Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada perdagangan Senin, 25 Mei 2026 pagi. Berdasarkan data Bloomberg yang dikutip dari Investortrust, mata uang garuda melemah 0,03% ke level Rp 17.722 per dolar AS pada pukul 09.19 WIB.
Pergerakan mata uang domestik kemudian mulai menunjukkan tanda-tanda penguatan menjelang siang. Pada pukul 09.53 WIB, depresiasi rupiah terpangkas menjadi 0,01% dan berada di posisi Rp 17.718 per dolar AS.
Chief Analyst Doo Financial Future Lukman Leong menilai bahwa mata uang rupiah masih memiliki potensi untuk menguat terhadap dolar AS. Situasi ini didorong oleh adanya ekspektasi positif terkait perdamaian di kawasan Timur Tengah.
"Harga minyak mentah dunia yang turun merespon pernyataan Presiden AS, Donald Trump yang mengatakan bahwa perundingan dengan Iran berjalan secara 'konstruktif'," kata Lukman.
Kondisi pasar komoditas mencatat harga minyak dunia anjlok lebih dari 4% pada perdagangan Minggu, 24 Mei 2026 waktu AS. Penurunan ini dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai kemajuan positif dalam pembicaraan dengan Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.
Melansir data CNBC, kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) merosot hampir 5% ke level US$ 92,05 per barel. Sementara itu, minyak mentah acuan global Brent juga melemah hampir 5% menuju posisi US$ 98,88 per barel.
Melalui unggahan di media sosial miliknya, Trump menjelaskan bahwa proses negosiasi berjalan dengan lancar. Meski demikian, ia menginstruksikan didelegasikan AS untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan.
"Negosiasi berjalan secara tertib dan konstruktif, dan saya telah menginstruksikan perwakilan saya untuk tidak terburu-buru karena waktu berada di pihak kita," tulis Trump.
Di sisi lain, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau bergerak menguat terhadap dolar AS menjelang pukul 10.00 WIB. Yuan China tercatat menguat 0,23%, dolar Hongkong naik 0,01%, yen Jepang menguat 0,21%, dan rupee India menguat hingga 0,53%.
Tren positif ini juga diikuti oleh mata uang Asia Tenggara lainnya. Ringgit Malaysia mengalami penguatan sebesar 0,36%, peso Filipina terapresiasi 0,47%, dolar Singapura menguat 0,25%, serta baht Thailand memimpin penguatan sebesar 0,65%.