Rupiah Tembus Rp18.000, Pemerintah Resmi Barter dengan Filipina di 2026

Rupiah Tembus Rp18.000, Pemerintah Resmi Barter dengan Filipina di 2026
Foto: Rupiah Tembus Rp18.000, Pemerintah Resmi Barter dengan Filipina di 2026. (Illustration by Pexels)

Pemerintah Indonesia tengah merancang strategi perdagangan alternatif untuk menghadapi tekanan nilai tukar rupiah yang terus melemah. Langkah ini diambil setelah mata uang garuda menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Salah satu opsi yang sedang disiapkan adalah penggunaan skema barter dalam transaksi perdagangan internasional, khususnya dengan negara mitra seperti Filipina. Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengungkapkan bahwa rencana ini menjadi solusi nyata untuk menjaga stabilitas arus barang.

Gagasan mengenai sistem pertukaran barang ini mulai serius dijajaki pasca pertemuan dengan sejumlah pelaku usaha asal Filipina. Dalam rangkaian kegiatan ASEAN beberapa waktu lalu, para pengusaha tersebut menyampaikan niat mereka untuk tetap mengimpor produk-produk dari Indonesia.

Mendag Budi Santoso memberikan pernyataan resminya di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, pada Kamis (4/6/2026). Ia menegaskan bahwa skema barter ini merupakan alternatif yang sangat mungkin untuk diterapkan saat ini.

Pertimbangan Kondisi Kurs Mata Uang

Munculnya kebijakan barter ini bukan tanpa alasan, melainkan didasari oleh kondisi ekonomi makro yang tengah bergejolak di kawasan Asia Tenggara. Tekanan nilai tukar ternyata tidak hanya dialami oleh Indonesia, tetapi juga berdampak pada mata uang Filipina.

Menurut Budi, kemerosotan nilai tukar di kedua negara tersebut membuat transaksi menggunakan dolar AS menjadi semakin berat. Oleh karena itu, pemerintah mencari jalan keluar yang bisa mempermudah kedua belah pihak dalam menjalankan aktivitas perdagangan bilateral.

Kementerian Perdagangan sendiri bergerak cepat dengan mulai memetakan pembeli atau buyer yang potensial untuk mendukung program barter tersebut. Proses komunikasi dengan para mitra dagang di Filipina diklaim sudah berjalan dan menunjukkan hasil yang positif.

"Karena nilai tukar Filipina juga sedang kurang bagus, kami tawarkan skema barter ini. Saat ini kami sudah mencarikan buyer-nya dan sudah ada kesepakatan awal," jelas Budi Santoso kepada awak media.

Kerahasiaan Jenis Komoditas Barter

Meskipun progres rencana ini terus berjalan, pemerintah masih menutup rapat informasi mengenai barang apa saja yang akan masuk dalam daftar pertukaran. Detail mengenai jenis komoditas tersebut baru akan diungkapkan pada saat momen krusial mendatang.

Budi Santoso menyebutkan bahwa penandatanganan kontrak kerja sama dengan pihak pembeli dijadwalkan berlangsung pada 12 Juni 2026. Ia meminta semua pihak untuk bersabar menunggu rincian lebih lanjut hingga tanggal penandatanganan tersebut tiba.

Beberapa fakta penting terkait persiapan skema barter ini antara lain:

  • Pertemuan awal telah dilakukan dengan pengusaha Filipina dalam forum ASEAN untuk menjajaki peluang transaksi non-tunai.
  • Skema barter dipilih karena nilai tukar peso Filipina dan rupiah Indonesia sama-sama sedang mengalami depresiasi terhadap dolar AS.
  • Pemerintah Indonesia telah mengidentifikasi calon pembeli yang siap terlibat dalam mekanisme pertukaran komoditas ini.
  • Penandatanganan kontrak resmi diagendakan pada 12 Juni 2026 sebagai tonggak awal implementasi kerja sama.
  • Hingga saat ini, jenis produk yang akan ditukar masih bersifat rahasia untuk menjaga stabilitas pasar dan proses negosiasi.

Penjelasan tersebut merangkum langkah strategis yang diambil pemerintah untuk memastikan ekspor Indonesia tetap berjalan lancar meski kondisi ekonomi global sedang tidak menentu. Fokus utamanya adalah meminimalkan ketergantungan pada mata uang asing dalam perdagangan antarnegara tetangga.

Dinamika Rupiah yang Menembus Rp18 Ribu

Kondisi pasar keuangan pada Kamis pagi (4/6/2026) memang menunjukkan tren yang mengkhawatirkan bagi perekonomian nasional. Nilai tukar rupiah terpantau langsung terperosok sejak pembukaan perdagangan di pasar spot.

Berdasarkan data dari Bloomberg pada pukul 09.03 WIB, rupiah berada pada posisi Rp18.003,5 per dolar AS. Angka tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 37 poin atau sekitar 0,21 persen jika dibandingkan dengan posisi pada penutupan hari sebelumnya.

Berikut adalah ringkasan data pergerakan nilai tukar rupiah berdasarkan pantauan pasar:

Indikator Pasar Nilai / Status
Posisi Rupiah (09.03 WIB) Rp18.003,5 per dolar AS
Penurunan Poin 37 Poin
Persentase Pelemahan 0,21 Persen
Rentang Prediksi Harian Rp17.900 - Rp18.050
Status Terhadap Dolar AS Melemah (Depresiasi)

Tabel di atas menggambarkan situasi nilai tukar yang menjadi latar belakang utama mengapa pemerintah akhirnya mempercepat realisasi skema barter. Tekanan yang kuat pada rupiah memaksa otoritas perdagangan untuk berpikir lebih kreatif dalam mengamankan neraca perdagangan.

Sejalan dengan kondisi tersebut, Lukman Leong yang merupakan pengamat pasar uang turut memberikan pandangannya. Ia memperkirakan bahwa pergerakan rupiah sepanjang hari ini akan tetap berada di zona merah dengan fluktuasi yang cukup lebar.

Lukman memproyeksikan mata uang garuda akan bergerak dalam rentang harga antara Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS. Ketidakpastian global serta sentimen ekonomi internal menjadi faktor pendorong utama mata uang domestik sulit keluar dari tekanan.

Langkah Mendag Budi Santoso dengan skema barter ini diharapkan mampu menjadi bantalan ekonomi agar sektor ekspor-impor tidak sepenuhnya lumpuh. Kerja sama dengan Filipina ini akan menjadi proyek percontohan yang menarik untuk dilihat keberhasilannya dalam beberapa pekan ke depan.

Artikel terkait

Rekomendasi