Saham Eropa Menguat Usai Kesepakatan Dagang Uni Eropa dan India

Saham Eropa Menguat Usai Kesepakatan Dagang Uni Eropa dan India
Foto: Ilustrasi Saham Eropa Menguat Usai Kesepakatan Dagang Uni Eropa dan India.

Bursa saham Eropa ditutup menguat pada Selasa (27/1/2026) setelah investor merespons penyelesaian kesepakatan perdagangan bebas bersejarah antara Uni Eropa dan India di tengah persiapan musim laporan kinerja perusahaan. Dilansir dari Investortrust, indeks pan-Eropa Stoxx 600 mencatatkan kenaikan sebesar 0,6 persen.

Perjanjian perdagangan bebas tersebut diumumkan langsung oleh Perdana Menteri India Narendra Modi pada Selasa sebagai langkah yang mencakup sekitar 25 persen dari produk domestik bruto global. Menurut data Dewan Eropa, kemitraan ini melibatkan sepertiga dari total perdagangan dunia dengan komoditas utama berupa mesin dan bahan kimia.

Sektor perbankan menjadi pemimpin penguatan dengan indeks Stoxx Europe 600 Banks yang melonjak 1,8 persen ke level 374,71 poin, posisi tertinggi sejak 2008. Kenaikan ini dipicu oleh prospek peningkatan akses pasar jasa di India bagi institusi keuangan seperti HSBC, BNP Paribas, dan Banco Santander yang semuanya mencetak rekor harga saham baru.

Di sisi lain, produsen sepatu bot asal Inggris, Dr Martens, mengalami tekanan berat setelah melaporkan penurunan pendapatan sebesar 3,1 persen menjadi £251 juta pada kuartal fiskal ketiga. Penurunan ini terutama disebabkan oleh merosotnya penjualan langsung ke konsumen sebesar 7 persen akibat pengurangan aktivitas promosi.

"Ini adalah tahun perubahan arah, ketika kami melakukan penyesuaian yang diperlukan untuk mempersiapkan pertumbuhan berkelanjutan di masa depan," kata Chief Executive Ije Nwokorie, dalam pernyataan yang menyertai laporan tersebut.

Nwokorie menyatakan bahwa pihak manajemen kini tengah melakukan eksekusi strategi guna meningkatkan efisiensi perusahaan. Penegasan tersebut mencakup upaya menyederhanakan model operasional dan membuka pasar-pasar baru untuk mendukung pertumbuhan merek ke depannya.

"sangat fokus," tambah Ije Nwokorie.

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh kabar dari sektor otomotif setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan rencana kenaikan tarif impor dari Korea Selatan menjadi 25 persen melalui media sosial. Selain itu, pasar global kini menantikan keputusan Federal Reserve yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen.

Artikel terkait

Rekomendasi