Dosen Psikologi FISIP Universitas Brawijaya Sumi Lestari memaparkan pentingnya pengendalian kecemasan bagi peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) pada Kamis (23/4/2026) guna mencegah kelelahan fisik maupun psikologis. Tekanan tersebut muncul akibat ambisi kuat siswa dalam menjadikan UTBK sebagai parameter kesuksesan masuk perguruan tinggi.
Kecenderungan peserta memberikan upaya maksimal sering kali menjadi pemicu stres yang bersifat destruktif. Dilansir dari Bisnis.com, Sumi menjelaskan bahwa terdapat perbedaan antara stres yang membangun dan stres yang merusak dalam ilmu psikologi.
ÔÇ£Maka dari itu, peserta akan memberi upaya maksimal yang cenderung berpotensi menjadi sumber tekanan yang menyebabkan datangnya rasa lelah fisik maupun psikologis,ÔÇØ ujarnya Kamis (23/4/2026).
Sumi mengidentifikasi adanya dua tipe stres, yakni Eustress yang bersifat konstruktif dan Distress yang bersifat destruktif. Stres konstruktif membantu individu bersiap mengantisipasi kegagalan, sementara stres destruktif justru memicu individu merendahkan diri sendiri secara tidak realistis.
ÔÇ£Dalam konteks UTBK, perlu dihindari stres yang bersifat destruktif, karena ketakutan akan kegagalan yang terlalu berlebihan dapat merugikan diri sendiri. Ketika hal ini kontraproduktif, seorang individu dapat memforsir diri untuk belajar tetapi cenderung melupakan dirinya sendiri, seperti melupakan waktu makan dan tidak meluangkan waktu istirahat yang cukup,ÔÇØ jelas wanita yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan Mahasiswa FISIP ini.
Penguasaan materi yang matang disebut menjadi kunci utama untuk meningkatkan rasa percaya diri. Menurut Sumi, persiapan yang baik dapat mengeliminasi kebiasaan berpikir berlebihan atau overthinking yang merusak fokus peserta.
ÔÇ£Jika persiapan sudah dilakukan sebaik mungkin, seorang individu dapat melakukan evaluasi terkait kekurangan yang perlu diperbaiki. Jika sudah mampu mengevaluasi kinerja diri sendiri, maka tidak akan terjadi overthinking. Mereka akan lebih siap untuk menerima hasil apa adanya,ÔÇØ terangnya.
Strategi pertama yang disarankan adalah pengelolaan kognitif. Metode ini berfungsi untuk membantu individu tetap rasional dan membuang proyeksi negatif yang belum tentu terjadi di masa depan.
ÔÇ£Stres sering dipicu oleh faktor pikiran. Strategi kognitif membantu individu untuk berpikir secara lebih rasional dan meninggalkan pikiran-pikiran negatif yang belum tentu terjadi. Berpikirlah positif agar perilaku yang tampak pun positif,ÔÇØ jelasnya.
Langkah kedua melibatkan regulasi emosi demi menjaga ketenangan saat ujian berlangsung. Pengendalian emosi yang stabil memungkinkan otak menarik kembali informasi yang telah dipelajari dengan lebih optimal.
ÔÇ£Terkadang mengelola emosi itu penting untuk menjaga kita tetap tenang dan fokus,ÔÇØ ujarnya.
Penerapan manajemen waktu belajar atau strategi perilaku menjadi poin terakhir dalam persiapan mental. Sumi mengingatkan bahwa belajar secara mendadak hanya akan memasukkan informasi ke dalam memori jangka pendek yang mudah hilang.
ÔÇ£Tetaplah optimis dan percaya bahwa usaha yang dilakukan tidak akan sia-sia. Jika hasilnya sesuai dengan harapan, jadikanlah sebagai awal untuk melangkah lebih jauh. Namun, jika belum sesuai, bukan berarti segalanya telah berakhir. Masih banyak jalan dan kesempatan lain yang dapat ditempuh. Teruslah melangkah, karena masa depan akan selalu terbuka bagi kita yang tidak pernah menyerah,ÔÇØ ucapnya.