Mendikdasmen: Murid Harus Punya Ruang Didengar, Aturan Terbaru Guru 2026

Mendikdasmen: Murid Harus Punya Ruang Didengar, Aturan Terbaru Guru 2026
Foto: Mendikdasmen: Murid Harus Punya Ruang Didengar, Aturan Terbaru Guru 2026. (Illustration by Pexels)

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menekankan pentingnya memberikan kesempatan kepada murid untuk dapat berekspresi dan didengar. Dalam dunia pendidikan saat ini, ilmu tidak hanya diperoleh melalui kelas atau buku. Banyak media lain yang memberikan pembelajaran yang relevan dalam kehidupan sehari-hari.

Dua Strategi Guru untuk Menciptakan Kelas Aman dan Nyaman

Menteri Abdul Mu'ti menyoroti pesan dari film "Freedom Writers". Film ini menggambarkan perjuangan seorang guru muda yang ditugaskan mengajar kelas dengan siswa bermasalah di Amerika Serikat. Di film ini, murid melakukan perundungan baik antar siswa maupun terhadap guru.

Dalam situasi tersebut, guru tersebut mencoba berbagai cara agar proses belajar mengajar berjalan lancar. Ia akhirnya menerapkan dua cara yang bisa diterapkan oleh guru masa kini:

Dua langkah efektif yang bisa dicontoh:
  1. Membuat Jurnal
  2. Langkah pertama yang diterapkan adalah meminta murid menulis jurnal yang memuat pemikiran dan perasaan mereka sehari-hari. "Dia meminta murid untuk menulis jurnal tentang apa yang ada dalam pikirannya, apa yang ada dalam hatinya, apa yang dia inginkan setiap hari. Mereka diminta menulis bebas," ungkapnya dalam acara Seminar Budaya Sekolah Aman dan Nyaman di Jakarta, Senin (25/5/2026).

    Jurnal tersebut disimpan di loker masing-masing murid. Guru hanya membaca jurnal jika diberikan izin oleh murid. Dengan cara ini, guru lebih memahami perilaku menyimpang murid dan mengetahui ekspektasi mereka dari proses belajar.

  3. Membuat Aturan di Kelas
  4. Setelah memahami kondisi murid, aturan kelas dibuat untuk mengizinkan siswa berbicara bebas namun melarang kontak fisik atau kekerasan. "Dari situ mulai muncul kata-kata khas anak-anak dari keluarga dengan masalah sosial," jelasnya.

Mencermati film ini, Menteri Mu'ti menyatakan anak bisa bermasalah karena kekurangan ruang berekspresi. Ketika guru memberikan kesempatan ini, perilaku anak berubah. Siswa yang dilabeli bermasalah seringkali tidak memiliki ruang tersebut sehingga berperilaku menyimpang.

"Selama ini mereka tidak punya ruang untuk berekspresi, dan ruang itu tidak terbuka. Pengekspresian diri bisa berujung sanksi atau label yang membuat mereka tidak nyaman. Label ini seringkali datang atas nama pendidikan," ujar Menteri Mu'ti.

Krisis ruang ekspresi ini dapat diselesaikan dengan membuka ruang aman dan nyaman bagi murid, sehingga mereka merasa didengar. Meskipun sulit, aturan kelas yang dibuat dapat membantu menjadikan murid sebagai anak-anak hebat, seperti dalam film "Freedom Writers".

Nantinya, Kemendikdasmen menghadirkan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 mengenai Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Aturan ini menggunakan kata 'budaya' sebagai penamaan kebijakannya untuk menyesuaikan tujuan pendidikan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas).

"Dalam UU Sisdiknas disebutkan bahwa kita harus membangun budaya dan karakter yang meliputi mindset, nilai-nilai, dan perilaku yang tidak hanya bersifat individu namun juga kolektif," jelas Mu'ti.

Selain sekolah, Permendikdasmen 6/2026 membahas komunikasi antara orang tua dan guru, serta interaksi antara sekolah dan masyarakat. Kebijakan ini menggunakan pendekatan humanis, yang menekankan pada memanusiakan dan memuliakan siswa sesuai dengan keadaan mereka masing-masing.

Artikel terkait

Rekomendasi