Konflik Timur Tengah Memperburuk Prospek Pertumbuhan Ekonomi Global

Konflik Timur Tengah Memperburuk Prospek Pertumbuhan Ekonomi Global
Foto: Ilustrasi Konflik Timur Tengah Memperburuk Prospek Pertumbuhan Ekonomi Global.

Konflik berkepanjangan di Timur Tengah diperkirakan memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi global yang dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia serta kenaikan harga komoditas lainnya. Situasi tersebut mendorong Bank Indonesia (BI) memproyeksikan penurunan pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini menjadi sebesar 3 persen, sementara inflasi global diperkirakan melonjak hingga mencapai 4,3 persen.

Proyeksi penurunan tersebut disampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, dalam sebuah konferensi pers virtual pada Rabu (20/5/2026), sebagaimana dilansir dari Detik Finance.

"Prospek ekonomi dunia tahun 2026 diperkirakan akan lebih rendah menjadi 3%. Sementara tekanan inflasi global meningkat menjadi sekitar 4,3%," ungkap Perry.

Dampak dari ketegangan geopolitik ini juga memicu sejumlah bank sentral dunia untuk menerapkan kebijakan moneter yang lebih ketat. Perry menjelaskan bahwa Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve diperkirakan tidak akan menurunkan suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR) pada tahun ini.

"Bahkan juga terdapat kemungkinan akan naik pada 2027 dengan inflasi yang masih tinggi di Amerika Serikat," jelas Perry.

Kondisi pasar keuangan global turut bergejolak dengan kenaikan imbal hasil atau yield US Treasury yang menyentuh angka 4,66 persen untuk tenor 10 tahun dan 4,11 persen untuk tenor 2 tahun. Kenaikan yield ini diperkirakan masih terus berlanjut akibat defisit fiskal yang semakin membesar.

Tekanan geopolitik dan moneter tersebut akhirnya mendorong penarikan modal asing dari negara-negara berkembang (Emerging Market) menuju negara yang memiliki imbal hasil lebih aman. Pergerakan modal ini memperkuat indeks dolar AS yang berdampak pada pelemahan nilai tukar berbagai mata uang dunia, termasuk rupiah.

"Terus memburuknya prospek perekonomian dan pasar keuangan global mengharuskan penguatan respons dan sinergi kebijakan ekonomi nasional khususnya kebijakan fiskal dan moneter untuk memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi domestik," pungkas Perry.

Artikel terkait

Rekomendasi