Nilai tukar rupiah mengalami depresiasi signifikan terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (12/5/2026) di tengah kekhawatiran pasar terhadap pengumuman hasil rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dijadwalkan pada Rabu (13/5/2026).
Mata uang Garuda tercatat melemah 114 poin dan berakhir di posisi Rp 17.528 per dolar AS, merosot dari posisi sebelumnya di level Rp 17.414 per dolar AS sebagaimana dilansir dari Investor Daily. Penurunan ini dipicu oleh potensi ketidakstabilan pasar keuangan domestik pasca-revaluasi indeks global tersebut.
Peneliti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, memberikan peringatan bahwa fluktuasi ini masih mungkin berlanjut. Menurutnya, pelaku pasar perlu mencermati antara sentimen yang sudah diantisipasi dan potensi kejutan baru di pasar modal.
"Kalau hasil rebalancing MSCI besok buruk, tentu bisa menambah tekanan ke pasar keuangan dan rupiah. Tapi penting dibedakan mana yang masih mengejutkan pasar dan mana yang sebenarnya sudah lama diantisipasi," ujar Yusuf Rendy Manilet, Peneliti Core Indonesia.
Yusuf menjelaskan bahwa secara teknis pasar telah melakukan penyesuaian harga terhadap sejumlah saham yang diprediksi akan keluar dari indeks, termasuk saham BREN dan DSSA. Langkah antisipasi ini juga terlihat dari aksi jual investor asing atau outflow yang telah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.
"Jadi kalau hasil hanya sesuai ekspektasi pasar, dampak tambahannya kemungkinan terbatas karena investor sudah mencicil penyesuaian posisi lebih dulu," tutur Yusuf Rendy Manilet, Peneliti Core Indonesia.
Kendati demikian, muncul kekhawatiran terkait potensi adanya kejutan negatif jika penurunan bobot Indonesia dalam indeks MSCI lebih dalam dari perkiraan semula. Kondisi ini dapat memicu tekanan jual dari dana pasif dan ETF yang biasanya baru melakukan penyesuaian menjelang tanggal efektif.
"Itu bisa memicu tekanan lanjutan, terutama karena passive fund dan ETF biasanya baru melakukan rebalancing mendekati tanggal efektif," jelas Yusuf Rendy Manilet, Peneliti Core Indonesia.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyoroti bahwa pelemahan rupiah merupakan dampak simultan dari kondisi geopolitik dan kebutuhan valuta asing di dalam negeri. Ketegangan di Timur Tengah yang mengerek harga minyak menjadi salah satu faktor eksternal utama.
"BI melihat confidence investor asing di aset portfolio terus membaik yang tercermin dari masuknya inflow. Khususnya ke pasar surat berharga negara dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia selama bulan April sebesar Rp 61,6 triliun," terang Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.
Bank Indonesia menyatakan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi cerdas di berbagai lini pasar keuangan. Fokus utama otoritas moneter saat ini adalah mengoptimalkan instrumen operasi moneter guna meredam volatilitas yang berlebihan di pasar spot maupun NDF.