Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur pada Rabu, 20 Mei 2026. Langkah moneter agresif ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memitigasi risiko inflasi akibat dampak konflik geopolitik global, seperti dilansir dari Suara.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengumumkan bahwa bank sentral juga mengerek suku bunga Deposit Facility menjadi 4,25 persen dan suku bunga Lending Facility berada di angka 6,00 persen. Penyesuaian ini mengindikasikan prioritas otoritas moneter pada stabilitas makroekonomi nasional di atas target ekspansi ekonomi jangka pendek.
Pengetatan moneter tersebut menjadi langkah antisipatif terhadap tingginya volatilitas pasar keuangan global akibat eskalasi perang di Timur Tengah. Kebijakan ini dinilai krusial guna memastikan realisasi inflasi periode 2026ÔÇô2027 tetap terkendali dalam sasaran pemerintah sebesar 2,5┬▒1 persen.
Meskipun demikian, Perry memastikan kebijakan makroprudensial serta sistem pembayaran tetap dipertahankan longgar agar penyaluran kredit ke sektor riil tetap berjalan optimal. Sinergi dengan pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan juga dipererat demi memitigasi dampak rambatan konflik internasional.
Keputusan pengetatan moneter ini langsung memicu respons negatif di pasar modal domestik hingga menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan terkoreksi. Menjelang penutupan sesi kedua perdagangan hari Rabu, IHSG melemah sebesar 0,63 persen ke level 6.330,20 akibat aksi jual investor.
Berdasarkan data RTI pukul 15.51 WIB, IHSG bergerak fluktuatif dengan mencatatkan level tertinggi 6.459,55 dan sempat menyentuh titik terendah pada angka 6.215,56. Koreksi indeks dibebani oleh merosotnya harga 508 saham emiten, sementara hanya 172 saham menguat dan 135 saham stagnan.
Secara historis, kenaikan suku bunga mengerek biaya pinjaman emiten yang berpotensi menekan profitabilitas korporasi serta memicu rotasi modal ke instrumen pendapatan tetap. Namun, Pengamat Pasar Modal Reydi Octa menjelaskan bahwa kenaikan BI-Rate ini akan membantu menjaga stabilitas kurs rupiah, inflasi, serta arus modal asing.
ÔÇ£Jika rupiah mulai stabil dan tekanan jual asing mereda pasca kenaikan suku bunga, peluang technical rebound tetap terbuka terutama pada saham big caps perbankan,ÔÇØ ujar Reydi Octa, Pengamat Pasar Modal.
Untuk jangka pendek ke depan, Reydi memproyeksikan pergerakan IHSG masih berpotensi bergerak volatil dengan kecenderungan berkonsolidasi.