Sejumlah rumah di kawasan Taman Mangu Indah, Pondok Aren, Tangerang Selatan, mulai dipasangi spanduk bertuliskan dijual oleh pemiliknya. Seperti dilansir dari Megapolitan, fenomena ini terjadi akibat pemukiman tersebut kerap dilanda banjir imbas luapan air Kali Ciputat.
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Minggu (3/5/2026), spanduk penjualan rumah terlihat di beberapa titik perumahan. Kondisi ini terutama terlihat pada hunian yang berada tepat di seberang kali yang merupakan lokasi paling rawan terendam.
Beberapa rumah tampak tertutup rapat tanpa adanya aktivitas penghuni di dalamnya. Sementara itu, rumah yang masih dihuni menunjukkan bekas genangan air berwarna coklat pada bagian dinding dan pagar rumah.
Infrastruktur jalan di lingkungan tersebut juga mengalami kerusakan berupa aspal yang retak dan tidak rata. Celah retakan jalan tampak ditumbuhi lumut hijau yang menjadi penanda bahwa area tersebut sangat sering tergenang air.
Retakan pada jalan tersebut juga dilaporkan menjadi jalur rembesan air dari kali saat hujan turun. Hal ini mengakibatkan permukaan jalan terus-menerus lembap dan menjadi licin bagi para pengguna jalan.
Bekas genangan air di dinding rumah warga terlihat mencapai ketinggian sekitar 30 sentimeter. Sebagai langkah antisipasi banjir susulan, warga meninggikan perabot rumah tangga mereka seperti kursi dan lemari.
Ketua RT 04 RW 12 Taman Mangu Indah, Imawan Susanto (52), menyebutkan bahwa banjir kini terjadi lebih sering meskipun hanya dipicu oleh hujan dengan intensitas ringan.
"Sekarang banjir terus, hujan sedikit langsung banjir. Dikit-dikit banjir," ujar Imam saat ditemui di lokasi.
Ia mengungkapkan adanya perubahan pola banjir yang semula hanya terjadi dalam siklus lima tahunan. Saat ini, bencana luapan air tersebut bisa melanda kawasan pemukiman warga beberapa kali dalam satu tahun.
"Bahkan setahun bisa beberapa kali, kadang saya kasihan sama warga saya yang rumahnya belum direnovasi jadi sering terendam," kata dia.
Imam menambahkan bahwa kondisi banjir yang merusak perabotan ini mendorong sebagian warga mengambil keputusan untuk menjual aset rumah mereka. Para warga memilih pindah karena tidak sanggup menghadapi banjir yang terus berulang.
Penyebab dan Harapan Normalisasi Kali Ciputat
Ketua RT 02 RW 12 Taman Mangu Indah, Sugiyanto (63), menyampaikan keluhan serupa mengenai frekuensi banjir yang meningkat drastis. Ia mencatat perbedaan besar sejak pertama kali menetap di kawasan itu pada tahun 1994.
"Kalau sekarang hujan sedikit banjir, hujan sedikit banjir," ujar Sugiyanto.
Sugiyanto menyoroti Jalan Ceger Raya yang berada di depan perumahan kini ikut terendam saat hujan turun, padahal dulunya tidak pernah tergenang. Ia menduga bertambahnya pemukiman di area hulu mengurangi daya serap air.
"Sekarang kan perumahan makin banyak, penyerapan air jadi kurang maksimal, akhirnya debit air makin besar," kata dia.
Selain faktor hulu, Sugiyanto menduga terjadi pendangkalan pada aliran sungai karena selama ia tinggal di sana belum pernah dilakukan pengerukan menyeluruh.
"Mungkin kali di Taman Mangu itu perlu dikeruk, dinormalisasi lagi. Karena selama saya tinggal di sini belum pernah ada pengerukan," jelas dia.
Meskipun tanggul penahan sudah ditinggikan, rembesan air masih sering masuk ke area permukiman. Hal ini membuat warga mendesak pemerintah untuk melakukan perbaikan jalan yang retak dan normalisasi sungai secara total.
"Paling kali dinormalisasi. Ya mungkin kalau dinormalisasi lagi insya Allah mudah-mudahan agak mengurangin juga," kata Sugiyanto.
"Ya kalau warga sendiri sih maunya harus ada perbaikan, terutama jalanannya ya, karena sudah retak dan sering keluar air dari situ, takutnya jeblos aja," ucap Imawan.