Pemerintah Indonesia kini sedang memperketat pengawasan terhadap platform agen perjalanan daring atau Online Travel Agent (OTA) asing yang beroperasi di tanah air. Nama-nama besar seperti Airbnb, Booking.com, hingga Agoda kini didorong untuk memiliki kantor fisik serta terdaftar secara resmi di Indonesia.
Langkah tegas ini diambil agar seluruh transaksi keuangan dan kewajiban perpajakan dari platform tersebut dapat terpantau dengan lebih akurat. Melalui kehadiran kantor resmi, pemerintah berharap adanya transparansi yang lebih baik dalam industri pariwisata digital.
Urgensi Legalitas dan Pengawasan Devisa
Persoalan ini sempat menjadi sorotan dalam rapat kerja pemerintah bersama Komisi VII DPR RI. Anggota Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, mempertanyakan mekanisme pertanggungjawaban terkait legalitas penginapan yang dipasarkan melalui platform tersebut.
Evita menekankan pentingnya bagi platform OTA asing untuk mengikuti jejak pelaku usaha lain yang sudah lebih dulu memiliki kantor di Indonesia. Ia menilai keberadaan kantor resmi merupakan syarat mutlak agar proses registrasi dan pengawasan dapat berjalan maksimal.
Menurut pandangan Evita, selama ini aliran devisa dari transaksi akomodasi tersebut tidak terpantau dengan jelas karena sistem pembayaran yang langsung lari ke luar negeri. Dengan mewajibkan mereka mendaftar di dalam negeri, perlindungan terhadap konsumen dan negara akan menjadi lebih terjamin.
Selain masalah kantor, Evita juga menegaskan bahwa penyedia platform memiliki tanggung jawab moral dan hukum. Mereka seharusnya memastikan bahwa setiap vila atau akomodasi yang dipajang di aplikasi telah mengantongi izin usaha yang sah dari otoritas setempat.
Respon Kementerian Pariwisata
Menanggapi aspirasi tersebut, Ni Luh Puspa selaku Wakil Menteri Pariwisata memberikan konfirmasi bahwa pemerintah memang tengah memproses dua kebijakan utama. Fokus pertamanya adalah penataan perizinan bagi penyedia platform OTA, sementara fokus keduanya menyasar pada legalitas unit akomodasi itu sendiri.
Ni Luh Puspa setuju bahwa ketiadaan kantor fisik di Indonesia menyebabkan aktivitas ekonomi terjadi di luar jangkauan pengawasan domestik. Oleh karena itu, pemerintah mendorong agar OTA asing ini beroperasi secara penuh di dalam negeri demi memastikan perputaran uang tetap berada di Indonesia.
Rencana aksi pemerintah dalam menata ekosistem pariwisata digital:
- Mewajibkan platform OTA asing memiliki kantor perwakilan resmi di Indonesia untuk mempermudah koordinasi.
- Mengharuskan setiap unit akomodasi seperti vila untuk memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) sebagai bukti legalitas.
- Memastikan seluruh transaksi keuangan dari pemesanan akomodasi dilakukan melalui sistem perbankan di Indonesia.
- Mendorong integrasi data antara sistem internal platform dengan basis data perizinan nasional.
Melalui kebijakan ini, pemerintah ingin menciptakan sinergi di mana vila memiliki izin yang jelas dan platform pemasarannya pun patuh pada aturan negara. Dengan begitu, seluruh ekosistem bisnis pariwisata dapat berjalan secara legal dan memberikan kontribusi nyata bagi pendapatan negara.
Sinkronisasi Data dan Integrasi Sistem
Di sisi lain, Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata, Rizki Handayani, menjelaskan teknis pelaksanaan pengawasan ini. Saat ini, pemerintah sedang mengupayakan sinkronisasi data antara pihak OTA dengan sistem perizinan nasional yang sudah ada.
Rizki mengungkapkan bahwa pihaknya telah menjalin komunikasi dengan sejumlah perwakilan OTA asing. Dalam pertemuan tersebut, pemerintah meminta agar setiap pengelola akomodasi diwajibkan mencantumkan Nomor Induk Berusaha (NIB) serta Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) pada laman profil mereka.
Sejauh ini, respons dari pihak pengelola platform digital tersebut cukup positif dan mereka menyatakan kesediaan untuk bekerja sama. Langkah ini merupakan bagian dari upaya membersihkan daftar penginapan yang tidak memiliki izin resmi di platform digital.
Detail mengenai status pencocokan data dan rencana masa transisi:
| Kategori Informasi | Penjelasan dan Target |
|---|---|
| Temuan Akomodasi Bermasalah | Sekitar 1.600 unit akomodasi terindikasi tidak memiliki izin resmi. |
| Metode Verifikasi | Pencocokan data antara internal OTA dengan sistem Online Single Submission (OSS). |
| Pengembangan Sistem | Integrasi API (Application Programming Interface) antara data OSS dan platform OTA. |
| Masa Transisi | Pemberian waktu 1 tahun bagi pelaku usaha untuk menyesuaikan data dan legalitas. |
Integrasi sistem ini nantinya memungkinkan pemerintah untuk melakukan pemeriksaan silang (cross-check) secara otomatis. Jika sebuah akomodasi tidak terdaftar di sistem OSS, maka platform OTA tidak diperbolehkan menjual unit tersebut kepada wisatawan.
Menciptakan Persaingan Usaha yang Adil
Rizki Handayani menambahkan bahwa regulasi mengenai kewajiban kantor ini sedang digodok bersama kementerian terkait lainnya. Koordinasi melibatkan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian serta Kementerian Perdagangan untuk memastikan dasar hukumnya kuat.
Pemerintah merujuk pada Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) untuk usaha perantara akomodasi sebagai landasan operasional. Aturan ini ditegaskan berlaku bagi semua entitas yang melakukan transaksi ekonomi di wilayah hukum Indonesia, tanpa terkecuali.
Kebijakan ini juga bertujuan untuk menjawab keluhan mengenai ketimpangan persaingan usaha di lapangan. Selama ini, platform lokal seperti Traveloka dan Tiket.com merasa terbebani dengan berbagai regulasi dan pajak, sementara kompetitor asing seolah melenggang tanpa beban yang sama.
Keluhan serupa juga sering disuarakan oleh Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), terutama terkait menjamurnya vila ilegal di Bali. Hotel-hotel resmi merasa dirugikan karena mereka harus membayar pajak dan mengikuti standar keamanan ketat, sedangkan vila tak berizin bisa menawarkan harga lebih murah tanpa beban pajak.
Dengan adanya aturan baru ini, pemerintah berharap tercipta level playing field atau arena bermain yang adil bagi semua pelaku industri. Pengawasan yang transparan tidak hanya akan meningkatkan pendapatan pajak, tetapi juga memberikan rasa aman bagi wisatawan yang memesan akomodasi di Indonesia.