CHIEF Economist Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian menilai, Bank Indonesia (BI) perlu mengambil sikap yang lebih hawkish dengan menaikkan suku bunga acuan secara pre-emptive di tengah tekanan rupiah yang sudah menyentuh Rp17.600 per dolar Amerika Serikat (AS).
Menurutnya, kondisi yang terjadi saat ini tidak lagi semata dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti harga minyak dunia atau arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed). Tekanan yang muncul dinilai sudah mulai menyentuh aspek yang lebih mendasar, yakni kredibilitas jangkar kebijakan makroekonomi Indonesia.
Ia menilai, dalam situasi tersebut, bank sentral tidak hanya berperan dalam mengendalikan inflasi, tetapi juga menjaga kepercayaan terhadap arah kebijakan secara keseluruhan.
"Ketika pelaku pasar mulai meragukan batas akhir pelemahan rupiah, target inflasi, serta koordinasi kebijakan fiskal dan moneter, maka upaya stabilisasi berpotensi membutuhkan biaya yang semakin besar ke depan. BI harus bersikap hawkish," katanya dalam keterangan yang diterima Media Indonesia, Senin (18/5).
Ia menilai absennya sinyal penyesuaian yang cukup tegas, khususnya terkait harga energi domestik, arah subsidi, dan kalibrasi fiskal, membuat tekanan penyesuaian berpindah hampir sepenuhnya ke nilai tukar rupiah. Dalam rezim arus modal terbuka pasca-1998, kondisi tersebut berpotensi memunculkan fenomena Dornbusch overshooting atau nilai tukar mata uang berfluktuasi secara ekstrem.
Karena itu, menurut Fakhrul, Bank Indonesia perlu kembali pada pendekatan stabilisasi klasik yang pernah berhasil digunakan pada periode tekanan eksternal sebelumnya, yakni Pre-emptive, Front Loading, and Ahead the Curve. Dalam konteks saat ini, langkah tersebut menurutnya kemungkinan membutuhkan kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin.
ÔÇ£Kenaikan suku bunga kali ini bukan karena ekonomi runtuh atau inflasi sudah tinggi. Justru ini diperlukan agar kita tidak membayar harga yang lebih mahal di kemudian hari akibat kehilangan jangkar ekspektasi,ÔÇØ katanya.
Fakhrul mengingatkan Indonesia pernah melakukan langkah serupa pada 2018. Saat itu, Bank Indonesia menaikkan suku bunga secara agresif meskipun inflasi domestik relatif masih terkendali. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas Rupiah dan mengembalikan kepercayaan pasar sebelum tekanan menjadi lebih besar.
ÔÇ£Bank sentral juga harus menjaga ekspektasi, stabilitas nilai tukar, dan medium-term inflation anchor. Kalau menunggu inflasi muncul penuh di data, biasanya pasar sudah lebih dulu memaksa penyesuaian yang jauh lebih keras,ÔÇØ jelasnya.
Ia juga menilai kenaikan BI Rate tidak selalu berarti pengetatan berlebihan terhadap ekonomi riil. Menurutnya, Indonesia saat ini memiliki instrumen makroprudensial yang jauh lebih fleksibel dibanding siklus pengetatan sebelumnya. Dengan koordinasi bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penyaluran kredit ke sektor prioritas masih dapat dijaga melalui insentif likuiditas dan kebijakan sektoral yang lebih targeted.
ÔÇ£Ini bukan kebijakan anti-pertumbuhan. Ini adalah upaya menjaga stabilitas makro agar pertumbuhan tidak rusak lebih dalam akibat imported inflation, tekanan neraca, dan lonjakan risk premium,ÔÇØ tekan Fakhrul.
Di sisi pasar keuangan, langkah hawkish Bank Indonesia (BI) dinilai dapat membantu proses normalisasi struktur pasar domestik. Kondisi saat ini disebut masih menunjukkan adanya distorsi antara instrumen sterilization jangka pendek seperti SRBI dengan pasar obligasi tenor panjang, yang menyebabkan aliran dana cenderung terkonsentrasi pada instrumen berdurasi pendek.
Dalam pandangan tersebut, diperlukan pembentukan kurva imbal hasil (yield curve) yang lebih sehat dan lebih curam (steep). Terlalu besarnya penahanan pada bagian tertentu di kurva dinilai justru berpotensi menciptakan ketidakstabilan di kemudian hari.
ÔÇ£Jika kredibilitas BI pulih dan volatilitas rupiah mulai turun, investor bisa kembali masuk ke obligasi tenor panjang dan aset durasi panjang lainnya,ÔÇØ ujarnya.
Ia memperkirakan apabila respons kebijakan dilakukan lebih cepat dan kredibel, maka fase overshooting rupiah dapat berbalik menjadi apresiasi yang relatif tajam, dengan proyeksi Rupiah kembali menuju kisaran Rp16.800 per dolar AS.
Selain kebijakan moneter, Fakhrul menilai penguatan koordinasi kebijakan fiskal pemerintah juga menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi. Hal itu mencakup kejelasan arah subsidi energi, strategi penerbitan obligasi, hingga upaya diversifikasi sumber pembiayaan negara.
Ia juga menekankan perlunya Indonesia mulai memperluas sumber pendanaan di luar dolar AS, seiring dengan semakin terfragmentasinya kondisi keuangan global. Opsi seperti pendanaan berbasis RMB/Renminbi serta penerbitan Dim Sum Bond dinilai dapat menjadi alternatif yang lebih relevan dalam situasi tersebut.
ÔÇ£Dunia sedang berubah. Likuiditas global tidak lagi hanya bertumpu pada dolar AS. Indonesia harus mulai membangun strategi pembiayaan yang lebih beragam agar biaya stabilisasi ke depan tidak sepenuhnya dibebankan pada rupiah dan pasar domestik,ÔÇØ pungkasnya. (Ins/P-3)
- BI Tingkatkan Dosis Intervensi untuk Stabilkan Rupiah yang Tertekan 18/5/2026 17:27 Ia menjelaskan, intervensi tidak hanya dilakukan di pasar domestik, tetapi juga di pasar luar negeri. Langkah tersebut berdampak pada penurunan cadangan devisa sekitar US$10 miliar.
- BI: Temuan Uang Palsu Turun Drastis dalam Tiga Tahun Terakhir 13/5/2026 13:51 Bank Indonesia mencatat penurunan rasio temuan uang palsu dari 5 ppm pada 2023 menjadi 1 ppm pada April 2026 berkat penguatan unsur pengaman.
- BI dan Polri Musnahkan 466.535 Lembar Uang Palsu Hasil Temuan sepanjang 2017-2025 13/5/2026 13:46 Bank Indonesia bersama Polri memusnahkan 466.535 lembar uang palsu untuk menjaga kedaulatan rupiah dan kepercayaan masyarakat.
- BI Musnahkan 466 Ribu Lembar Uang Palsu 13/5/2026 11:11 BANK Indonesia (BI) bersama Kepolisian Republik Indonesia dan unsur Badan Koordinasi Pemberantasan Rupiah Palsu (Botasupal) memusnahkan 466.535 lembar uang Rupiah palsu
- Rupiah Tembus Rp17.529 per Dolar AS, BI Ungkap Pemicu Global dan Domestik 12/5/2026 19:30 Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.529 per dolar AS. Bank Indonesia (BI) siapkan smart intervention hadapi tekanan global dan musiman domestik.
- Rupiah Tembus Rp17.600, Presiden Prabowo Panggil Menkeu Purbaya dan Sejumlah Pejabat Ekonomi ke Istana 18/5/2026 18:13 PRESIDEN Prabowo Subianto memanggil sejumlah pejabat tinggi sektor ekonomi ke Istana Negara, Jakarta, pada Senin sore (18/5).
- BI Tingkatkan Dosis Intervensi untuk Stabilkan Rupiah yang Tertekan 18/5/2026 17:27 Ia menjelaskan, intervensi tidak hanya dilakukan di pasar domestik, tetapi juga di pasar luar negeri. Langkah tersebut berdampak pada penurunan cadangan devisa sekitar US$10 miliar.
- Nilai Tukar Rupiah Melemah ke Rp17.630, Menkeu Purbaya Pastikan Ekonomi Aman 18/5/2026 15:45 Nilai tukar rupiah melemah ke Rp17.630 per dolar AS. Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa minta investor tidak panik dan tegaskan kondisi beda dengan 1998.
- Rupiah Melemah, DPR Pertanyakan Efektivitas Intervensi BI 18/5/2026 15:07 NILAI tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus kisaran Rp17.600 per dolar Amerika Serikat (AS).
- Rupiah Hari Ini 18 Mei 2026: Melemah Lagi ke Rp17.630 18/5/2026 10:02 Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka melemah 33 poin ke level Rp17.630 pada Senin (18/5/2026) pagi. Simak analisis pergerakan kurs hari ini.