PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) membukukan penurunan kinerja keuangan pada kuartal I/2026 dengan perolehan pendapatan sebesar Rp640,5 miliar. Angka tersebut merosot sekitar 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp789,105 miliar pada Senin (11/5/2026).
Dilansir dari Market, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk juga terkontraksi menjadi Rp147,213 miliar dari sebelumnya Rp232,94 miliar. Meski mengalami pelemahan di awal tahun, emiten farmasi ini tetap optimistis terhadap prospek industri herbal nasional yang didorong oleh kesadaran kesehatan masyarakat.
Direktur Utama SIDO David Hidayat menjelaskan bahwa penurunan kinerja dipengaruhi oleh proses normalisasi persediaan di tingkat distributor. Langkah ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan stok agar lebih sehat dan sesuai dengan permintaan riil dari konsumen di pasar.
"Selain faktor tersebut, kinerja perseroan juga terdampak normalisasi harga essential oil yang sebelumnya berada pada level tinggi tahun lalu. Pembatasan logistik selama periode lebaran yang berlangsung lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya juga turut memengaruhi distribusi produk," ujarnya David Hidayat, Direktur Utama SIDO.
David menegaskan bahwa posisi pasar perusahaan masih sangat kuat, terutama melalui produk Tolak Angin yang menguasai sekitar 72 persen pangsa pasar herbal nasional. Ia menilai beberapa faktor eksternal akan menjadi katalis positif bagi pertumbuhan konsumsi produk herbal sepanjang tahun ini.
"Prospek industri herbal tetap positif. Katalis utamanya adalah meningkatnya kesadaran kesehatan, perubahan cuaca, mobilitas masyarakat, dan kuatnya budaya konsumsi herbal di Indonesia," lanjut David Hidayat, Direktur Utama SIDO.
Sido Muncul kini menyiapkan platform edukasi Sido HerbalPedia untuk memperkuat penetrasi domestik dan riset ilmiah. Di sisi lain, perusahaan juga membidik ekspansi pasar ke kawasan ASEAN serta Afrika sebagai target pertumbuhan jangka panjang.
Pemilik merek herbal Kutus-Kutus Fazli Hasniel Sugiharto mengamati adanya perkembangan signifikan pada tren wellness di kalangan komunitas keluarga. Menurutnya, potensi industri herbal nasional masih sangat luas seiring dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap gaya hidup sehat.
"Dengan dukungan kekayaan biodiversitas Indonesia dan tren hidup sehat yang terus berkembang, industri herbal nasional diproyeksikan memiliki potensi pertumbuhan yang besar dalam beberapa tahun mendatang," ujar Fazli Hasniel Sugiharto, Pemilik herbal merek Kutus-Kutus.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan industri kimia, farmasi, dan obat tradisional tumbuh 8,35 persen sepanjang 2025. Selain itu, nilai ekspor tanaman obat dan rempah Indonesia tercatat mengalami peningkatan menjadi US$291,8 juta pada 2023 dari sebelumnya US$222,8 juta pada 2012.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar sebelumnya menyatakan bahwa potensi pasar obat asli Indonesia sangat besar. Meskipun realisasi nilai ekonomi industri ini baru mendekati Rp2 triliun pada 2025, ruang pertumbuhannya masih terbuka lebar.