Nilai jual logam mulia PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami kenaikan signifikan pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Suara melalui situs Logam Mulia, harga emas ukuran satu gram kini dipatok sebesar Rp2.859.000.
Angka tersebut menunjukkan lonjakan sebesar Rp40.000 jika dibandingkan dengan posisi pada Senin, 11 Mei 2026. Kenaikan tajam ini juga diikuti oleh harga pembelian kembali atau buyback emas Antam yang meroket pada hari yang sama.
Harga buyback tercatat berada di level Rp2.676.000 per gram, setelah mengalami kenaikan hingga Rp50.000 dari harga hari sebelumnya. Penting untuk diperhatikan bahwa harga-harga tersebut merupakan nilai dasar yang belum termasuk komponen pajak.
Sesuai dengan ketentuan PMK Nomor 34/OMK.19/2017.3, transaksi emas batangan dikenakan PPh sebesar 0,45 persen bagi pemilik NPWP. Sementara itu, pembeli yang tidak memiliki NPWP akan dibebankan pajak penghasilan yang lebih tinggi yakni sebesar 0,9 persen.
| Ukuran Emas | Harga Setelah Pajak (Rp) |
|---|---|
| 1.483.199 | 2.866.148 |
| 5.672.145 | 8.483.155 |
| 14.105.175 | 28.155.213 |
| 70.262.218 | 140.445.238 |
| 280.812.280 | 701.765.038 |
| 1.403.319.550 | 2.806.599.000 |
Faktor Pemicu Kenaikan Harga Emas Dunia
Penguatan harga emas domestik sejalan dengan kondisi pasar global yang sedang memanas. Di pasar spot Asia, harga emas (XAU/USD) terpantau diperdagangkan pada kisaran 4.750 dolar AS per ons troi akibat ketidakpastian geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.
Investor cenderung beralih ke aset aman atau safe haven setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal perdamaian dari pihak Iran. Trump menegaskan bahwa tawaran tersebut tidak dapat diterima, yang memicu kekhawatiran akan terjadinya eskalasi konflik berkepanjangan.
Kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik ini juga menjaga harga minyak mentah tetap berada di level tinggi. Meski demikian, pernyataan terbaru dari Trump mengindikasikan bahwa peluang gencatan senjata masih berada dalam posisi yang sangat kritis bagi kedua negara.
Selain faktor politik, pelaku pasar saat ini tengah mengamati rilis data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat untuk periode April. Data ini diprediksi akan menunjukkan kenaikan inflasi tahunan menjadi 3,7 persen dari sebelumnya 3,3 persen pada Maret.
Kenaikan inflasi tersebut diperkirakan didorong oleh lonjakan harga energi di pasar global. Sementara itu, inflasi inti AS juga diproyeksikan merangkak naik ke angka 2,7 persen dibandingkan periode sebelumnya yang berada di level 2,6 persen.
Kondisi inflasi yang terus meningkat memunculkan spekulasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Hal ini berpotensi memperkuat posisi dolar AS yang biasanya memberikan tekanan balik terhadap laju kenaikan harga emas.
"Terdapat aksi beli dengan harga murah dan penyesuaian posisi menjelang data inflasi AS minggu ini," kata analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff.