Bank Indonesia (BI) menambah cadangan emas sebanyak 2 ton pada kuartal pertama 2026 sebagai bagian dari tren global bank sentral yang memperkuat aset cadangan devisa. Penambahan ini terjadi di tengah peningkatan permintaan emas domestik yang melonjak signifikan sebesar 47 persen secara tahunan.
Berdasarkan data World Gold Council (WGC) yang dilansir dari Investor Daily, akumulasi emas oleh bank sentral di seluruh dunia mencapai lebih dari 240 ton pada periode tersebut. Secara spesifik, total penambahan cadangan devisa global dalam bentuk emas mencatatkan angka 244 ton atau tumbuh 3 persen dibandingkan tahun lalu.
Head of Asia Pacific (ex-China) sekaligus Global Head of Central Banks WGC, Shaokai Fan menjelaskan bahwa ketidakpastian pasar menjadi pendorong utama bank sentral untuk terus mengoleksi logam mulia tersebut.
"Aktivitas pembelian ini mencerminkan peran emas sebagai aset cadangan yang terus diminati bank sentral di tengah turbulensi pasar yang ekstrem," ujar Fan.
Kenaikan minat terhadap emas juga terlihat pada sektor ritel dan investor di tanah air. Meskipun pasar saham domestik mengalami koreksi sebesar 13 persen pada tiga bulan pertama tahun ini, permintaan emas dalam denominasi rupiah justru menunjukkan pertumbuhan sebesar 14 persen.
Fan memberikan pandangan strategis mengenai proporsi kepemilikan emas dalam skema investasi untuk memperkuat ketahanan aset bagi para pelaku pasar di Indonesia.
"Analisis WGC mencatat bahwa alokasi emas sebesar 2,5% saja dapat meningkatkan kualitas portofolio investor Indonesia dengan mengurangi risiko konsentrasi dan memperkuat diversifikasi," beber Fan.
Kecenderungan bank sentral untuk terus menambah cadangan emas ini sejalan dengan upaya mitigasi risiko di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu. Saat ini, emas tetap dipandang sebagai instrumen lindung nilai yang efektif di atas instrumen keuangan lainnya.