Ketidakpastian geopolitik global yang meningkat, terutama memanasnya hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, berdampak signifikan pada penguatan dolar AS. Lonjakan tensi ini dipicu oleh aktivitas latihan militer besar-besaran oleh Iran di wilayah strategis Selat Hormuz.
Kawasan tersebut merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia, sehingga situasi ini langsung mendorong kenaikan harga minyak mentah. Dampaknya, para investor mulai beralih memburu aset aman atau safe haven seperti mata uang dolar AS.
Dilansir dari Investasi, pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengungkapkan bahwa kondisi eksternal saat ini memberikan tekanan besar bagi mata uang Garuda. Selain konflik AS-Iran, pasar juga tengah mencermati dinamika di Timur Tengah.
Terdapat dugaan adanya peningkatan kerja sama antara Israel dengan beberapa negara di kawasan tersebut, seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Rentetan insiden di perairan Oman juga memperkeruh suasana di pasar global.
"Secara eksternal, kondisi geopolitik membuat dolar AS menguat, harga minyak naik, dan rupiah mengalami pelemahan," ujar Ibrahim pada Jumat (15/5/2026).
Ibrahim menilai kenaikan harga energi ini berpotensi menjaga inflasi di Amerika Serikat tetap berada di level tinggi. Kondisi tersebut membuka peluang bagi Bank Sentral AS, Federal Reserve, untuk mempertahankan suku bunga acuan tinggi dalam waktu lama.
Sentimen penguatan dolar AS semakin kokoh di tengah ketidakpastian perang dagang yang melibatkan AS dan China. Pertemuan Presiden Donald Trump dengan Presiden Xi Jinping yang membahas isu Taiwan dan perdagangan turut menjadi sorotan pelaku pasar.
Dari sisi domestik, pelemahan rupiah diperparah oleh kondisi pasar yang sedang libur panjang. Hal ini membuat Bank Indonesia (BI) hanya dapat melakukan langkah stabilitas melalui pasar internasional atau offshore.
Intervensi di pasar luar negeri tersebut dilakukan secara intensif guna menahan laju depresiasi nilai tukar. Tercatat, rupiah sempat menembus level Rp 17.600 per dolar AS sebelum akhirnya berhasil ditarik kembali ke bawah level tersebut.
"Bank Indonesia benar-benar melakukan intervensi di pasar internasional untuk menjaga stabilitas rupiah," kata Ibrahim.
Selain faktor geopolitik, tingginya kebutuhan dolar AS untuk impor minyak mentah guna subsidi BBM juga menekan nilai tukar. Kenaikan harga minyak dunia secara otomatis meningkatkan beban devisa untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.
Ibrahim memproyeksikan rupiah berisiko menembus angka Rp 18.000 per dolar AS jika tekanan global tidak mereda. Bahkan, ia menyebut adanya potensi pelemahan lebih dalam hingga Rp 22.000 per dolar AS jika level psikologis tersebut terlampaui pada bulan Mei.
Guna merespons kondisi ini, Bank Indonesia kemungkinan akan menaikkan suku bunga acuan dalam pertemuan mendatang. Langkah ini dipandang perlu diambil demi menjaga stabilitas nilai tukar dari gempuran sentimen eksternal.
Meskipun tekanan cukup berat, fundamental ekonomi nasional diklaim masih memiliki ketahanan. Kekuatan tersebut terlihat dari besarnya porsi kepemilikan investor domestik pada instrumen obligasi pemerintah saat ini.