Lonjakan jumlah wisatawan diprediksi akan memadati Jepang selama periode libur panjang Golden Week pada 2 hingga 6 Mei 2026 mendatang. Namun, daya beli masyarakat dilaporkan mengalami penurunan meski antusiasme untuk bepergian tetap tinggi di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu.
Berdasarkan hasil survei JTB Corporation yang dilansir dari Detik Travel pada Rabu (22/4/2026), sebanyak 23,4% dari 10.000 responden berencana melakukan perjalanan. Angka keikutsertaan ini menunjukkan kenaikan sebesar 2,5 poin persentase jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Volume perjalanan domestik diproyeksikan menyentuh angka 23,9 juta perjalanan atau meningkat 1,7% secara tahunan. Total mobilitas tersebut hampir mendekati catatan sebelum masa pandemi Covid-19, yakni sebanyak 24 juta perjalanan pada tahun 2019 silam.
Meskipun frekuensi perjalanan meningkat, rata-rata pengeluaran per orang justru diprediksi turun 2,1% menjadi 46.000 yen atau sekitar Rp 4,9 juta. Fenomena ini menandai penurunan biaya konsumsi wisata domestik untuk pertama kalinya sejak tahun 2020.
Data survei mengungkap adanya pergeseran pola belanja dengan dominasi perjalanan durasi singkat selama satu malam dua hari yang naik menjadi 39,9%. Sebaliknya, minat untuk melakukan perjalanan panjang selama tiga malam empat hari merosot hingga ke angka 16,2%.
Pihak perwakilan JTB Corporation menjelaskan bahwa situasi geopolitik dan harga energi global menjadi salah satu faktor yang membayangi perilaku konsumen saat ini.
"Ketidakpastian prospek ekonomi, termasuk kenaikan harga minyak mentah akibat situasi di Iran, kemungkinan turut berdampak," ujar perwakilan JTB Corporation.
Selain faktor ekonomi domestik, laporan tersebut juga mencatat pertumbuhan pada sektor perjalanan luar negeri sebesar 8,5% dengan total 572.000 orang. Berbeda dengan tren domestik, rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara justru naik 2,2% menjadi 329.000 yen.
Meskipun dihadapkan pada biaya penerbangan yang mahal dan tensi global yang meningkat, terdapat dorongan psikologis kuat bagi warga Jepang untuk tetap berwisata ke luar negeri.
"Semakin banyak orang berpikir mereka harus bepergian sekarang, selagi masih bisa," kata perwakilan JTB Corporation.
Destinasi favorit untuk perjalanan internasional masih didominasi oleh negara-negara di kawasan Asia Timur seperti Korea Selatan, Taiwan, dan China. Ketiga negara tersebut menyumbang sekitar 60% dari keseluruhan total perjalanan luar negeri warga Jepang pada musim libur ini.