Vietnam Salip RI, Inilah Sosok Raja Baru Industri Manufaktur Dunia 2026

Vietnam Salip RI, Inilah Sosok Raja Baru Industri Manufaktur Dunia 2026
Foto: Vietnam Salip RI, Inilah Sosok Raja Baru Industri Manufaktur Dunia 2026. (Illustration by Pexels)

Vietnam kini menjadi sorotan di panggung industri global setelah berhasil mencatatkan prestasi gemilang. Negara ini secara resmi telah masuk ke dalam jajaran sepuluh besar produsen baja terbesar di dunia.

Pencapaian tersebut sekaligus mengukuhkan posisi Vietnam sebagai pemimpin produksi baja di Asia Tenggara, melampaui posisi Indonesia. Estimasi produksi baja Vietnam diproyeksikan menyentuh angka 24,7 juta ton, sementara Indonesia berada di level 19 juta ton per tahun.

Sektor baja sendiri memegang peranan vital yang sering dijuluki sebagai Mother of Industry atau ibu dari segala industri. Hal ini dikarenakan baja menjadi pondasi utama bagi berbagai sektor strategis seperti konstruksi, manufaktur, hingga otomotif.

Selain itu, baja juga menjadi material krusial dalam pengembangan sektor energi, perkapalan, dan industri pertahanan. Tanpa ketersediaan baja yang memadai, roda industri nasional di berbagai bidang akan sulit bergerak maju.

Berdasarkan data terbaru dari World Steel Association, Vietnam menempati peringkat ke-10 sebagai produsen baja mentah (crude steel) terbesar di dunia pada April 2026. Pada periode tersebut, Vietnam memproduksi 2,1 juta ton baja atau tumbuh sebesar 4 persen secara tahunan.

Dengan kenaikan angka produksi tersebut, Vietnam berhasil menggeser posisi Italia dari daftar elit produsen baja dunia. Keberhasilan ini bukan didapat secara instan, melainkan hasil dari transformasi panjang yang telah direncanakan secara matang.

Menengok ke belakang pada awal era 2000-an, industri baja Vietnam sebenarnya masih sangat bergantung pada impor bahan baku. Saat itu, mereka harus mendatangkan baja setengah jadi dari luar negeri demi memenuhi kebutuhan pembangunan domestik.

Namun, titik balik terjadi sejak tahun 2010 ketika pemerintah Vietnam mulai serius membangun ekosistem industri baja yang terintegrasi. Fokus mereka meluas dari sekadar baja konstruksi menjadi produksi baja berkualitas tinggi untuk kebutuhan industri berat.

Salah satu aktor utama di balik kemajuan pesat ini adalah Hoa Phat Group. Perusahaan raksasa ini memiliki kompleks baja terpadu yang sangat luas, yaitu Hoa Phat Dung Quat.

Fasilitas modern tersebut mampu menghasilkan berbagai jenis baja dengan nilai tambah yang tinggi. Beberapa produk unggulannya meliputi baja teknik, baja pegas, baja untuk kawat las, hingga material khusus untuk rel kereta cepat.

Lonjakan kapasitas produksi baja mentah di Vietnam tercatat sangat signifikan dalam kurun waktu yang singkat. Pada tahun 2023, produksi mereka masih berada di angka 20 juta ton, namun meningkat menjadi 24,6 juta ton pada 2025.

Artinya, dalam rentang waktu dua tahun saja, kapasitas produksi baja Vietnam tumbuh pesat sekitar 23 persen. Hoa Phat sendiri memberikan kontribusi yang sangat dominan terhadap angka produksi nasional tersebut.

Pada sepanjang tahun 2025, Hoa Phat memproduksi sekitar 11 juta ton baja mentah. Jumlah tersebut setara dengan 44,7 persen dari total keseluruhan produksi baja nasional Vietnam.

Ambisi mereka tidak berhenti di situ, karena tahun ini perusahaan menargetkan produksi lebih dari 14 juta ton. Pertumbuhan ini didorong oleh masifnya pembangunan infrastruktur dan kawasan industri baru di negara tersebut.

Selain faktor infrastruktur, ekspansi di sektor manufaktur dan energi juga menjadi penggerak utama konsumsi baja dalam negeri Vietnam. Konsumsi baja nasional mereka pada 2025 mencapai 24,1 juta ton, meningkat 12,9 persen dari tahun sebelumnya.

Walaupun Vietnam telah mencetak prestasi luar biasa, mereka tetap belum bisa menandingi dominasi pemain utama di level global. Persaingan di industri baja masih dikuasai oleh kekuatan besar yang sulit digoyahkan.

Dominasi China sebagai Raja Baja Dunia

Jika Vietnam dan Indonesia masing-masing berada di jajaran 10 dan 15 besar dunia, maka China berada di kelas yang berbeda. World Steel Association mencatat total produksi baja mentah dunia mencapai angka fantastis 1,85 miliar ton pada 2025.

Dari total produksi global tersebut, China memberikan kontribusi yang sangat masif yakni sebesar 960,8 juta ton. Angka ini setara dengan 52 persen dari total seluruh produksi baja di planet bumi.

Rincian Perbandingan Produksi Baja Global Tahun 2025:

Peringkat Produksi Negara Total Produksi (Juta Ton)
1 China 960,8
2 India 164,9
3 Amerika Serikat 82,0
4 Jepang 80,7
5 Korea Selatan 61,9
10 Vietnam 24,7
15 Besar Indonesia 19,0

Data di atas memperlihatkan kesenjangan produksi yang sangat lebar antara China dengan negara-negara produsen utama lainnya. Hal ini menegaskan posisi China sebagai penguasa mutlak "ibu industri" dunia yang sesungguhnya.

Dominasi yang begitu besar membuat kondisi ekonomi China menjadi penentu utama arah harga komoditas global. Pergerakan pasar baja dunia sangat sensitif terhadap kebijakan ekonomi dan aktivitas industri di Beijing.

Sebagai contoh, ketika industri properti di China mengalami perlambatan, dampaknya langsung terasa pada harga bahan baku global. Harga bijih besi dan batu bara kokas biasanya akan ikut tertekan seiring melemahnya permintaan dari China.

Sebaliknya, jika pemerintah China mengeluarkan kebijakan stimulus untuk percepatan infrastruktur, harga komoditas akan langsung meroket. Hal ini menunjukkan betapa krusialnya peran China dalam menjaga stabilitas rantai pasok industri dunia.

Indonesia sendiri tetap berupaya memperkuat industri bajanya di tengah persaingan ketat dengan Vietnam di kawasan regional. Fokus utama saat ini adalah memastikan pasokan baja untuk kebutuhan proyek strategis nasional dan industri manufaktur dalam negeri.

Kenaikan nilai mata uang dolar AS juga menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku industri baja di tanah air. Fluktuasi tersebut berdampak langsung pada biaya operasional serta harga jual material konstruksi di pasar domestik.

Artikel terkait

Rekomendasi