Merek ponsel legendaris BlackBerry kini dilaporkan tengah bersiap melakukan gebrakan besar. Perusahaan ini tidak lagi memproduksi perangkat genggam, melainkan bertransformasi menjadi kekuatan utama dalam industri keamanan siber global pada tahun 2026.
Seperti diberitakan oleh Suara yang melansir Digital News Asia, perusahaan ini mengalihkan fokus sepenuhnya untuk melindungi komunikasi tingkat militer. Langkah strategis ini diambil sebagai bagian dari persiapan menghadapi ancaman serius dari teknologi komputer kuantum.
Dukungan untuk sistem operasi klasik BlackBerry memang telah resmi dihentikan sejak Januari 2022. Kendati demikian, BlackBerry Ltd. terus hidup dan bermetamorfosis menjadi penyedia perangkat lunak keamanan siber serta Internet of Things (IoT).
Tahun 2026 diproyeksikan menjadi periode puncak dari penerapan strategi baru mereka. Teknologi besutan BlackBerry kini dirancang untuk menjaga data pemerintahan hingga menjadi sistem keamanan utama pada mobil pintar.
Ekspansi ini turut menempatkan Malaysia sebagai markas besar regional melalui Cybersecurity Centre of Excellence di Cyberjaya. Fasilitas ini telah melatih ribuan tenaga ahli demi memperkuat ketahanan siber di kawasan ASEAN, termasuk Indonesia.
Selain itu, kerja sama dengan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) telah dijalin untuk meluncurkan program Cyber Pathways. Program tersebut bertujuan melahirkan profesional yang siap mengamankan infrastruktur vital dari serangan siber masa depan.
Mengamankan Metadata dan Menghadapi Q-Day
Jonathan Jackson selaku pejabat tinggi BlackBerry untuk wilayah Asia-Pasifik menyoroti celah pada aplikasi pesan instan populer. Menurutnya, platform seperti WhatsApp atau Signal memang memiliki enkripsi, namun metadata pengguna masih dapat diintip pihak luar.
Melalui visi tahun 2026, BlackBerry menargetkan para pemimpin negara dan pebisnis besar agar beralih dari aplikasi pesan gratis yang rawan bocor. Perusahaan menawarkan lapisan pengamanan super ketat guna melindungi identitas kontak, waktu komunikasi, hingga lokasi pengguna dari peretas.
Fokus perlindungan ini juga diarahkan untuk menghadapi ancaman krisis yang dikenal dengan istilah "Q-Day". Istilah tersebut merujuk pada masa di mana komputer kuantum memiliki kemampuan memadai untuk membobol seluruh enkripsi internet yang ada saat ini.
Guna mengantisipasi tantangan tersebut, BlackBerry menetapkan tahun 2026 sebagai "Tahun Inventaris". Perusahaan kini tengah memproses seluruh produk mereka agar berstatus Quantum-Safe atau kebal terhadap serangan komputer kuantum masa depan.