Wisatawan Gunung Kelir Wonogiri Rusak Tanaman Petani Jagung

Wisatawan Gunung Kelir Wonogiri Rusak Tanaman Petani Jagung
Foto: Ilustrasi Wisatawan Gunung Kelir Wonogiri Rusak Tanaman Petani Jagung.

Gunung Kelir yang terletak di Kecamatan Sidoharjo, Wonogiri, kini tengah menjadi sorotan sebagai destinasi wisata alam baru. Kepopulerannya melonjak berkat fenomena lautan awan yang memukau, terutama saat pagi hari setelah turun hujan.

Ketinggian puncak yang mencapai 550 meter di atas permukaan laut (mdpl) mulai ramai dikunjungi pelancong sejak April 2026. Namun, seperti dilansir dari Detik Travel, lonjakan kunjungan ini justru membawa dampak negatif bagi warga lokal yang mengandalkan lahan di sekitar area tersebut.

Masalah utama yang muncul adalah tindakan sejumlah pengunjung tidak bertanggung jawab yang menyebabkan kerusakan pada tanaman milik petani. Kabar mengenai perilaku buruk wisatawan ini menyebar luas melalui platform media sosial.

Aktivis media sosial Wonogiri melalui akun @Jhon.underground menyampaikan laporan dari warga mengenai kondisi lahan pertanian di area Gunung Kelir. Unggahan video tersebut memperlihatkan kekecewaan petani atas rusaknya komoditas yang mereka tanam dengan susah payah.

"Di balik indahnya Gunung Kelir, ada keluh kesah petani yang menanam di area itu. Ini saya mendapat laporan dari warga sekitar, keluh kesahnya petani," ujar Jhon.

Pihak petani sebenarnya tidak melarang masyarakat untuk menikmati keindahan alam di wilayah mereka. Syarat utama yang diminta hanyalah menjaga etika dan tidak merusak vegetasi, terutama tanaman pangan yang sedang dalam masa pertumbuhan.

"Fomo boleh, tetapi ya tolong benar-benar dijaga. Kalian itu orang bertamu, tanaman itu sulit menanamnya, merawatnya juga sulit. Jangan diinjak-injak," ujar Jhon.

Imbauan Menjaga Ketertiban Pengunjung

Para pengunjung diminta lebih sadar dalam bertindak agar insiden serupa tidak terulang di masa mendatang. Hal ini sangat penting mengingat area tersebut merupakan sumber mata pencaharian utama bagi masyarakat setempat.

"Jangan sampai terjadi lagi, menginjak-injak tanaman, atau mematahkan pohon jagung," sambung Jhon.

Kejadian perusakan ini dinilai cukup mengherankan karena jalur akses yang tersedia bagi wisatawan sebenarnya sudah cukup memadai. Ruang gerak di jalan setapak dinilai luas sehingga tidak ada alasan bagi pelancong untuk merambah ke lahan produktif milik warga.

"Jalannya itu termasuk lebar, aman. Kenapa harus menginjak-injak tanaman. Apa jalannya itu seperti kuda pas lewat situ?" imbuh dia.

Jalur setapak di kawasan Gunung Kelir ini memang melintasi tengah kebun jagung, namun memiliki lebar yang cukup untuk dilewati tanpa harus masuk ke area tanam. Kesadaran untuk menjaga lingkungan dan kebersihan menjadi poin utama yang ditekankan bagi siapa saja yang datang.

Masyarakat lokal mengajak generasi muda untuk lebih peduli dalam merawat spot-spot indah di Wonogiri. Selain menjaga tanaman, wisatawan juga diingatkan untuk tidak membuang sampah sembarangan di area pegunungan.

Sebagai informasi tambahan, akses masuk ke objek wisata ini masih sangat terjangkau bagi publik. Pengunjung saat ini hanya dikenakan biaya parkir kendaraan yang dikelola di halaman rumah-rumah warga sekitar.

Artikel terkait

Rekomendasi