Nilai kepemilikan dana perbankan pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia terus melonjak hingga April 2026 akibat gejolak ekonomi global dan pemulihan kredit yang belum optimal. Data Bank Indonesia menunjukkan investasi perbankan di instrumen moneter tersebut menyentuh angka Rp 673,90 triliun.
Nilai penempatan dana perbankan ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 22,73% secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Jika dihitung dari posisi awal tahun 2026 yang sebesar Rp 589,42 triliun, terjadi lonjakan dana masuk sebesar Rp 59,12 triliun, seperti dilansir dari Keuangan.
Sikap defensif perbankan nasional ini dinilai sebagai respons logis dalam menghadapi volatilitas rupiah serta tingginya imbal hasil yang ditawarkan instrumen moneter tersebut.
ÔÇ£Persoalan utama saat ini bukan semata likuiditas, tetapi lemahnya confidence dunia usaha untuk berekspansi,ÔÇØ ujar M Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef).
Menurut Rizal, pertumbuhan kredit perbankan saat ini masih didominasi oleh sektor BUMN dan industri tertentu saja. Penempatan dana yang terlalu besar di instrumen moneter dikhawatirkan dapat memperlemah fungsi intermediasi bank ke sektor riil dalam jangka panjang.
ÔÇ£Dalam jangka pendek strategi ini memang membantu menjaga stabilitas rupiah dan pasar keuangan, tetapi dalam jangka panjang bisa menahan investasi, ekspansi usaha, dan penciptaan lapangan kerja,ÔÇØ katanya.
Kondisi tingginya minat perbankan terhadap instrumen moneter ini diproyeksikan masih terus berjalan hingga akhir tahun. Tren tersebut akan bertahan selama tekanan nilai tukar rupiah belum mereda.
ÔÇ£Selama instrumen moneter memberikan risk-return yang lebih menarik dibanding risiko kredit, perbankan akan tetap berhati-hati dalam ekspansi pembiayaan,ÔÇØ ujarnya.
Langkah pengamanan likuiditas lewat instrumen moneter ini juga dilakukan oleh PT Bank KB Indonesia Tbk demi menghadapi tekanan kebijakan suku bunga global.
ÔÇ£Hal ini didorong oleh kebijakan The Fed yang cenderung hawkish, tingginya yield US Treasury, serta tensi geopolitik di Timur Tengah dan Asia,ÔÇØ ujar Kunardy Lie, Direktur Utama PT Bank KB Indonesia Tbk.
KB Bank berencana mempertahankan porsi dana di instrumen moneter ini sebagai bantalan likuiditas perseroan. Hingga Maret 2026, nilai surat berharga yang dikelola KB Bank telah mencapai Rp 19,40 triliun dari posisi akhir 2025 sebesar Rp 18,96 triliun.
ÔÇ£Strategi kami adalah menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit and penempatan pada instrumen likuid seperti SRBI,ÔÇØ katanya.
Manajemen KB Bank menegaskan fleksibilitas pengalihan dana ke sektor produktif tetap disiapkan jika momentum ekonomi nasional sudah menguat.
Di sisi lain, PT Bank Central Asia Tbk menjadikan instrumen moneter ini sebagai wadah penampungan dana sementara sebelum disalurkan sepenuhnya menjadi kredit sepanjang tahun ini.
ÔÇ£SRBI ini sebetulnya hanya tempat sementara sampai ada pertumbuhan kredit,ÔÇØ ujar Hendra Lembong, Presiden Direktur BCA.
BCA memilih porsi instrumen dengan tenor pendek agar portofolio investasi mereka tetap fleksibel mengikuti permintaan pembiayaan baru. Per Maret 2026, total surat berharga yang dipegang BCA tercatat sebesar Rp 444,51 triliun.
ÔÇ£SRBI ini banyak juga yang jatuh tempo selama tahun ini. Jadi ada beli, ada juga yang jatuh tempo, sehingga posisinya relatif stabil,ÔÇØ katanya.
BCA memastikan tidak memasang target kepemilikan khusus untuk instrumen moneter ini karena sifatnya hanya sebagai penyeimbang likuiditas harian.
ÔÇ£Fokusnya tetap di pertumbuhan kredit. Jadi sambil menunggu kredit cair, sebagian dana ditempatkan ke SRBI,ÔÇØ jelasnya.
Berbeda dengan mayoritas perbankan, PT Bank CIMB Niaga Tbk justru mencatatkan penurunan signifikan pada kepemilikan instrumen moneter ini.
ÔÇ£Penempatan dana di SRBI sudah turun 30% secara tahunan (YoY). Mayoritas likuiditas kami arahkan ke fee income lewat wealth management,ÔÇØ jelas Lani Darmawan, Presiden Direktur CIMB Niaga.
Berdasarkan laporan keuangan kuartal pertama tahun ini, nilai total investasi surat berharga milik CIMB Niaga berada di angka Rp 81,96 triliun.