Rupiah Melemah ke Rp 17.598 per Dolar AS Meski Intervensi BI Intens

Rupiah Melemah ke Rp 17.598 per Dolar AS Meski Intervensi BI Intens
Foto: Ilustrasi Rupiah Melemah ke Rp 17.598 per Dolar AS Meski Intervensi BI Intens.

Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada level Rp 17.598 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (15/5/2026) sore. Depresiasi sebesar 0,4 persen ini membawa mata uang Garuda menyentuh level terlemah sepanjang sejarah di tengah akumulasi tekanan pasar global dan kondisi fiskal domestik.

Dilansir dari Nasional, kurs rupiah bahkan sempat menyentuh angka Rp 17.604 per dolar AS pada sesi pembukaan sebelum mengalami sedikit koreksi. Kondisi ini terjadi meski Bank Indonesia (BI) telah melakukan upaya stabilisasi yang agresif melalui berbagai instrumen moneter dalam beberapa bulan terakhir.

Data cadangan devisa menunjukkan penurunan sekitar US$ 10 miliar sepanjang periode Januari hingga April 2026. Selain itu, BI mencatat nilai outstanding Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) telah mencapai Rp 957,91 triliun per akhir April, dengan porsi kepemilikan asing melonjak menjadi 20,06 persen dari sebelumnya 15,60 persen pada akhir 2025.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menjelaskan bahwa pelemahan ini bukan disebabkan oleh kurangnya intervensi bank sentral. Fenomena ini menurutnya merupakan dampak dari kekhawatiran pasar terhadap pelebaran defisit APBN dan daya saing modal Indonesia terhadap negara tetangga.

"Level Rp 17.500ÔÇôRp 17.600 per dolar AS mencerminkan kombinasi tekanan global, fiskal domestik, dan persepsi investor terhadap arah kebijakan ekonomi," ujar Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia.

Yusuf menambahkan bahwa terdapat tiga faktor krusial yang saat ini dipantau ketat oleh para pelaku pasar. Hal tersebut meliputi konsistensi kebijakan pemerintah, arah fiskal pasca-pelebaran defisit anggaran, serta kemampuan Indonesia dalam menarik modal asing jika dibandingkan dengan Malaysia, India, dan Vietnam.

Kepala Ekonom PermataBank, Josua Pardede, menyoroti pentingnya BI dalam menjaga ketersediaan dolar di pasar domestik serta daya tarik aset rupiah. Ia menilai bank sentral kemungkinan akan mengambil langkah pengetatan moneter lebih lanjut jika stabilitas harga terganggu.

"Jika tekanan rupiah berlanjut dan mengancam ekspektasi inflasi, peluang kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) semakin terbuka," ujar Josua Pardede, Kepala Ekonom PermataBank.

Josua memaparkan bahwa kenaikan suku bunga acuan tersebut memiliki risiko terhadap peningkatan biaya dana dan beban pembiayaan surat utang negara. Terkait rencana pengaktifan kembali Bond Stabilization Fund (BSF) oleh pemerintah, ia menekankan perlunya transparansi agar tidak memicu sentimen negatif bagi investor.

Kepemilikan BI pada surat berharga negara (SBN) yang dapat diperdagangkan juga tercatat meningkat menjadi 25,50 persen pada April 2026. Angka tersebut menunjukkan kenaikan signifikan dibandingkan posisi akhir tahun lalu yang berada di level 22,61 persen.

Artikel terkait

Rekomendasi