Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa nasional mengalami penyusutan menjadi 146,2 miliar dollar AS pada akhir April 2026. Penurunan ini dipengaruhi oleh kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah stabilisasi nilai tukar rupiah di pasar global.
Data yang dilansir dari Money menunjukkan angka tersebut lebih rendah dibandingkan posisi pada akhir Maret 2026 yang mencapai 148,2 miliar dollar AS. Meskipun terjadi koreksi, otoritas moneter menegaskan bahwa jumlah tersebut masih berada dalam kategori sangat memadai.
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan rincian kondisi tersebut pada Jumat (8/5/2026). Ia menjelaskan bahwa posisi ini mencerminkan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah dinamika keuangan global yang bergerak fluktuatif.
"Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2026 tetap tinggi sebesar 146,2 miliar dollar AS, meskipun menurun dibandingkan dengan posisi akhir Maret 2026," kata Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, Jumat (8/5/2026).
Faktor utama penyebab berkurangnya cadangan devisa mencakup penerimaan pajak dan jasa serta penerbitan bond global oleh pemerintah. Selain itu, penggunaan devisa dilakukan untuk memenuhi pembayaran utang luar negeri dan menjaga agar nilai tukar rupiah tidak mengalami gejolak yang berlebihan.
Secara teknis, total cadangan pada April 2026 ini setara dengan pembiayaan 5,8 bulan impor. Jika ditambah dengan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jumlah tersebut setara dengan 5,6 bulan pembiayaan, jauh melampaui standar kecukupan internasional di level 3 bulan impor.
"Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," ujar Denny.
Bank Indonesia memperkirakan tren positif akan tetap terjaga di masa mendatang berkat minat investor yang stabil. Persepsi positif terhadap prospek ekonomi nasional diyakini terus menarik aliran modal asing masuk ke dalam pasar domestik karena imbal hasil investasi yang kompetitif.
"Bank Indonesia terus meningkatkan sinergi dengan pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," lanjut Denny.