Sektor perbankan saat ini tengah meningkatkan upaya untuk memperbanyak perolehan dana murah atau Current Account Saving Account (CASA). Langkah strategis ini diambil sebagai langkah antisipasi untuk menekan kenaikan biaya dana (cost of fund/COF) yang dipicu oleh kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate pada bulan Mei 2026 lalu.
Keseriusan bank dalam memburu dana murah ini tecermin dari data pertumbuhan industri yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI). Hingga periode April 2026, tercatat bahwa pertumbuhan CASA yang mencakup instrumen giro dan tabungan menunjukkan performa yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan simpanan berjangka.
Berdasarkan data resmi Bank Indonesia, instrumen giro berhasil tumbuh secara signifikan sebesar 15,9% secara tahunan atau year-on-year (yoy). Sementara itu, instrumen tabungan juga mencatatkan pertumbuhan yang positif di angka 8,9% (yoy) pada periode yang sama.
Di sisi lain, simpanan berjangka atau deposito hanya mengalami pertumbuhan sebesar 4,6% (yoy). Angka tersebut menunjukkan adanya pergeseran preferensi pendanaan bank yang lebih mengutamakan dana dengan biaya yang lebih efisien.
Analisis Pertumbuhan Dana Murah di Tengah Kenaikan BI Rate
Trioksa Siahaan, selaku Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), memberikan pandangannya terkait fenomena ini. Ia memperkirakan bahwa tren pertumbuhan CASA akan tetap melampaui pertumbuhan deposito dalam beberapa waktu ke depan.
Menurut Trioksa, pemicu utama dari dinamika ini adalah kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25% pada Mei 2026. Keputusan bank sentral tersebut secara otomatis memberikan tekanan bagi perbankan untuk menyesuaikan bunga simpanan mereka.
Kenaikan suku bunga acuan tersebut berpotensi besar mengerek bunga deposito, yang kemudian berdampak pada membengkaknya biaya dana atau COF bagi bank. Oleh karena itu, bank perlu bertindak cepat dengan mengatur ulang komposisi pendanaan mereka.
Pihak manajemen bank dipastikan akan lebih memilih untuk memperbesar porsi dana murah dan mulai membatasi pendanaan dari sektor deposito. Hal ini dilakukan agar kenaikan biaya dana tetap berada dalam level yang terkendali dan tidak menggerus margin keuntungan.
Pernyataan Trioksa Siahaan mengenai agresivitas perbankan dalam mencari CASA:
"Kenaikan BI Rate akan mendorong bank semakin agresif meningkatkan porsi CASA karena sumber dana ini menjadi kunci untuk menjaga COF tetap rendah," ujar Trioksa saat dihubungi pada Selasa, 2 Juni 2026.
Strategi CIMB Niaga dalam Menjaga Efisiensi Biaya Dana
Salah satu pelaku industri yang sangat aktif mendorong pertumbuhan CASA adalah PT Bank CIMB Niaga Tbk. Bank ini berupaya keras agar porsi dana murah mereka tetap dominan demi menjaga tingkat biaya dana agar tetap stabil dan rendah.
Merujuk pada laporan keuangan perusahaan per April 2026, porsi dana murah di CIMB Niaga telah menyentuh angka 74% dari keseluruhan Dana Pihak Ketiga (DPK). Pencapaian ini meningkat cukup tajam dibandingkan posisi April 2025 yang saat itu berada di level 67,2%.
Lani Darmawan, Presiden Direktur CIMB Niaga, menegaskan komitmen perusahaan untuk terus mempertahankan rasio CASA pada level yang tinggi. Ia mengungkapkan kekhawatirannya jika biaya dana bank akan merangkak naik menyusul kebijakan kenaikan BI Rate terbaru.
Lani mencatat bahwa sebenarnya dalam kurun waktu enam bulan terakhir, biaya dana di CIMB Niaga menunjukkan tren penurunan. Namun, situasi ini diprediksi akan berubah menjadi lebih menantang setelah adanya penyesuaian suku bunga acuan oleh BI.
Lani Darmawan menjelaskan sumber utama pertumbuhan dana murah di CIMB Niaga:
- Giro non-retail menjadi kontributor terbesar yang berasal dari rekening operasional serta layanan cash management korporasi.
- Produk tabungan mengalami peningkatan signifikan yang didorong oleh pertumbuhan nasabah payroll.
- Layanan wealth management juga memberikan dampak positif terhadap penambahan saldo tabungan nasabah.
CIMB Niaga memproyeksikan bahwa porsi dana murah mereka akan tetap terjaga di atas level 70% hingga pengujung tahun 2026. Strategi ini dianggap paling efektif untuk menghadapi fluktuasi suku bunga yang terjadi di pasar keuangan saat ini.
Dominasi Dana Murah di BCA Melalui Transformasi Digital
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) juga terus memperkokoh posisinya sebagai salah satu bank dengan rasio CASA terbesar di tanah air. Hingga April 2026, komposisi dana murah di bank ini telah mencapai 84,97% dari total keseluruhan dana pihak ketiga.
Angka ini menunjukkan peningkatan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025, di mana rasio CASA BCA berada di angka 82,88%. Secara nominal, nilai dana murah yang dikelola BCA per April 2026 telah menembus angka Rp1.058 triliun.
EVP Corporate Communication BCA, Hera F. Heryn, menyatakan bahwa model bisnis BCA memang sangat bertumpu pada perolehan CASA sebagai pilar utama pendanaan. Ia menilai pertumbuhan ini merupakan hasil langsung dari peningkatan aktivitas transaksi para nasabah.
Pihak BCA melihat adanya korelasi positif antara jumlah transaksi yang dilakukan nasabah dengan saldo yang mengendap di rekening tabungan maupun giro. Semakin sering nasabah menggunakan layanan perbankan, maka semakin solid pula basis dana murah perusahaan.
Data pertumbuhan transaksi digital dan strategi operasional BCA:
- Frekuensi transaksi pada kuartal pertama 2026 melonjak hingga 61% dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.
- Sebanyak 99,8% dari seluruh total transaksi nasabah BCA kini telah diproses melalui berbagai kanal layanan digital.
- Penerapan konsep hybrid banking terus diusung untuk memberikan kemudahan akses bagi nasabah di seluruh Indonesia.
Hera optimistis bahwa ke depannya pertumbuhan tabungan dan giro di BCA akan tetap menunjukkan performa yang solid. Hal ini sejalan dengan volume transaksi yang terus meningkat setiap tahunnya melalui inovasi layanan digital yang dikembangkan perusahaan.
Daftar Rasio CASA Perbankan Nasional
Berikut adalah ringkasan mengenai perbandingan tingkat dana murah pada beberapa bank besar di Indonesia berdasarkan data terbaru.
Rasio perolehan dana murah (CASA) sejumlah bank besar per April 2026:
| Nama Institusi Perbankan | Rasio CASA (%) |
|---|---|
| PT Bank Central Asia Tbk | 84,97% |
| PT Bank CIMB Niaga Tbk | 74,00% |
| PT Bank Mandiri Tbk | 71,21% |
| PT Bank Rakyat Indonesia Tbk | 70,78% |
| PT Bank Negara Indonesia Tbk | 69,90% |
| PT Bank Permata Tbk | 63,60% |
| PT Bank OCBC NISP Tbk | 63,02% |
Data dalam tabel di atas menunjukkan bahwa mayoritas bank besar di Indonesia telah berhasil menjaga porsi dana murah mereka di atas level 60%. Kondisi ini mencerminkan struktur permodalan yang cukup sehat untuk menghadapi tantangan kenaikan suku bunga.
Langkah-langkah yang diambil oleh perbankan ini sangat krusial bagi stabilitas sistem keuangan secara makro di Indonesia. Dengan beban bunga simpanan yang terkendali, diharapkan bank tetap memiliki ruang untuk menyalurkan kredit kepada masyarakat dengan bunga yang kompetitif.