Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan hingga menembus level psikologis baru pada perdagangan Selasa sore, 12 Mei 2026. Mata uang Garuda tercatat kian terpuruk di tengah sentimen global yang negatif.
Dilansir dari Suara, data Bloomberg menunjukkan rupiah di pasar spot ditutup melemah signifikan pada level Rp17.529 per dolar AS. Posisi ini memperlihatkan penurunan sebesar 115 poin atau mengalami koreksi 0,66 persen dari penutupan Senin yang berada di angka Rp17.414.
Kondisi serupa terjadi pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI). Otoritas moneter tersebut menetapkan kurs rupiah pada level Rp17.514 per dolar AS, yang sekaligus menjadi rekor terendah baru sepanjang sejarah.
Analisis dari Doo Financial Futures melalui Lukman Leong menyebutkan bahwa tekanan terhadap mata uang regional, termasuk rupiah, berakar dari lonjakan harga minyak mentah dunia. Selain itu, ketidakpastian geopolitik turut memperburuk suasana pasar.
"Rupiah melemah merespons semakin redupnya harapan perdamaian antara AS dan Iran," ujar Lukman.Faktor lain yang memperberat langkah rupiah adalah munculnya sentimen risk-off di pasar ekuitas domestik. Hal ini dipicu oleh antisipasi pelaku pasar terhadap pengumuman MSCI serta data penjualan ritel nasional yang realisasinya di bawah ekspektasi.
Pelaku pasar saat ini cenderung mengambil posisi wait and see sembari menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat. Pertemuan strategis antara Presiden Xi Jinping dan Donald Trump juga menjadi perhatian utama investor global.
"Belum ada katalis positif bagi rupiah, namun penguatan bisa terjadi jika BI melakukan intervensi agresif. Proyeksi berada di rentang Rp17.450 hingga Rp17.600," kata Lukman.Tren pelemahan ini nyatanya melanda mayoritas mata uang di kawasan Asia. Won Korea Selatan menjadi yang paling terdampak dengan depresi sebesar 1,11 persen, disusul oleh peso Filipina yang turun 0,56 persen.
Mata uang lainnya seperti rupee India juga terkoreksi sebesar 0,43 persen, sementara baht Thailand mengalami penurunan 0,39 persen. Kondisi ini mencerminkan tekanan dolar AS yang merata terhadap nilai tukar di berbagai negara berkembang.