Bank Indonesia Berpotensi Naikkan BI-Rate Menjadi Lima Puluh Basis Poin

Bank Indonesia Berpotensi Naikkan BI-Rate Menjadi Lima Puluh Basis Poin
Foto: Ilustrasi Bank Indonesia Berpotensi Naikkan BI-Rate Menjadi Lima Puluh Basis Poin.

Bank Indonesia diperkirakan berpeluang menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate pada Juni 2026 mendatang untuk meredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang terus melemah, dilansir dari Investor Daily pada Minggu (17/5/2026).

Kenaikan suku bunga acuan tersebut dinilai menjadi langkah realistis demi menjaga stabilitas mata uang di tengah penguatan dolar Amerika Serikat, lonjakan harga minyak mentah global, serta eskalasi ketegangan geopolitik dunia.

Analis mata uang, Ibrahim Assuaibi, memproeksikan bahwa bank sentral berpotensi menaikkan BI-Rate di kisaran 25 basis poin hingga 50 basis poin guna mengatasi kombinasi tekanan eksternal dan domestik saat ini.

"Bank Sentral Indonesia kemungkinan dalam pertemuan di bulan Juni ini akan menaikkan suku bunga," kata Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang.

Ibrahim menilai lonjakan harga minyak mentah dipicu oleh eskalasi ketegangan di Selat Hormuz setelah militer Iran menggelar latihan perang berskala besar di kawasan tersebut yang memicu kekhawatiran geopolitik di Timur Tengah.

"Bisa saja 25 basis point (bps) sampai 50 basis point. Tujuannya adalah untuk menstabilkan mata uang rupiah," ujar Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang.

Kondisi eksternal tersebut diperparah oleh tekanan inflasi di Amerika Serikat yang berpotensi membuat The Fed mempertahankan tingkat suku bunga tinggi sepanjang tahun ini sehingga memperkuat indeks dolar.

"Hari ini pun juga dolar menguat cukup tajam, kemudian harga minyak pun juga naik dan berdampak terhadap kelemahan mata uang rupiah," ucap Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang.

Berdasarkan data Trading Economics per Jumat (15/5/2025), harga minyak West Texas Intermediate berada di posisi 105,42 dolar AS per barel, sementara minyak Brent menembus 109,26 dolar AS per barel akibat ketegangan global.

"Pasca Iran melakukan latihan perang secara besar-besaran di Selat Hormuz, ini membuat ketegangan bagi Amerika, kemudian Iran, dan negara-negara di Timur Tengah," kata Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang.

Faktor domestik ikut memperberat langkah rupiah karena tingginya kebutuhan impor minyak mentah Indonesia yang mayoritas dialokasikan untuk pasokan bahan bakar minyak bersubsidi bagi masyarakat.

"Ada kemungkinan besar di tahun 2026 Bank Sentral Amerika tidak akan menurunkan suku bunga," ujar Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang.

Kenaikan harga komoditas energi tersebut dipastikan akan memperbesar pasokan dolar AS yang keluar untuk membiayai impor sekaligus menambah beban anggaran belanja subsidi energi pemerintah.

"Permasalahan anggaran yang cukup besar untuk melakukan subsidi terhadap minyak mentah ini salah satu penyebab pelemahan mata uang rupiah," kata Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang.

Kendati demikian, langkah menaikkan suku bunga dipandang cukup dilematis bagi Bank Indonesia karena instansi tersebut juga memikul tanggung jawab besar untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi domestik.

"Dari 1,5 juta barel minyak mentah yang diimpor, 85% adalah untuk subsidi bahan bakar minyak untuk masyarakat," jelas Ibrahim Assuaibi, Analis Mata U.g.

Guna meredam pelemahan lebih lanjut, bank sentral terpantau terus mengintensifkan intervensi pasar setelah rupiah di pasar offshore sempat menyentuh level Rp17.613 per dolar AS berdasarkan data Bloomberg.

"Dalam kondisi saat ini sangat sulit Bank Indonesia apakah tetap mempertahankan suku bunga atau menaikkan suku bunga," ujarnya Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang.

Intervensi berkala di pasar keuangan tersebut sempat mendorong rupiah menguat tipis ke bawah level Rp17.600 per dolar AS pada perdagangan siang hari.

"Bank Indonesia terus melakukan intervensi ya kita lihat bahwa tadi pagi di Rp 17.600-an lebih, kemudian sekarang sudah kembali di bawah Rp 17.600," ungkap Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang.

Tekanan terhadap mata uang Garuda diproyeksikan masih membayangi pasar keuangan domestik dalam beberapa waktu ke depan apabila gejolak perekonomian global dan tensi geopolitik belum mereda.

"Dalam perdagangan di bulan Mei ini kemungkinan besar Rp 18.000 akan tembus," tandas Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang.

Artikel terkait

Rekomendasi