Rencana pengaktifan kembali Bandara Husein Sastranegara di Bandung tengah menjadi sorotan publik. Hal ini menyusul pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang berencana melakukan reaktivasi pada bandara yang berlokasi di jantung kota tersebut.
Sebagai informasi, sejak tahun 2023, seluruh operasional penerbangan terjadwal telah dialihkan dari Bandung ke Bandara Internasional Kertajati di Majalengka. Namun, kini wacana untuk menghidupkan kembali aktivitas penerbangan sipil di pusat Kota Kembang tersebut mulai digulirkan.
Saran Fokus Rute Penerbangan Luar Jawa
Menanggapi kabar ini, pengamat transportasi Djoko Setijowarno menilai bahwa reaktivasi Bandara Husein Sastranegara sangat mungkin untuk dilakukan. Meski demikian, ia memberikan catatan khusus agar operasionalnya nanti memiliki fokus rute yang tepat.
Djoko menyarankan agar penerbangan dari bandara ini lebih difokuskan untuk melayani rute-rute menuju luar Pulau Jawa. Langkah tersebut dianggap strategis untuk menjaga keseimbangan peran antarbandara di Jawa Barat.
Rekomendasi prioritas rute penerbangan pasca reaktivasi menurut pakar:
- Penerbangan langsung dari Bandung menuju kota-kota besar di luar Pulau Jawa seperti Medan atau Makassar.
- Pembukaan kembali rute penerbangan internasional jarak pendek, misalnya rute Bandung menuju Malaysia.
- Menghindari rute domestik di dalam Pulau Jawa yang saat ini sudah memiliki banyak alternatif transportasi darat.
Menurut Djoko, kebijakan ini dapat menjadi solusi jangka pendek guna memacu perekonomian serta sektor pariwisata di Bandung. Di sisi lain, strategi ini dipastikan tidak akan mengganggu posisi Bandara Kertajati sebagai bandara utama di wilayah tersebut.
Djoko menjelaskan bahwa penerbangan antarkota di Pulau Jawa saat ini kurang kompetitif karena tingginya harga tiket pesawat. Masyarakat kini lebih memilih menggunakan kereta api atau kendaraan pribadi melalui jalur tol yang sudah terhubung dengan baik.
"Jika ingin diaktifkan lagi, sebaiknya jangan melayani rute di dalam Jawa. Arahkan saja ke luar Jawa, seperti Bandung-Medan atau ke Malaysia," ungkap Djoko saat dihubungi pada Selasa (2/6/2026).
Keterbatasan Teknis dan Landasan Pacu
Meskipun mendukung reaktivasi, Djoko mengingatkan adanya keterbatasan fisik yang dimiliki oleh Bandara Husein Sastranegara. Lokasinya yang dikelilingi kawasan perkotaan yang padat membuat pengembangan infrastruktur menjadi sangat terbatas.
Salah satu kendala utamanya adalah panjang landasan pacu atau runway yang sudah tidak mungkin ditambah lagi. Hal ini menjadi faktor penentu jenis pesawat yang bisa mendarat di sana dalam jangka panjang.
"Perlu dicatat bahwa runway di Bandung tidak bisa diperpanjang lagi karena lokasinya sudah mentok di angka 2.600 meter," kata Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) tersebut.
Ia menegaskan bahwa reaktivasi ini tidak boleh menjadi penghalang bagi kemajuan Bandara Kertajati. Pemerintah tetap harus konsisten mendorong perpindahan operasional penerbangan ke Majalengka secara bertahap sesuai rencana induk sebelumnya.
Kondisi Fasilitas dan Perbaikan Aksesibilitas
Dari sisi infrastruktur pangkalan, fasilitas di Bandara Husein Sastranegara diklaim masih dalam kondisi yang layak. Hal ini disampaikan oleh Komandan Pangkalan TNI Angkatan Udara (LANUD) Husein Sastranegara, Irman Fathurrahman.
Irman menjelaskan bahwa secara umum tidak ada kendala berarti pada fasilitas bandara itu sendiri. Namun, ia menekankan pentingnya perbaikan pada akses jalan dan tata kota di sekitar area bandara agar lebih memadai.
Fokus perbaikan infrastruktur pendukung yang dibutuhkan:
- Perbaikan kualitas aspal dan drainase pada jalan utama menuju pangkalan udara.
- Optimalisasi akses kendaraan dari Gerbang Tol Pasteur menuju kawasan bandara.
- Penataan lalu lintas di sekitar pintu masuk untuk mencegah kemacetan saat jam operasional penerbangan.
Irman berharap akses dari pintu tol menuju kawasan pangkalan udara bisa segera mendapatkan perbaikan. "Mudah-mudahan jalan menuju pangkalan dan bandara, termasuk akses dari Tol Pasteur, bisa segera diperbaiki," ujarnya sebagaimana dikutip dari detikJabar.
Usulan Jalur Khusus dari Gerbang Tol Pasteur
Senada dengan hal tersebut, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan juga membawa usulan konkret terkait kemudahan akses. Ia mengusulkan pembuatan jalur baru yang menghubungkan pintu keluar Tol Pasteur langsung menuju kawasan PTDI.
Rencana ini bertujuan agar calon penumpang tidak perlu terjebak kemacetan panjang di jalur utama kota Bandung. Akses khusus ini dianggap sebagai kunci keberhasilan reaktivasi Bandara Husein di masa depan.
Farhan menjelaskan bahwa nantinya kendaraan dari arah tol akan diarahkan berbelok ke kiri sebelum gerbang tol utama. Jalur tersebut akan melintasi kompleks TNI AU sehingga perjalanan menuju bandara menjadi jauh lebih singkat dan efisien.
"Kami ingin memastikan arus lalu lintas keluar-masuk Bandara Husein jauh lebih lancar dibandingkan sebelumnya. Hal ini merupakan bagian dari upaya mendukung operasional bandara agar optimal," tutup Farhan.
Berikut adalah ringkasan perbandingan fokus layanan antara Bandara Husein Sastranegara dan Bandara Kertajati berdasarkan konteks rencana reaktivasi tersebut.
| Aspek Perbandingan | Bandara Husein Sastranegara | Bandara Kertajati (BIJB) |
|---|---|---|
| Lokasi Strategis | Pusat Kota Bandung | Kabupaten Majalengka |
| Target Rute Utama | Luar Pulau Jawa & Internasional Pendek | Domestik Nasional & Internasional Jarak Jauh |
| Kapasitas Runway | Terbatas (Maksimal 2.600 meter) | Sangat Luas (Mampu melayani pesawat besar) |
| Akses Utama | Tol Pasteur (Usulan jalur baru via PTDI) | Tol Cisumdawu |
Informasi di atas merangkum rencana strategis pemerintah dalam menghidupkan kembali konektivitas udara di Kota Bandung. Reaktivasi ini diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi mobilitas warga sekaligus menggerakkan roda ekonomi lokal.