Kekayaan salah satu orang terkaya di Indonesia, Prajogo Pangestu, kembali melonjak signifikan pada penghujung pekan ini. Berdasarkan data Real Time Billionaires yang dirilis oleh Forbes pada Jumat (29/5/2026), harta konglomerat tersebut bertambah sekitar 2,7 miliar dolar Amerika Serikat.
Jika dikonversi ke dalam mata uang lokal, kenaikan tersebut mencapai angka Rp48,09 triliun dalam satu hari saja. Lonjakan aset ini membawa total kekayaan bersih Prajogo kini menyentuh angka 16,4 miliar dolar AS atau setara dengan Rp292,15 triliun.
Kenaikan pesat ini terjadi setelah sebelumnya Prajogo sempat mengalami penurunan kekayaan yang cukup dalam. Hal itu disebabkan oleh sentimen negatif pasar saat beberapa saham perusahaannya dikeluarkan dari daftar indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Dominasi Saham Prajogo di Daftar Top Gainers
Melesatnya pundi-pundi kekayaan Prajogo tidak terlepas dari performa luar biasa sejumlah emiten miliknya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Beberapa perusahaan di bawah naungan Barito Pacific Group berhasil mencatatkan penguatan harga yang sangat tajam.
Tercatat ada tiga emiten utama milik Prajogo yang berhasil menembus daftar lima besar saham dengan kenaikan tertinggi atau top 5 gainers. Ketiga perusahaan tersebut adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Petrosea Tbk (PTRO), dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT).
Berikut adalah daftar perusahaan yang memimpin penguatan pasar pada akhir pekan ini:
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN): Perusahaan fokus energi terbarukan yang menjadi primadona investor.
- PT Petrosea Tbk (PTRO): Emiten jasa pertambangan yang baru-baru ini memperkuat portofolio Prajogo.
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT): Perusahaan induk atau holding company dari berbagai lini bisnis energi dan petrokimia.
- PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU): Emiten di luar grup Barito yang turut mencatat kenaikan signifikan.
- PT Krida Jaringan Nusantara Tbk (KJEN): Perusahaan logistik yang melengkapi daftar lima besar kenaikan tertinggi.
Keberhasilan tiga emiten Prajogo masuk dalam daftar kenaikan tertinggi ini menunjukkan kepercayaan pasar yang kembali pulih. Meskipun sempat diterpa isu indeks global, fundamental perusahaan-perusahaan ini tetap menjadi magnet bagi para pelaku pasar modal.
Rincian Performa Saham yang Meroket
Jika menilik lebih dalam pada perdagangan Jumat (29/5/2026), saham BREN mencatatkan prestasi yang sangat gemilang. Emiten energi terbarukan ini ditutup menyentuh batas Auto Reject Atas (ARA) dengan kenaikan 25 persen ke level Rp3.300 per lembar saham.
Langkah BREN diikuti oleh PTRO yang melonjak sebesar 24,87 persen sehingga harganya kini berada di posisi Rp4.670 per saham. Sementara itu, sang induk usaha yakni BRPT tidak mau ketinggalan dengan mencatatkan penguatan 24,76 persen ke level Rp1.940.
Informasi detil mengenai harga penutupan dan persentase kenaikan saham-saham tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
| Nama Kode Emiten | Harga Penutupan (Rp) | Persentase Kenaikan (%) |
|---|---|---|
| BREN (Barito Renewables) | 3.300 | 25,00 (ARA) |
| PTRO (Petrosea) | 4.670 | 24,87 |
| BRPT (Barito Pacific) | 1.940 | 24,76 |
| CUAN (Petrindo Jaya Kreasi) | 630 | 24,75 |
| CDIA (Chandra Daya Investasi) | 850 | 12,58 |
Tabel di atas merangkum bagaimana hampir seluruh lini bisnis Prajogo Pangestu bergerak secara serentak di zona hijau. Kenaikan harga saham yang sangat tajam ini memberikan dampak instan pada nilai kapitalisasi pasar perusahaan-perusahaan tersebut.
Emiten lain seperti PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) juga ikut terbang setinggi 24,75 persen menjadi Rp630 per saham. Begitu pula dengan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) yang menguat 12,58 persen ke posisi Rp850.
Namun, tidak semua saham milik sang konglomerat bernasib serupa pada perdagangan hari tersebut. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menjadi satu-satunya emiten yang terkoreksi cukup dalam, yakni turun 6,05 persen ke level Rp1.785 per saham.
Dampak Rebalancing Indeks MSCI bagi Kekayaan Prajogo
Sebelum menikmati lonjakan keuntungan ini, Prajogo sempat menghadapi situasi sulit akibat adanya pengocokan ulang atau rebalancing indeks global. Terdapat tiga emiten miliknya yang harus didepak keluar dari perhitungan indeks MSCI.
Ketiga emiten tersebut adalah BREN, TPIA, dan CUAN yang dikeluarkan secara bersamaan oleh Morgan Stanley Capital International. Kabar ini sempat memicu aksi jual masif oleh investor, terutama pengelola dana asing yang mengikuti acuan indeks tersebut.
Poin-poin mengenai dampak pengumuman MSCI terhadap harga saham adalah sebagai berikut:
- Koreksi Saham BREN: Saham ini sempat anjlok hingga 11,36 persen menuju level Rp3.200 per lembar.
- Kejatuhan Saham TPIA: Mengalami penurunan terdalam sebesar 14,85 persen ke posisi Rp4.300 per saham.
- Pelemahan Saham CUAN: Turut melemah sebesar 10,05 persen dan mendarat di harga Rp850 per lembar.
Daftar penurunan harga saham ini terjadi sesaat setelah pengumuman rebalancing pada Rabu (13/5/2026). Sentimen negatif ini memberikan tekanan besar bagi portofolio pribadi Prajogo di pasar saham Indonesia.
Akibat merosotnya harga-harga saham tersebut, total kekayaan Prajogo Pangestu sempat tergerus sekitar 1,8 miliar dolar AS atau Rp31,54 triliun. Saat itu, nilai kekayaannya turun menjadi 18,6 miliar dolar AS atau setara dengan Rp326 triliun (berdasarkan kurs saat itu).
Namun, volatilitas pasar menunjukkan dinamika yang cepat di mana kerugian tersebut kini mulai tertutupi oleh reli saham akhir pekan. Pergerakan liar saham-saham grup Barito ini terus menjadi perhatian utama bagi para investor di Bursa Efek Indonesia.