Penempatan dana perbankan pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) terus mencatatkan pertumbuhan signifikan hingga empat bulan pertama tahun 2026. Tren kenaikan ini terjadi saat perekonomian global masih diselimuti ketidakpastian dan permintaan kredit domestik belum sepenuhnya pulih.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) yang dikutip dari Keuangan, total kepemilikan perbankan di instrumen SRBI per April 2026 telah menembus angka Rp 673,90 triliun. Angka tersebut mencerminkan lonjakan sebesar 22,73% secara tahunan atau year on year (yoy) jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.
Jika dihitung dari posisi awal tahun 2026 yang tercatat sebesar Rp 589,42 triliun, instrumen moneter ini mengalami pertumbuhan nominal sebesar Rp 59,12 triliun. Peningkatan ini mencerminkan dinamika strategi pengelolaan likuiditas di industri perbankan nasional.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman menilai lonjakan penempatan dana bank di SRBI menunjukkan perbankan saat ini cenderung defensif.
Menurut analisisnya, SRBI menjadi instrumen yang sangat memikat bagi industri perbankan karena menawarkan tingkat imbal hasil yang kompetitif dengan tingkat risiko yang relatif minim. Pilihan ini dinilai lebih aman dibandingkan dengan memaksakan ekspansi pembiayaan di tengah situasi ekonomi yang belum stabil.
ÔÇ£Persoalan utama saat ini bukan semata likuiditas, tetapi lemahnya confidence dunia usaha untuk berekspansi,ÔÇØ ujar Rizal kepada Keuangan, Senin (18/5/2026).
Rizal memaparkan bahwa penyaluran kredit perbankan sebenarnya masih berjalan, namun pertumbuhannya lebih banyak digerakkan oleh korporasi BUMN dan beberapa sektor tertentu. Di sisi lain, pelaku usaha dari sektor swasta masih memilih untuk bersikap wait and see akibat tekanan daya beli masyarakat, fluktuasi nilai tukar rupiah, serta gejolak pasar global.
Ia juga mengingatkan konsekuensi jangka panjang apabila tren penumpukan dana di SRBI ini terus berlanjut tanpa henti. Menurutnya, fungsi intermediasi utama perbankan berisiko mengalami penurunan performa karena dana pihak ketiga lebih banyak mengendap di instrumen moneter ketimbang mengalir ke sektor riil.
ÔÇ£Dalam jangka pendek strategi ini memang membantu menjaga stabilitas rupiah dan pasar keuangan, tetapi dalam jangka panjang bisa menahan investasi, ekspansi usaha, dan penciptaan lapangan kerja,ÔÇØ katanya.
Rizal memproyeksikan bahwa minat perbankan terhadap SRBI akan tetap tinggi hingga penghujung tahun, terutama selama volatilitas rupiah belum sepenuhnya mereda dan kebijakan suku bunga global masih berada dalam tren ketat.
ÔÇ£Selama instrumen moneter memberikan risk-return yang lebih menarik dibanding risiko kredit, perbankan akan tetap berhati-hati dalam ekspansi pembiayaan,ÔÇØ ujarnya.
Direktur Utama PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank) Kunardy Lie mengonfirmasi bahwa perseroan turut meningkatkan porsi penempatan dana di SRBI, selaras dengan dinamika yang terjadi di pasar keuangan saat ini.
Langkah strategis tersebut diambil demi mengamankan ketersediaan likuiditas internal sekaligus mengoptimalkan perolehan pendapatan bunga bersih di tengah tekanan ekonomi global yang intens.
ÔÇ£Hal ini didorong oleh kebijakan The Fed yang cenderung hawkish, tingginya yield US Treasury, serta tensi geopolitik di Timur Tengah dan Asia,ÔÇØ ujar Kunardy.
KB Bank memperkirakan porsi kepemilikan SRBI ke depan akan dipertahankan sebagai cadangan likuiditas darurat sekaligus penopang profitabilitas, sembari memantau pemulihan permintaan kredit dari sektor riil.
Selain memanfaatkan instrumen SRBI, manajemen KB Bank juga melirik instrumen alternatif lain seperti excess reserves Bank Indonesia dalam menata arus kas harian mereka.
Meskipun demikian, Kunardy menegaskan bahwa penataan portofolio dana tersebut akan selalu diselaraskan dengan kebutuhan dana jangka pendek serta arah kebijakan moneter Bank Indonesia yang berfokus pada penguatan nilai tukar rupiah.
ÔÇ£Strategi kami adalah menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit dan penempatan pada instrumen likuid seperti SRBI,ÔÇØ katanya.
Kunardy menambahkan bahwa bauran strategi tersebut sangat krusial agar struktur likuiditas bank tetap kokoh dan margin pendapatan terjaga. Dengan begitu, bank memiliki keleluasaan penuh untuk segera mengalihkan dana menjadi kredit produktif saat momentum pertumbuhan ekonomi nasional sudah semakin solid.
Pada portofolio keuangannya, nilai surat berharga yang dimiliki oleh KB Bank per Maret 2026 tercatat berada di angka Rp 19,40 triliun, menunjukkan kenaikan dari posisi akhir tahun 2025 yang bertengger di level Rp 18,96 triliun.
Penempatan Sementara di Bank Central Asia
Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mengambil posisi bahwa penempatan dana mereka di SRBI murni bersifat temporer guna menjembatani ketersediaan likuiditas sebelum disalurkan menjadi kredit yang lebih optimal sepanjang tahun.
Presiden Direktur BCA Hendra Lembong memastikan bahwa porsi kepemilikan instrumen SRBI di banknya saat ini berada dalam kondisi yang relatif stabil dan bukan merupakan fokus utama investasi jangka panjang korporasi.
ÔÇ£SRBI ini sebetulnya hanya tempat sementara sampai ada pertumbuhan kredit,ÔÇØ ujar Hendra.
Ia menerangkan bahwa mayoritas produk SRBI yang dikoleksi oleh BCA ditopang oleh tenor jangka pendek, mulai dari jangka waktu 6 bulan, 9 bulan, hingga 12 bulan. Seiring dengan tibanya masa jatuh tempo dari instrumen-instrumen tersebut, perseroan akan terus melakukan kalibrasi ulang terhadap penempatan likuiditas sesuai laju ekspansi pembiayaan.
ÔÇ£SRBI ini banyak juga yang jatuh tempo selama tahun ini. Jadi ada beli, ada juga yang jatuh tempo, sehingga posisinya relatif stabil,ÔÇØ katanya.
Hendra mempertegas kembali komitmen utama BCA yang tetap bertumpu pada fungsi penyaluran kredit. Oleh sebab itu, SRBI ditempatkan sebagai instrumen jangkar untuk menjaga keseimbangan manajemen kas harian sebelum dana benar-benar dicairkan kepada debitur.
ÔÇ£Fokusnya tetap di pertumbuhan kredit. Jadi sambil menunggu kredit cair, sebagian dana ditempatkan ke SRBI,ÔÇØ jelasnya.
BCA juga tidak mematok target khusus atau kuota tertentu terhadap kepemilikan instrumen moneter ini, karena penggunaannya murni demi mempertahankan fleksibilitas keuangan di tengah dinamika penyaluran pembiayaan.
Merujuk pada data keuangan per Maret 2026, akumulasi nilai surat berharga yang dikuasai oleh BCA menyentuh angka Rp 444,51 triliun, atau setara dengan porsi sebesar 27,96% dari keseluruhan total aset yang dimiliki perseroan.
Langkah Berbeda CIMB Niaga
Berbeda dengan tren industri secara umum, PT Bank CIMB Niaga Tbk justru melaporkan bahwa penempatan dana mereka pada instrumen SRBI telah mengalami penurunan yang cukup signifikan dalam kurun waktu satu tahun ke belakang.
Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengungkapkan bahwa perseroan memilih memindahkan fokus pengelolaan likuiditas mereka ke sektor jasa keuangan lainnya.
"Penempatan dana di SRBI sudah turun 30% secara tahunan (YoY). Mayoritas likuiditas kami arahkan ke fee income lewat wealth management,ÔÇØ jelas Lani.
Berdasarkan publikasi laporan keuangan resmi per Maret 2026, total aset berbentuk surat berharga yang didekap oleh CIMB Niaga bernilai Rp 81,96 triliun. Nilai kepemilikan tersebut terpantau masih mengalami kenaikan jika disandingkan dengan perolehan triwulan pertama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 74,74 triliun.