Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, memastikan ketahanan cadangan devisa nasional tetap kokoh untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah dinamika ekonomi global pada Kamis (7/5/2026). Langkah penguatan ini melibatkan optimalisasi instrumen moneter serta intervensi aktif di berbagai pusat keuangan internasional.
Upaya stabilisasi nilai tukar dilakukan melalui pemanfaatan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik aliran modal asing masuk ke dalam negeri. Sebagaimana dilansir dari Suara, BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder demi memperkuat struktur likuiditas pasar keuangan domestik.
"Cadangan devisa kita memadai juga memperkuat struktur suku bunga instrumen SRBI agar bisa menarik aliran modal asing lalu juga membeli SBN di pasar sekunder," ujar Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.
Strategi komprehensif ini mencakup tujuh langkah taktis, termasuk intervensi langsung pada pasar domestik melalui transaksi tunai (spot) dan Domestic Non-Delivery Forward (DNDF). Selain itu, otoritas moneter memperluas jangkauan operasionalnya ke pasar global untuk menahan volatilitas nilai tukar.
"BI juga aktif melakukan intervensi di berbagai pusat keuangan dunia seperti Hong Kong, Singapura, London, hingga New York melalui transaksi Non-Delivery Forward (NDF)," kata Perry Warjiyo.
Bank Indonesia terus menyelaraskan kebijakan dengan pemerintah melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dan koordinasi kebijakan fiskal. Penguatan bauran kebijakan moneter serta pendalaman pasar uang menjadi fokus utama dalam menghadapi tantangan ekonomi yang dinamis.
Sebagai bagian dari kebijakan makroprudensial, suku bunga acuan Bank Indonesia diputuskan tetap berada di level 4,75 persen sepanjang periode Februari hingga April 2026.
"Keputusan ini konsisten diambil untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas eksternal dan upaya mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang tetap tinggi. Ini untuk memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah dan juga konsisten dengan pencapaian sasaran inflasi," tutup Perry Warjiyo.