Bank Indonesia (BI) melaporkan nilai utang luar negeri (ULN) Republik Indonesia menyentuh angka US$ 434 miliar atau setara Rp 7.660 triliun pada triwulan I-2026 pada Senin (18/5/2026). Data yang dilansir dari Investor Daily menunjukkan adanya kenaikan sebesar 0,5% jika dibandingkan dengan triwulan IV-2025 yang berjumlah US$ 431,7 miliar.
Akselerasi tahunan juga terjadi sebesar 0,8% dari triwulan I-2025 yang kala itu mencatatkan angka US$ 430,4 miliar. Penurunan rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Buruto (PDB) menjadi 29,5% dari 30,0% di triwulan sebelumnya memperlihatkan pengelolaan yang tetap sehat dan menerapkan prinsip kehati-hatian.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan bahwa struktur pembiayaan ini didominasi oleh tenor jangka panjang dengan persentase mencapai 85,4% dari total keseluruhan. BI bersama Pemerintah terus meningkatkan sinergi pemantauan guna menjaga kesehatan struktur utang tersebut.
"Peran ULN juga akan terus dioptimalkan untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian," ucap Ramdan, Kepala Departemen Komunikasi BI.
Sektor publik dan swasta memberikan pengaruh variatif terhadap pergerakan posisi utang ini. Pada sektor pemerintah, nilai ULN mencapai US$ 214,7 miliar atau mengalami pertumbuhan 3,8% secara tahunan (yoy), aliran dana masuk dari investor asing pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional turut memengaruhi kondisi ini seiring tingginya kepercayaan terhadap ekonomi domestik.
Alokasi dana utang pemerintah utamanya digunakan untuk membiayai belanja prioritas seperti sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 22,1%, administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib 20,2%, jasa pendidikan 16,2%, konstruksi 11,5%, serta transportasi dan pergudangan 8,5%.
"Posisi ULN pemerintah tersebut didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,99% dari total ULN pemerintah," kata Ramdan, Kepala Departemen Komunikasi BI.
Di sisi lain, sektor swasta mencatatkan penurunan performa utang menjadi US$ 191,4 miliar pada triwulan I-2026 dari US$ 194,2 miliar pada triwulan sebelumnya. Kontraksi tahunan terjadi sebesar 1,8% (yoy) akibat penurunan pinjaman pada kelompok lembaga keuangan sebesar 3,6% (yoy) dan perusahaan bukan lembaga keuangan sebesar 1,3% (yoy).
Sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian menjadi penyumbang terbesar dengan porsi mencapai 80,4% dari total ULN swasta.
"ULN swasta tetap didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,6% terhadap total ULN swasta," terang Ramdan, Kepala Departemen Komunikasi BI.