Bank Indonesia memproyeksikan penguatan nilai tukar rupiah ke level fundamental di tengah tekanan musiman pada Selasa (12/5/2026). Optimisme ini didukung oleh aliran modal asing yang masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) serta Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menjaga stabilitas moneter nasional.
Data menunjukkan bahwa selama April 2026, total modal masuk pada pasar SBN dan SRBI menyentuh angka Rp 61,6 triliun. Kondisi ini diperkuat dengan ketersediaan likuiditas valuta asing dalam negeri yang memadai serta pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 10,9 persen secara year to date hingga Maret 2026.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti menegaskan bahwa otoritas moneter memiliki dasar kuat untuk melihat pemulihan mata uang garuda. Keyakinan tersebut muncul seiring dengan terus tumbuhnya ekonomi domestik yang dilansir dari Money.
"BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya," jelas Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.
Pihak Bank Indonesia juga memastikan kesiapan mereka untuk melakukan langkah-langkah strategis guna memitigasi fluktuasi pasar yang berlebihan. Penjagaan stabilitas ini dilakukan melalui pemanfaatan berbagai instrumen operasi moneter secara optimal.
"BI akan terus berkomitmen untuk selalu berada di pasar dan juga mengoptimalkan penggunaan semua instrumen operasi moneter sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan pada rupiah," kata Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.
Pada penutupan perdagangan Selasa (12/5/2026), posisi nilai tukar rupiah tercatat berada pada level Rp 17.529 per dollar AS. Menanggapi situasi tersebut, pemerintah menyatakan dukungan penuh terhadap langkah-langkah yang diambil oleh bank sentral dalam mengelola stabilitas nilai tukar.
"Kita serahkan ke ahlinya, Bank Sentral. Saya pikir mereka akan bisa mengendalikan (rupiah) dengan baik," jelas Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Menteri Keuangan juga mengungkapkan strategi pendamping melalui aktivasi Bond Stabilization Fund (BSF). Langkah ini bertujuan mempercepat masuknya dana asing sekaligus mengintervensi pasar surat utang demi meredam pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.
"Kita akan mulai membantu besok mungkin dengan masuk ke bond market, itu dengan Bond Stabilization Fund (BSF)," jelas Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Kementerian Keuangan memanfaatkan Sisa Anggaran Lebih (SAL) untuk melakukan intervensi langsung agar imbal hasil (yield) obligasi tidak mengalami kenaikan yang terlalu tajam. Upaya kolaboratif ini diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi penguatan mata uang nasional secara bertahap.
"Kita akan coba membantu nilai tukar, kita membantu BI sedikit-sedikit kalau bisa. Kita masih banyak uang nganggur (Sisa Anggaran Lebih/SAL), kita intervensi bond market supaya yield-nya enggak naik terlalu tinggi," ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.