Bank Indonesia melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada kuartal I 2026 tercatat sebesar US$ 437,9 miliar, mengalami penurunan dibandingkan dengan posisi pada bulan Februari 2026, seperti dilansir dari Nasional pada Senin (18/5/2026).
Secara tahunan, jumlah tersebut menunjukkan peningkatan dari kuartal I 2025 yang sebesar US$ 195,5 miliar atau mengalami pertumbuhan 121,6% yoy. Struktur utang ini dipengaruhi oleh dinamika pada sektor publik dan swasta.
ÔÇ£Perkembangan posisi ULN tersebut dipengaruhi oleh ULN sektor publik dan ULN sektor swasta. ULN pemerintah tumbuh lebih rendah, dan ULN swasta menurun,ÔÇØ ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Denny Ramdan dalam keterangan resminya, Senin (18/5/2026).
Posisi ULN pemerintah tercatat sebesar US$ 214,7 miliar pada kuartal I 2026, dengan pertumbuhan 3,8% qtq yang lebih rendah dari kuartal sebelumnya sebesar 5,5% qtq. Aliran modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) internasional menjadi pengaruh utama perkembangan ini.
Pemerintah mengelola ULN secara cermat untuk membiayai sektor-sektor prioritas APBN. Porsi terbesar digunakan untuk sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (22,1%), diikuti administrasi pemerintahan (20,2%), jasa pendidikan (16,2%), konstruksi (11,5%), serta transportasi dan pergudangan (8,5%).
Di sisi lain, ULN swasta menyusut menjadi US$ 191,4 miliar dari US$ 194,2 miliar pada kuartal IV 2025, atau terkontraksi 1,8% qtq. Penurunan terjadi pada kelompok lembaga keuangan sebesar 3,6% qtq dan perusahaan nonkeuangan sebesar 1,3% qtq.
Sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan menyumbang 80,4% dari total ULN swasta. Baik utang pemerintah maupun swasta tetap didominasi oleh utang jangka panjang masing-masing sebesar 99,99% dan 76,6%.
Kesehatan struktur ULN nasional tercermin dari penurunan rasio terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi 29,5% dari 30,0% pada kuartal sebelumnya. Bank Indonesia menilai kondisi ini tetap terjaga melalui penerapan prinsip kehati-hatian.
"Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN," ujar Denny.
Peran instrumen pembiayaan ini ditegaskan akan terus dioptimalkan secara berkelanjutan guna mendukung pembangunan ekonomi nasional sembari meminimalkan risiko stabilitas perekonomian.