Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan telah melakukan pendekatan khusus secara tertutup kepada Presiden China, Xi Jinping. Upaya diplomatik ini bertujuan untuk meminta bantuan Beijing dalam menyelesaikan konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina yang hingga kini masih berlangsung.
Kabar tersebut pertama kali diungkap oleh sumber yang mengetahui jalannya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) AS-China yang digelar di Beijing pada pertengahan Mei 2026. Dalam pertemuan tersebut, Trump secara spesifik meminta Xi untuk membujuk Presiden Rusia, Vladimir Putin, agar bersedia kembali ke meja perundingan.
Ambisi Donald Trump Mengakhiri Perang
Sejak kembali menjabat sebagai Presiden AS, Trump menjadikan resolusi konflik di Ukraina sebagai fokus utama kebijakan luar negerinya. Ia berambisi untuk segera menghentikan peperangan yang telah memakan banyak korban jiwa dan mengganggu stabilitas ekonomi global.
Meski memiliki tekad yang kuat, upaya diplomasi langsung antara Rusia dan Ukraina tercatat sangat minim. Dialog tingkat tinggi terakhir yang melibatkan kedua negara tersebut hanya terjadi di Türkiye pada Juli tahun lalu tanpa hasil yang signifikan.
Selain mendekati pihak China, Trump juga dilaporkan sempat memberikan tekanan politik kepada Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, pada Maret 2026. Ia mendorong Zelensky agar segera menyetujui poin-poin dalam perjanjian damai guna mengakhiri ketegangan dengan Moskow.
Namun, upaya di meja hijau tersebut berbanding terbalik dengan situasi mencekam yang terjadi di medan tempur. Eskalasi militer justru kembali meningkat dengan serangan-serangan destruktif yang dilakukan oleh kedua belah pihak dalam beberapa pekan terakhir.
Kronologi singkat eskalasi serangan militer terbaru:
- 25 Mei 2026: Rusia meluncurkan serangan rudal balistik hipersonik jenis Oreshnik ke jantung ibu kota Ukraina, Kyiv.
- 30 Mei 2026: Ukraina membalas dengan melakukan serangan udara yang menyasar pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia yang sedang diduduki Rusia.
Serangkaian serangan balasan ini menunjukkan bahwa meskipun upaya diplomasi sedang diupayakan di balik layar, realitas di lapangan tetap menunjukkan intensitas peperangan yang sangat tinggi.
Respons Terbatas dari Washington dan Beijing
Hingga saat ini, Gedung Putih masih sangat tertutup mengenai rincian pembicaraan rahasia antara Trump dan Xi Jinping. Donald Trump sendiri hanya memberikan pernyataan singkat tanpa menjelaskan komitmen konkret apa yang dihasilkan dari pertemuan tersebut.
Dalam sebuah kesempatan, Trump hanya mengonfirmasi bahwa masalah Ukraina memang menjadi salah satu topik bahasan. Ia menyatakan harapan besar agar krisis kemanusiaan tersebut dapat segera menemukan titik temu dan diselesaikan dengan cepat.
Menariknya, dokumen resmi atau fact sheet yang dirilis oleh pemerintah Amerika Serikat tidak menyertakan isu Ukraina dalam daftar hasil KTT. Hal ini memperkuat dugaan bahwa permintaan bantuan kepada China tersebut bersifat sangat privat dan informal.
Di pihak lain, pemerintah China mengeluarkan pernyataan yang cenderung diplomatis dan normatif. Mereka hanya menyebutkan bahwa kedua pemimpin negara tersebut saling bertukar pikiran mengenai berbagai isu internasional, termasuk situasi krisis di Ukraina.
Hanya berselang lima hari setelah bertemu Trump, Presiden Xi Jinping langsung menyambut kedatangan Vladimir Putin di Beijing. Pertemuan kedua pemimpin sekutu dekat ini menghasilkan pernyataan bersama yang menekankan pentingnya keamanan global yang komprehensif.
Poin utama pernyataan bersama China dan Rusia:
- Menyepakati bahwa akar penyebab krisis di Ukraina harus segera diidentifikasi dan dihilangkan secara permanen.
- Menekankan pembentukan kerangka keamanan bersama yang berlandaskan pada prinsip-prinsip Piagam PBB.
- Menegaskan pentingnya perdamaian abadi melalui dialog yang menghormati kedaulatan negara.
Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa China dan Rusia memiliki pandangan tersendiri dalam menyikapi konflik Ukraina. Mereka tampak lebih mengutamakan penataan ulang sistem keamanan global dibandingkan sekadar mengikuti permintaan Amerika Serikat.
Prioritas Geopolitik dalam Pertemuan AS-China
Laporan dari berbagai media internasional menyebutkan bahwa isu Ukraina sebenarnya bukanlah fokus utama dalam agenda KTT AS-China bulan lalu. Isu ini dianggap sebagai agenda sekunder jika dibandingkan dengan kepentingan ekonomi kedua negara raksasa tersebut.
Berikut adalah ringkasan pembagian prioritas pembahasan dalam KTT AS-China berdasarkan intensitas diskusi:
| Kategori | Topik Pembahasan Utama |
|---|---|
| Prioritas Utama | Sektor Perdagangan Internasional dan Kerjasama Investasi. |
| Isu Geopolitik | Stabilitas di Selat Taiwan dan Ketegangan di Timur Tengah (Iran). |
| Isu Sampingan | Permintaan bantuan mediasi untuk konflik Rusia-Ukraina. |
Data di atas memperlihatkan bahwa meskipun Trump sangat menginginkan keterlibatan China dalam urusan Rusia, masalah domestik dan ekonomi tetap mendominasi meja perundingan. China sendiri tampaknya masih sangat berhati-hati dalam mengambil peran sebagai mediator aktif dalam konflik Ukraina.