Rupiah Dekati Level Rp 17.600 Lampaui Target Kurs APBN 2026

Rupiah Dekati Level Rp 17.600 Lampaui Target Kurs APBN 2026
Foto: Ilustrasi Rupiah Dekati Level Rp 17.600 Lampaui Target Kurs APBN 2026.

Nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan hingga menyentuh kisaran Rp 17.600 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (15/5/2026) sore. Kondisi ini menyebabkan posisi mata uang Garuda semakin menjauh dari asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang mematok angka Rp 16.500, sebagaimana dilansir dari Detik Finance.

Ekonom Senior INDEF Tauhid Ahmad menjelaskan bahwa level Rp 17.000 kini telah menjadi titik keseimbangan baru. Menurutnya, upaya Bank Indonesia dalam melakukan stabilisasi moneter biasanya memakan waktu lama hanya untuk menguatkan rupiah sebesar Rp 500.

"Saya melihat memang kalau di bawah Rp 17.000 rasanya sudah sulit ya. Ini ada angka kesimbangan baru begitu ya. Ada angka kesimbangan baru Rp 17.000 ya," ujar Tauhid Ahmad, Ekonom Senior INDEF.

Tauhid menambahkan bahwa penguatan rupiah yang paling memungkinkan saat ini berada pada rentang Rp 17.000 hingga Rp 17.200. Namun, pencapaian tersebut memerlukan efektivitas dari tujuh langkah kebijakan yang telah dipersiapkan oleh bank sentral.

"Tapi saya yakin ya masih bisa mendekati angka Rp 17.000 itu memungkinkan apakah Rp 17.100 atau Rp 17.200 begitu, tapi ini lagi-lagi butuh dukungan, 7 langkah yang dilakukan bank sentral itu harus benar-benar efektif," papar Tauhid Ahmad, Ekonom Senior INDEF.

Transparansi mengenai kerangka fiskal hingga akhir tahun juga dinilai penting untuk menjaga keyakinan pasar. Hal ini dianggap sebagai solusi jika pemerintah belum bersedia melakukan perubahan secara resmi terhadap postur APBN 2026.

"Paling tidak pemerintah menyampaikan kerangka fiskal sampai akhir tahun, sehingga para investor, pelaku bisnis dan sebagainya bisa membaca arah penjelasan fiskal dan lebih yakin ya," beber Tauhid Ahmad, Ekonom Senior INDEF.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyoroti bahwa ketegangan geopolitik global menjadi pemicu eksternal utama. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang mengganggu pasokan minyak dunia dinilai memberikan tekanan besar bagi pergerakan rupiah.

"Semua bisa terjadi (penguatan signifikan rupiah terhadap dolar AS) apabila perang Iran-AS berakhir atau selat Hormuz dibuka dan harga minyak turun kembali ke level semula," beber Lukman Leong, Analis Doo Financial Futures.

Selain faktor global, Lukman menyinggung defisit anggaran yang mendekati angka 3 persen dan polemik pasar modal domestik sebagai sentimen negatif. Langkah pengetatan anggaran dan kenaikan suku bunga dianggap perlu segera dilakukan.

"Pemerintah perlu mengurangi anggaran non-esensial dan BI perlu menaikkan suku bunga," tegas Lukman Leong, Analis Doo Financial Futures.

Ekonom Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P Sasmita, menekankan pentingnya pemulihan kredibilitas fiskal untuk menarik kembali modal asing. Ia mengingatkan bahwa pernyataan pejabat publik memiliki dampak instan terhadap persepsi pasar keuangan.

"Pasar keuangan sangat sensitif terhadap persepsi. Kadang satu pernyataan pejabat saja bisa membuat rupiah masuk angin lebih cepat dari yang dibayangkan," ujar Ronny P Sasmita, Ekonom ISEAI.

Yusuf Rendy Manilet dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menambahkan bahwa sinergi antaranggota Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) adalah kunci. Ia menilai komunikasi yang tidak sinkron justru akan memperberat tekanan terhadap nilai tukar.

"Tapi yang paling penting sebenarnya bukan sekadar intervensi, melainkan menjaga kepercayaan pasar. Investor ingin melihat pemerintah, BI, and otoritas keuangan bicara dalam arah yang sama. Kalau komunikasinya terlihat tidak sinkron atau kebijakannya berubah-ubah, tekanan ke rupiah biasanya cepat membesar," tegas Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia.

Pemerintah juga diminta untuk serius menangani ketergantungan ekonomi pada impor bahan baku dan energi. Yusuf menyarankan penguatan industri dalam negeri, khususnya di sektor kimia dasar dan farmasi, sebagai langkah jangka panjang untuk menjaga stabilitas mata uang.

"Karena itu pemerintah perlu serius memperkuat industri dalam negeri, terutama sektor-sektor yang selama ini membuat impor kita besar, seperti farmasi, kimia dasar, dan komponen industri," papar Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia.

Artikel terkait

Rekomendasi