadi di situ kan sama saja," jelas Lutfiatul.

Artikel terkait

Rekomendasi