Rupiah Menguat ke Rp17.654 Setelah BI Naikkan Suku Bunga Acuan

Rupiah Menguat ke Rp17.654 Setelah BI Naikkan Suku Bunga Acuan
Foto: Ilustrasi Rupiah Menguat ke Rp17.654 Setelah BI Naikkan Suku Bunga Acuan.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berhasil menguat ke level Rp17.654 pada perdagangan Rabu (20/5/2026) setelah sebelumnya sempat mengalami tekanan yang cukup mendalam.

Penguatan mata uang Garuda sebesar 0,29 persen dari posisi hari sebelumnya di level Rp17.706 ini dipicu oleh munculnya sejumlah sentimen positif domestik, seperti dilansir dari Investasi.

Sinyal kuat bagi pasar modal datang dari langkah agresif otoritas moneter yang memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan guna menjaga stabilitas makroekonomi nasional.

ÔÇ£Kenaikan ini menjadi sinyal positif bahwa stabilitas makroekonomi mulai menjadi fokus utama pemerintah dan otoritas moneter. Bahkan langkah ini cukup mengejutkan karena lebih agresif dari ekspektasi pasar yang sebelumnya hanya memperkirakan kenaikan 25 basis poin,ÔÇØ ujarnya Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong.

Selain kebijakan pengetatan moneter dari bank sentral, pergerakan nilai tukar juga didukung oleh arah kebijakan fiskal yang disampaikan dalam pidato Presiden Prabowo Subianto.

ÔÇ£Investor menangkap nada yang lebih hati-hati terhadap fiskal, terutama melalui target defisit yang lebih rendah serta penekanan pada efisiensi anggaran,ÔÇØ jelas Lukman Leong.

Apresiasi pasar terhadap pengurangan alokasi belanja tertentu dinilai mampu meredakan kekhawatiran atas potensi pembengkakan anggaran negara, sehingga memperbesar peluang penguatan lanjutan mata uang domestik.

ÔÇ£Saya berharap masih ada beberapa kenaikan suku bunga ke depan dan komitmen pemerintah terhadap disiplin anggaran. Ini bisa membawa rupiah menguat,ÔÇØ katanya Lukman Leong.

Meskipun dibayangi dinamika global seperti tensi geopolitik, pergerakan dolar AS, dan fluktuasi harga minyak mentah, rupiah diproyeksikan mampu bertahan di bawah level Rp18.000 per dolar AS dalam jangka menengah.

ÔÇ£Sulit menilai level ideal suatu mata uang karena dipengaruhi banyak faktor, mulai dari suku bunga, pertumbuhan ekonomi, investasi asing, inflasi, hingga faktor eksternal seperti geopolitik dan harga komoditas,ÔÇØ tutup Lukman Leong.

Artikel terkait

Rekomendasi