Generasi Z Gemari Kue Bantal Tradisional di Pasar Ikan Jatinegara

Generasi Z Gemari Kue Bantal Tradisional di Pasar Ikan Jatinegara
Foto: Ilustrasi Generasi Z Gemari Kue Bantal Tradisional di Pasar Ikan Jatinegara.

Sejumlah anak muda dari Generasi Z secara rutin mendatangi Pasar Ikan Jatinegara, Jakarta Timur, untuk berburu kue bantal atau galundeng di atas pukul 22.00 WIB pada Kamis (7/5/2026). Fenomena ini menunjukkan minat terhadap jajanan tradisional yang dinilai lebih unggul dibandingkan roti modern.

Dilansir dari Megapolitan, Rizal (26), salah satu pelanggan yang rela menempuh perjalanan sejauh lima kilometer demi membeli kue seharga Rp 2.000 per buah tersebut. Ia mengaku rutin datang setiap dua hari sekali bersama istrinya ke gerobak milik Suyatno (60).

"Sering banget sih. Tapi kalau beli, suka kalap ya, sampai Rp 20.000 kadang," tutur Rizal.

Kecintaan Rizal terhadap galundeng bermula saat ia bertemu Suyatno di wilayah Kampung Melayu Kecil. Sejak pertemuan pertama itu, istrinya turut menjadi penggemar setia kue yang memiliki tekstur empuk meski telah didiamkan semalaman tersebut.

"Akhirnya beli tuh, istri juga baru nyobain, ternyata istri juga ketagihan," sambung Rizal.

Bagi Rizal, tekstur galundeng yang sedikit gosong justru memberikan sensasi renyah dengan cita rasa gula merah yang lebih kuat. Ia membandingkan kelezatan kue tradisional ini dengan produk pastry luar negeri.

"Rasanya beda. Kalau saya pribadi ya karena mungkin orang sederhana atau orang kampung, tapi emang galundeng lebih enak rasanya dari croissant," ungkap Rizal.

Sentimen serupa juga disampaikan oleh Resi (24), seorang pekerja shift malam yang kerap berhenti di Pasar Ikan Jatinegara. Menurutnya, tekstur kue bantal lebih pas di lidah dibandingkan roti kekinian yang seringkali terlalu kering.

"Croissant sebenarnya enak juga saya suka, cuma kadang terlalu kering aja. Tapi, kalau kue bantal ini teksturnya pas, lembut, tapi enggak basah," kata Resi.

Pembeli lainnya, Nurul (27), awalnya sempat ragu mencoba karena mengira rasanya akan terlalu manis. Namun, faktor harga dan rasa akhirnya membuat ia beralih dari roti modern yang harganya mencapai puluhan ribu rupiah.

"Awalnya enggak pernah mau beli, karena ngiranya manis banget. Tapi, pas dipaksa jajalin ama teman malah ketagihan," jelas Nurul.

Aria (58), seorang ibu dua anak, turut menyepakati pendapat para anak muda tersebut mengenai kualitas rasa jajanan pasar ini. Ia menilai galundeng memiliki keseimbangan rasa manis dan gurih yang tepat.

"Enakan kue bantal lah, dibandingkan roti sekarang kebanyakan manis enggak jelas rasanya gimana, mahal doang harganya," ungkap Aria.

Suyatno, sang pedagang, mengungkapkan telah mempertahankan resep asli buatannya sejak tahun 1983. Ia menekankan penggunaan bahan berkualitas sebagai kunci menjaga kesetiaan pelanggan di tengah maraknya kuliner global.

"Dikasih bumbunya, resepnya yang enggak diubah-ubah. Tetap pakai bahan kualitas ya, sudah cocok seperti itu jadi dipertahankan," ungkap Suyatno.

Meski banyak pilihan roti modern, Suyatno mengaku volume penjualannya tetap stabil setiap hari. Ia mampu menjual ratusan potong kue dalam waktu singkat di lapaknya.

"(Meski ada roti kekinian) penjualan saya stabil, hampir selalu habis 350 galundeng," ucap Suyatno.

Imam Setyobudi, Antropolog dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, menjelaskan bahwa galundeng bertahan karena faktor harga yang terjangkau dan efek nostalgia. Ia menyebut jajanan ini sebagai jangkar emosional bagi masyarakat lokal.

"Singkatnya, galundeng bertahan karena ia menawarkan kepastian di tengah dunia yang terus berubah dengan cepat," tutur Imam.

Artikel terkait

Rekomendasi