Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami penurunan berkelanjutan hingga sesi I perdagangan Selasa, 12 Mei 2026 pukul 10.13 WIB. Berdasarkan data bursa, emiten perbankan ini terkoreksi 1,63 persen ke level Rp 6.050 di tengah tekanan jual investor.
Dilansir dari Investor Daily, sebanyak 25,16 juta lembar saham BBCA telah berpindah tangan dengan frekuensi 7.773 kali dan nilai transaksi mencapai Rp 153,42 miliar. Penurunan ini memperpanjang tren negatif sejak Jumat pekan lalu, di mana pada hari ini tercatat aksi jual bersih asing (net sell) senilai Rp 42,3 miliar.
Performa saham BCA pada perdagangan sebelumnya juga ditutup memerah dengan pelemahan 0,80 persen pada Jumat dan 0,40 persen pada Senin kemarin. Meskipun volume net sell asing menunjukkan tren menipis dibandingkan angka Rp 83,12 miliar pada 7 Mei, tekanan terhadap saham ini tetap signifikan.
Koreksi harga saham BBCA terjadi secara simultan dengan merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ke zona merah. Data Bloomberg menunjukkan rupiah dibuka melemah 75 poin atau 0,43 persen ke level Rp 17.489 per dolar AS pada Selasa pagi pukul 09.05 WIB.
Kondisi pasar global turut memengaruhi sentimen investor seiring penguatan dolar AS sebesar 0,15 persen ke level 98.106. MarketScreener melaporkan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh perhatian pasar terhadap diskusi de-eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan kemajuan berarti.
Situasi geopolitik tersebut telah mendorong kenaikan harga minyak dunia yang memicu kekhawatiran investor mengenai potensi suku bunga tinggi guna meredam inflasi. Selain itu, pasar cenderung bersikap hati-hati menjelang pengumuman rebalancing indeks MSCI yang berpeluang menjadi katalis negatif bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Pihak analis memproyeksikan pergerakan indeks akan mengalami variasi dengan kecenderungan melemah pada perdagangan hari ini.
"IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung melemah dengan kisaran support 6845-6785 dan resist 6965-7025," tulis CGS International Sekuritas Indonesia.
Penurunan IHSG dan saham-saham perbankan besar diperkirakan masih akan dibayangi oleh berlanjutnya aksi jual investor asing di pasar reguler.