Langkah timnas U17 Indonesia di ajang ASEAN U17 Championship 2026 resmi terhenti setelah bermain imbang tanpa gol melawan Vietnam di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Jawa Timur, pada Minggu (19/4/2026) malam. Hasil tersebut memaksa Indonesia menyudahi kompetisi tanpa tiket ke semifinal.
Kegagalan ini membuat skuat asuhan Kurniawan Dwi Yulianto harus puas tertahan di klasemen Grup A dan tidak dapat melanjutkan perjalanan ke babak gugur, sebagaimana dilansir dari Bola. Pengamat sepak bola nasional, Gita Suwondo, memberikan analisis mendalam terkait performa Garuda Muda dalam laga krusial tersebut.
"Karena kalau dilihat dan diakui, kita ini kalah kelas dari Vietnam. Lawan yang main dengan tidak terlalu urgensi," kata Gita Suwondo, Pengamat Sepak Bola Nasional.
Gita menilai lawan bermain dengan pendekatan yang cenderung santai karena sudah merasa aman dengan posisi mereka di klasemen sementara.
"Terlihat jelas mempertahankan posisi mereka sebagai juara grup kalaupun tetap di atas kalau melihat situasi dari pertandingan Malaysia lawan Timor Leste jadi bermain santai dan tidak ada pressure," kata Gita Suwondo, Pengamat Sepak Bola Nasional.
Evaluasi teknis juga menyoroti bagaimana timnas U17 Indonesia kesulitan merespons gaya bermain Vietnam yang disiplin. Masalah transisi dari bertahan ke menyerang dianggap menjadi penghambat utama bagi efektivitas permainan Indonesia.
"Begitu Vietnam kehilangan bola, transisi pernyerangan lambat banget. Sering kali saat kita menyerang kalah jumlah pemain dengan Vietnam yang cepat mundur ke belakang dan disiplin di pertahanan mereka," kata Gita Suwondo, Pengamat Sepak Bola Nasional.
Ketidakmampuan membongkar pertahanan lawan membuat skuat Indonesia justru sering kali terancam oleh serangan balik cepat yang dilakukan para pemain Vietnam.
"Timnas u17 Indonesia tidak bisa membongkar bahkan berkali-kali pada saat Vietnam melakukan transisi menyerang dari bertahan langsung merepotkan," kata Gita Suwondo, Pengamat Sepak Bola Nasional.
Gita menambahkan bahwa meskipun penjaga gawang Abdillah tidak banyak bekerja keras di babak kedua, ancaman Vietnam tetap terasa nyata di awal pertandingan melalui beberapa penyelamatan penting di menit ketujuh.
"Menit ke-7 penjaga gawang sampai harus melakukan penyelamatan kemudian ada dua kali lagi. Memang tidak ada penyelamatan yang dilakukan Abdillah di babak kedua tapi lebih ke Vietnam juga menunggu karena tidak banyak melakukan serangan-serangan," kata Gita Suwondo, Pengamat Sepak Bola Nasional.
Strategi serangan balik Vietnam dinilai tidak terlalu agresif karena tim lawan hanya fokus untuk mengamankan poin guna menjaga posisi mereka sebagai pemimpin grup.
"Jelas pada saat mereka melakukan serangan balik tidak merepotkan mungkin, sebab lawan tidak melihat kepentingan untuk bermain cepat untuk bisa melakukan pressing ke pertahanan Indonesia karena toh hanya mempertahankan posisi," kata Gita Suwondo, Pengamat Sepak Bola Nasional.
Persoalan di sepertiga akhir lapangan kembali muncul, mengulang kesulitan yang dialami saat menghadapi Malaysia pada laga penyisihan sebelumnya di bawah arahan Kurniawan Dwi Yulianto.
"Bingung kaya mau berbuat apa di sepertiga pertahanan lawan, di final third penyerangan Indonesia. Hal ini membuat kita seperti menggantung sehingga tidak ada shot on target signifikan yang bisa merepotkan penjaga gawang Vietnam," kata Gita Suwondo, Pengamat Sepak Bola Nasional.
Performa ini menjadi catatan serius mengingat Indonesia akan menghadapi tantangan lebih berat di Piala Asia U17 2026 melawan tim-tim besar seperti Jepang, Qatar, dan China.
"Ada Jepang yang jelas di kelompok apapun mereka adalah kekuatan Asia, kemudian Qatar ini sama saja tim-tim timur tengah yang selalu merepotkan dan China yang saat ujicoba beberapa waktu lalu mereka mengalahkan kita 5-0 dan 3-2 dengan tim yang nyaris sama dengan tim yang dipegang oleh Kurniawan ini," kata Gita Suwondo, Pengamat Sepak Bola Nasional.