Upaya memperkokoh ketahanan pangan nasional terus diperkuat melalui peluncuran Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) di Sidoarjo. Program kolaborasi antara Bank Indonesia bersama pemerintah pusat dan daerah ini dirancang untuk menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.
Dilansir dari Suara, inisiatif ini menjadi langkah strategis untuk melengkapi Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang telah berjalan sebelumnya. Sinergi kebijakan tersebut difokuskan pada sinkronisasi program prioritas dalam mencapai kedaulatan pangan dan stabilitas finansial di seluruh wilayah.
Direktur Eksekutif Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny, menjelaskan bahwa GPIPS 2026 merupakan wujud nyata komitmen bank sentral dalam menjaga daya beli masyarakat. Hal ini dilakukan melalui penerapan strategi 4K yang mencakup keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Pemerintah memberikan perhatian khusus pada penguatan produktivitas petani serta efisiensi rantai distribusi. Langkah ini diambil guna memastikan angka inflasi tetap berada dalam sasaran yang telah ditetapkan secara nasional.
Ramdan Denny mengungkapkan bahwa peluncuran di wilayah Jawa merupakan bagian dari rangkaian program yang telah dimulai sejak Februari lalu.
"Strategi tersebut meliputi keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif," ucapnya.Terdapat tiga komoditas utama yang menjadi fokus pengendalian di seluruh daerah, yakni beras, cabai, dan bawang merah. Selain ketiga bahan pokok tersebut, komoditas tambahan lainnya akan disesuaikan dengan karakteristik unik dan kebutuhan masing-masing wilayah di Indonesia.
Data Inflasi dan Target Jangka Panjang
Keberhasilan koordinasi antara Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Daerah (TPID) dinilai memberikan dampak positif pada stabilitas ekonomi nasional. Berdasarkan data per April 2026, Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) berada pada level 2,42 persen secara tahunan.
Sementara itu, kelompok harga pangan bergejolak atau volatile food tetap terkendali di angka 3,37 persen. Capaian ini masih sesuai dengan target sasaran nasional yang berada pada kisaran 3,0 persen hingga 5,0 persen.
Dalam jangka pendek, otoritas berfokus pada perbaikan sarana prasarana pertanian, regenerasi sumber daya manusia, serta pemberian perlindungan bagi usaha tani. Program pompanisasi dan perbaikan jaringan irigasi menjadi agenda utama untuk mendukung keberlanjutan ekosistem pangan dari hulu ke hilir.
Bank Indonesia dan Pemerintah akan terus meningkatkan efisiensi logistik serta mitigasi terhadap risiko cuaca ekstrem. Langkah konsisten ini diharapkan mampu memberdayakan petani sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
"Melalui langkah konsisten ini, BI optimistis dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional," tandasnya.