Nilai tukar rupiah mengalami tekanan hebat hingga menyentuh angka Rp 17.600 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (15/5/2026). Dilansir dari Money, pelemahan mata uang garuda ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta tren suku bunga tinggi di pasar global.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi faktor utama yang menekan posisi rupiah. Investor saat ini cenderung memburu aset aman atau safe haven di tengah ketidakpastian situasi internasional.
"Kondisi eksternal membuat dollar mengalami penguatan, kemudian harga minyak juga naik dan berdampak terhadap pelemahan mata rupiah," ujar Ibrahim Assuaibi, Analis pasar uang.
Situasi di Selat Hormuz yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat menjadi perhatian utama pelaku pasar setelah adanya latihan militer besar-besaran di kawasan tersebut. Selain itu, insiden tenggelamnya kapal kargo di perairan Oman serta penahanan sejumlah kapal oleh Iran memperparah kekhawatiran terkait keamanan jalur distribusi energi dunia.
Data dari Reuters menunjukkan indeks dolar AS berada pada posisi 98,98 pada Jumat, yang merupakan level tertinggi dalam kurun waktu dua minggu terakhir. Indeks tersebut diprediksi menguat lebih dari 1 persen secara mingguan, mencatatkan kenaikan terbesar sejak awal Maret 2026.
Faktor lain yang memperkokoh posisi mata uang Paman Sam adalah ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di level tinggi sepanjang tahun ini.
"Ada kemungkinan besar di tahun 2026 ini, bank sentral Amerika tidak akan menurunkan suku bunga. Ini mengindikasikan bahwa mempertahankan suku bunga lebih tinggi lagi ini akan berdampak terhadap penguatan indeks dollar, apalagi dibarengi dengan perang dagang nanti," kata Ibrahim Assuaibi.
Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah semakin besar lantaran pasar keuangan dalam negeri sedang menjalani libur panjang memperingati Hari Kenaikan Yesus Kristus. Kondisi ini membuat intervensi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) hanya terbatas pada pasar internasional.
"Intervensi di pasar internasional itu tidak terlalu signifikan. Karena kita lihat bahwa liburnya pasar di Indonesia ini membuat tekanan yang begitu besar secara eksternal, sehingga membuat transaksi valuta asing di pasar internasional itu begitu luar biasa dampaknya," ucap Ibrahim Assuaibi.
Meski mendapatkan tekanan luar biasa, rupiah sempat menunjukkan sedikit penguatan ke posisi Rp 17.596 per dolar AS pada Jumat sore pukul 15.00 WIB. Ibrahim menilai langkah intervensi yang diambil otoritas moneter sudah cukup baik di tengah absennya pasar domestik.
"Ini artinya BI benar-benar melakukan intervensi di pasar internasional. Mungkin nanti kita akan berbicara berbeda pada saat pembukaan pasar di hari Senin," katanya.
Beban terhadap rupiah juga ditambah oleh tingginya volume impor minyak mentah Indonesia, di mana 85 persen di antaranya dialokasikan untuk kebutuhan subsidi bahan bakar minyak (BBM). Lonjakan harga minyak dunia secara langsung memberikan tekanan pada anggaran pendapatan dan belanja negara.
"Permasalahan anggaran yang cukup besar untuk subsidi minyak mentah ini salah satu penyebab pelemahan rupiah,ÔÇØ ucap Ibrahim Assuaibi.
Sebagai langkah stabilisasi di masa depan, Bank Indonesia diprediksi akan mengambil kebijakan moneter yang lebih ketat dengan menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat.
"Ada kemungkinan besar Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga 25 sampai 50 basis point untuk menstabilkan rupiah," katanya.
Walaupun berada dalam situasi penuh tantangan, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup tangguh. Hal ini didukung oleh struktur kepemilikan obligasi pemerintah yang masih didominasi oleh para investor dalam negeri.