Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, secara tegas menyatakan dukungan penuh dan solidaritas aliansi terhadap Rumania. Pernyataan ini disampaikan melalui sambungan telepon langsung dengan Presiden Rumania.
Langkah diplomatik ini diambil setelah sebuah pesawat nirawak atau drone milik Rusia jatuh di wilayah Rumania yang berbatasan dengan Ukraina. Insiden tersebut dilaporkan telah menyebabkan dua orang mengalami luka-luka.
Peristiwa jatuhnya drone penghancur ini seketika memicu ketegangan yang sangat tinggi di sepanjang wilayah perbatasan Eropa Timur. Situasi di kawasan tersebut kini menjadi perhatian serius bagi banyak negara anggota aliansi.
Mark Rutte selaku pemimpin tertinggi aliansi pertahanan tersebut melayangkan kecaman keras atas tindakan militer yang dilakukan oleh Moskow. Menurutnya, aksi tersebut semakin tidak terkendali serta mengancam stabilitas kawasan secara keseluruhan.
Mengutip laporan dari AFP pada Jumat (29/05/2026), Rutte menegaskan bahwa militer blok Barat telah berada dalam kesiapan penuh. Hal ini dilakukan guna memberikan respons pertahanan yang dibutuhkan demi melindungi kedaulatan negara anggotanya.
Rutte menegaskan komitmennya bahwa NATO siap untuk mempertahankan setiap jengkal wilayah para sekutu tanpa terkecuali. Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bagi pihak mana pun yang berupaya mengganggu keamanan anggota aliansi.
Pihak NATO juga menyatakan akan terus meningkatkan kesiapsiagaan mereka guna menangkal serta membela diri dari segala jenis ancaman. Termasuk di dalamnya adalah ancaman yang berasal dari serangan pesawat nirawak seperti yang baru saja terjadi.
Lebih lanjut, Rutte memberikan peringatan serius terkait dampak luas dari operasi militer ilegal yang diluncurkan oleh Kremlin. Ia menyoroti bahwa agresi yang berlangsung selama beberapa tahun terakhir ini telah membawa risiko besar bagi keamanan global.
Ia menilai bahwa perilaku sembrono yang ditunjukkan oleh Rusia merupakan bahaya nyata bagi semua pihak. Tindakan tersebut dianggap melampaui batas-batas kemanusiaan dan hukum internasional yang berlaku saat ini.
Rusia dinilai terus menargetkan warga sipil dan infrastruktur sipil di seluruh wilayah Ukraina secara konsisten. Serangan yang terjadi baru-baru ini membuktikan bahwa dampak perang agresi tersebut tidak berhenti di garis perbatasan saja.
Selain pimpinan aliansi, pemerintah Amerika Serikat melalui perwakilannya di NATO juga langsung memberikan kecaman serupa. Mereka menolak keras adanya penyusupan wilayah udara yang menimpa negara sekutu mereka.
Duta Besar Amerika Serikat untuk NATO, Matthew Whitaker, menyampaikan sikap resmi negaranya melalui platform media sosial X. Ia menegaskan posisi Washington yang berdiri tegak bersama Rumania dalam menghadapi situasi ini.
Whitaker menyatakan bahwa AS mengutuk keras serangan sembrono yang terjadi di wilayah kedaulatan Rumania. Pihaknya berkomitmen penuh untuk mempertahankan setiap jengkal wilayah NATO dari potensi gangguan eksternal.
Sebagai langkah taktis di lapangan, Komandan Tertinggi NATO Jenderal Alexus Grynkewich dari militer AS telah bergerak cepat. Ia dikabarkan sudah menjalin komunikasi intensif dengan kepala militer Rumania.
Pembicaraan khusus tersebut difokuskan untuk membahas situasi darurat yang sedang terjadi di lokasi kejadian. Koordinasi militer antar kedua negara kini diperketat demi menjaga stabilitas keamanan di wilayah terdampak.
Markas Besar Tertinggi NATO menyatakan bahwa kedua petinggi militer tersebut berjanji untuk terus berkoordinasi selama proses penyelidikan berlangsung. Keduanya sepakat untuk menjaga kontak erat guna memantau perkembangan setiap saat.
Langkah-langkah pertahanan tambahan saat ini sedang dipertimbangkan secara matang oleh pihak aliansi. Hal ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi jika situasi di perbatasan mengalami eskalasi lebih lanjut.
Hingga saat ini, beberapa sumber internal NATO menyebutkan belum ada sinyal kuat terkait pengajuan Pasal Empat. Rumania belum memberikan indikasi akan menyerukan konsultasi darurat di bawah klausul tersebut.
Meskipun Pasal Empat memungkinkan diskusi darurat, langkah ini masih dianggap cukup jauh dari aktivasi Pasal Lima. Pasal Lima merupakan prinsip pertahanan bersama yang sangat sakral bagi seluruh anggota aliansi.
Sebagai catatan sejarah, Pasal Lima NATO tercatat baru pernah digunakan sekali dalam 77 tahun berdirinya aliansi tersebut. Klausul ini diaktifkan hanya setelah terjadinya serangan besar 11 September di Amerika Serikat.
Namun demikian, penggunaan Pasal Empat untuk konsultasi darurat sudah terjadi beberapa kali sejak perang Rusia-Ukraina dimulai. Tercatat ada tiga kali pengajuan konsultasi darurat selama periode konflik skala penuh tersebut.
Berikut adalah rincian penggunaan Pasal Empat oleh anggota NATO selama konflik berlangsung:- Pengaktifan pertama kali dilakukan tepat setelah Rusia memulai invasi ke Ukraina pada awal tahun 2022 lalu.
- Polandia pernah mengajukan konsultasi ini setelah adanya insiden penyusupan drone Rusia ke wilayah udara mereka.
- Estonia juga tercatat pernah menggunakan hak ini setelah jet tempur milik Rusia kedapatan melanggar ruang udara kedaulatan mereka.
Data di atas menunjukkan bahwa negara-negara yang berbatasan langsung dengan wilayah konflik sangat waspada terhadap gangguan kedaulatan. Penggunaan Pasal Empat menjadi mekanisme penting untuk menyatukan sikap para sekutu.
Hingga kini, publik internasional terus memantau apakah jatuhnya drone di Rumania akan memicu langkah pertahanan yang lebih agresif. Stabilitas di Eropa Timur tetap menjadi fokus utama dalam strategi pertahanan global NATO.