Rupiah Diprediksi Melemah hingga Rp 17.850 per Dolar AS

Rupiah Diprediksi Melemah hingga Rp 17.850 per Dolar AS
Foto: Ilustrasi Rupiah Diprediksi Melemah hingga Rp 17.850 per Dolar AS.

Nilai tukar rupiah diproyeksikan melanjutkan tren penurunan pada pekan depan hingga berpotensi menyentuh level Rp 17.850 per dolar Amerika Serikat (AS). Tekanan terhadap mata uang garuda ini dipicu oleh faktor eksternal yang belum mereda serta penyusutan cadangan devisa negara, Minggu (17/5/2026).

Pelemahan nilai tukar mata uang Indonesia ini diprediksi oleh pengamat pasar komoditas, Ibrahim Assuaibi, dilansir dari Investor Daily. Pergerakan kurs rupiah bahkan diperkirakan dapat mencetak rekor baru dalam periode perdagangan ke depan.

"Ya bisa saja di Rp 17.800-an, bisa saja di Rp 17.850," ungkap Ibrahim.

Kondisi pasar pada bulan Mei ini dinilai masih rentan terhadap fluktuasi global. Ibrahim menambahkan bahwa jika sentimen negatif dari luar negeri terus menekan pasar keuangan, posisi rupiah berisiko merosot lebih dalam.

"Dalam perdagangan di bulan Mei ini kemungkinan besar Rp 18.000 akan tembus," kata dia.

Tekanan geopolitik global juga disinyalir menjadi faktor penentu pergerakan mata uang dunia. Penutupan jalur perdagangan internasional dan lonjakan harga komoditas global dikhawatirkan memicu respons agresif dari bank sentral Amerika Serikat.

"Ada ketakutan bahwa penguatan indeks dolar yang menguatnya harga minyak mentah dunia, ini akan berdampak terhadap bank sentral global, kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga secara berjamaah," pungkas Ibrahim.

Pada penutupan perdagangan Sabtu (16/5/2026) pagi, rupiah berada di posisi Rp 17.465 per dolar AS, atau melemah 0,57% dari pekan sebelumnya. Sebelumnya, mata uang lokal sempat menyentuh level tertinggi di Rp 17.529 dan Rp 17.537,5 per dolar AS pada Selasa (12/5/2026) dan Rabu (13/5/2026).

Di sisi lain, penurunan cadangan devisa Indonesia sebesar US$ 2 miliar menjadi US$ 146,2 miliar pada April 2026 mempersempit ruang intervensi Bank Indonesia (BI). Kondisi ini memicu prediksi bahwa bank sentral akan mengambil langkah penyesuaian kebijakan moneter.

"Depresiasi rupiah akan menjadi perhatian bagi bank sentral, dengan cadangan devisa yang juga melemah dalam beberapa bulan terakhir," ungkap Ekonom Senior DBS, Radhika Rao.

Faktor musiman seperti repatriasi dividen serta tingginya permintaan dolar AS dan kenaikan harga minyak menjadi beban tambahan bagi stabilitas kurs. Situasi tersebut diproyeksikan akan memengaruhi laju inflasi domestik.

"Skenario dasar kami adalah BI akan mempertahankan suku bunga pada kuartal ini, namun kami melihat kemungkinan yang semakin besar untuk kenaikan suku bunga yang terukur guna mempertahankan nilai tukar pada kuartal kedua," ujar Radhika.

Artikel terkait

Rekomendasi