Di bawah temaram lampu area bawah tanah Mal Blok M yang kini bertransformasi menjadi Blok M Hub, tangan Rohman bergerak lincah menekan titik-titik saraf. Dengan remasan yang kuat dan mantap, ia seolah tidak membiarkan rasa pegal menetap lebih lama di tubuh pelanggannya.
Krim pijat putih yang melumuri telapak tangannya membuat setiap gerakan terasa sangat halus dan mengalir. Jari-jari pria ini tampak sudah sangat hafal dengan setiap jalur otot yang harus ia telusuri di sepanjang tubuh pasiennya.
Keahlian Rohman dalam memijat benar-benar memukau bagi siapa pun yang merasakannya secara langsung. Jika kemampuan memijat bisa disetarakan dengan akting di layar lebar, mungkin ia sudah mengoleksi piala Oscar dalam jumlah yang sangat banyak.
Urat-urat yang menonjol di lengannya menjadi bukti nyata betapa besar tenaga yang ia curahkan malam itu. Meski postur tubuhnya tergolong kecil dan ramping, kekuatan yang dihasilkan dari tangannya justru terasa sangat kontras dan bertenaga.
Sisa energinya malam itu seakan dipusatkan sepenuhnya pada telapak tangan untuk menekan rasa lelah pelanggan terakhirnya. Rohman layaknya karakter Naruto yang sedang memusatkan cakra, namun bukan untuk jurus tempur, melainkan untuk memberikan relaksasi maksimal.
Ritme pijatannya sangat teratur, sebuah gerakan yang lahir dari jam terbang tinggi selama melakukan pekerjaan ini ribuan kali. Kaki yang seharian lelah mengejar jadwal pejabat negara yang berubah-ubah pun perlahan terasa lebih ringan berkat sentuhan tangan dingin Rohman.
Sudut Tersembunyi di Tengah Modernitas Blok M Hub
Tempat kerja Rohman berada di sebuah sudut sunyi yang jarang dilirik oleh anak muda yang biasanya memadati area utama Blok M Hub. Untuk mencapai lapak pijat refleksinya, pengunjung harus berjalan cukup jauh hingga ke ujung bangunan yang paling dalam.
Jika masuk melalui tangga dekat minimarket, pengunjung harus menyusuri lorong panjang yang kini didominasi oleh deretan stan makanan kekinian. Pemandangan ini sangat kontras dengan wajah Mal Blok M beberapa tahun lalu yang sempat terasa sepi dan nyaris mati.
Setelah melewati area makanan, perjalanan berlanjut dengan melewati deretan kios pakaian bekas atau thrift shop yang sangat padat. Berbagai jenis jaket denim, kaos motif, hingga celana panjang tergantung rapat memenuhi sisi lorong yang sempit tersebut.
Dari lorong itu, jalan akan terbuka menuju area transisi yang lebih luas, yang menjadi penghubung antara Blok M Hub dengan Halte Transjakarta. Di area inilah nuansa Blok M yang lama masih terasa sangat kental dengan langit-langit bangunan yang tinggi.
Suasananya memang tidak seramai bagian depan, namun tetap ada denyut kehidupan dari orang-orang yang berlalu-lalang menuju halte. Sebagian orang tampak berjalan terburu-buru, sementara yang lain duduk santai menikmati kudapan di bangku yang tersedia.
Di area penghubung ini, berdiri berbagai jenis usaha kecil mulai dari salon berwarna pink mencolok hingga toko perlengkapan bayi. Di tengah hiruk-pikuk kios sandal, sepatu, dan aksesori ponsel inilah Rohman menggelar kursi pijat refleksinya untuk mencari nafkah.
Bertahan di Tengah Perubahan Zaman dan Renovasi
Pada Senin malam (25/5), jarum jam sudah menunjukkan pukul 20.35 WIB, mendekati waktu operasional kios yang akan tutup pukul 21.00 WIB. Meski sudah hampir tutup, Rohman tetap menyambut pelanggan terakhirnya dengan ramah dan mempersilakan duduk di kursi pijat.
Jadwal operasional tempat pijat refleksi Rohman:
- Buka mulai pukul 10.00, 11.00, atau terkadang jam 12.00 siang tergantung situasi.
- Tutup setiap hari tepat pada pukul 21.00 WIB.
- Alasan buka lebih siang dikarenakan pagi hari biasanya belum ada pengunjung yang datang ke area tersebut.
Penetapan jam operasional tersebut dilakukan berdasarkan pengalaman Rohman yang melihat pola kunjungan pelanggan di kawasan bawah tanah tersebut. Ia mulai bekerja sebagai terapis di lokasi ini sejak tahun 2020, tepat saat pandemi Covid-19 sedang melanda dunia.
Selama kurang lebih enam tahun mengais rezeki di sana, Rohman sudah sangat mengenal siapa saja pedagang yang paling tangguh bertahan. Ia menyebutkan bahwa tetangganya, penjual aksesori dan konter ponsel, merupakan penghuni lama yang sudah ada jauh sebelum renovasi dilakukan.
Daftar pedagang dan kondisi lingkungan lama di Blok M menurut ingatan Rohman:
- Warung makan dan pedagang aksesori kecil yang sudah bertahan selama puluhan tahun.
- Kondisi kawasan yang dulunya masih berupa lapak emperan sebelum adanya jalur Transjakarta.
- Dahulu area ini masih didominasi oleh angkutan umum legendaris seperti Metro Mini.
Rohman memperkirakan para pedagang lama tersebut bisa bertahan karena memiliki kontrak sewa jangka panjang hingga puluhan tahun. Hal inilah yang membuat mereka tetap eksis meskipun wajah kawasan Blok M telah mengalami transformasi besar berkali-kali.
Perubahan yang paling terasa bagi Rohman adalah ketika kawasan ini mulai dikelola secara lebih profesional oleh Pemerintah Provinsi Jakarta. Renovasi fisik mulai dilakukan di berbagai sudut, mulai dari penggantian pagar hingga penataan ulang area yang dianggap kurang rapi.
Kabarnya, pada Agustus 2027 mendatang akan ada renovasi besar-besaran yang akan mengubah total tampilan kawasan yang ada saat ini. Rencananya, area tersebut akan dibuat lebih tertutup dengan dinding kaca dan para pedagang akan direlokasi ke gedung bekas Ramayana.
Keamanan yang Membaik dan Tantangan Biaya Sewa
Selain perubahan bangunan, Rohman merasakan perbaikan signifikan dalam hal keamanan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang cukup rawan. Dahulu, cerita mengenai aksi pencurian toko sepatu atau praktik pungutan liar sering menjadi buah bibir di kalangan para pedagang.
Ia teringat masa di mana orang-orang tak dikenal sering datang meminta uang keamanan secara paksa ketika toko akan tutup. Praktik "tarikan keamanan" tersebut biasanya terjadi di atas jam 9 malam dan sangat meresahkan para pemilik kios kecil.
Namun, sejak pergantian pengelola, suasana kerja kini dirasakan jauh lebih kondusif dan aman tanpa ada gangguan dari premanisme lagi. Meski masalah keamanan sudah teratasi, Rohman kini menghadapi beban pikiran baru terkait biaya operasional usahanya yang terus merangkak naik.
Rincian kenaikan biaya sewa kios yang dialami Rohman:
| Periode Waktu | Kisaran Harga Sewa per Bulan |
|---|---|
| Beberapa Tahun Lalu | Rp3.000.000 - Rp4.000.000 |
| Saat Ini (2026) | Di atas Rp5.000.000 |
Peningkatan biaya sewa ini menjadi tantangan berat, mengingat banyaknya tenant makanan di lorong depan ternyata tidak membawa dampak langsung bagi usahanya. Pelanggan setianya justru berasal dari kalangan luar yang sengaja datang mencari jasanya karena reputasi pijatannya yang sudah tersohor.
Rohman bercerita bahwa pelanggannya mencakup tamu hotel dari luar kota, warga dari Sumatra, hingga pejabat penting dari kepolisian dan legislatif. Banyak anggota DPR yang menjadi pelanggan tetapnya, menunjukkan bahwa meski lokasinya di sudut, kualitas layanannya diakui kalangan atas.
Kisah AJS: Sang Penjual Aksesori yang Tahan Banting
Beberapa meter dari kursi refleksi Rohman, terdapat seorang pedagang lain yang menggantungkan hidup pada penjualan benda-benda kecil. Pria asal Sukabumi ini memilih nama inisial AJS sebagai identitasnya saat melayani pembeli di lapaknya yang sangat padat barang dagangan.
AJS sudah berjualan di lokasi yang sama sejak tahun 2015 dengan memanfaatkan setiap jengkal ruang untuk memajang barang. Lapaknya tidak hanya menyediakan aksesori ponsel, tetapi juga berbagai perlengkapan sehari-hari yang sering dibutuhkan oleh para pejalan kaki.
Daftar barang dagangan yang tersedia di lapak milik AJS:
- Perlengkapan ponsel seperti casing, pengisi daya (charger), dan kabel data.
- Alat bantu kesehatan dan kebersihan seperti masker medis dan tasbih digital.
- Barang hobi dan musiman seperti mainan kecil, kipas portabel, hingga payung lipat.
- Aksesori wanita seperti jepit rambut, kuteks, dan pouch transparan berbagai warna.
Penampilan AJS malam itu terlihat santai dengan jaket denim abu-abu, namun ia menunjukkan profesionalisme tinggi saat melayani pelanggan. Meskipun bicaranya pelan dan irit kata, setiap jawaban yang ia berikan kepada calon pembeli terdengar sangat tegas dan meyakinkan.
Ketika melayani pembeli masker, ia menunjukkan jam terbangnya yang tinggi sebagai seorang pedagang kawakan di kawasan Blok M. Ia tahu persis perbedaan setiap produk yang ia jual, mulai dari ukuran hingga kualitas bahan, meski ia menyerahkan keputusan akhir kepada pembeli.
AJS mengenang masa pandemi saat harga masker melonjak drastis hingga mencapai ratusan ribu rupiah karena kelangkaan barang di pasaran. Kini, barang yang sama ia jual dengan harga yang sangat terjangkau, menyesuaikan dengan kondisi pasar yang sudah kembali normal.
Menghadapi Tantangan Belanja Online dan Persaingan
Motivasi utama AJS bertahan selama sebelas tahun di Blok M adalah demi menghidupi istri dan kedua anaknya yang berada di kampung halaman. Baginya, pekerjaan ini adalah satu-satunya jalan untuk memastikan kebutuhan dapur keluarganya tetap terpenuhi setiap hari tanpa hambatan.
Ia menceritakan bahwa satu dekade lalu, area transisi tempatnya berjualan jauh lebih padat dan riuh oleh aktivitas para pedagang. Namun, hantaman pandemi Covid-19 beberapa tahun silam memaksa banyak rekannya harus gulung tikar dan meninggalkan lokasi tersebut.
Kini, tantangan yang dihadapi bukan lagi pandemi, melainkan perubahan perilaku masyarakat yang lebih gemar berbelanja secara daring melalui ponsel. Meski persaingan dengan toko online sangat ketat, AJS tetap optimistis bahwa setiap barang dagangan selalu memiliki pembelinya sendiri.
Keyakinan ini terbukti saat seorang pria berjaket merah tiba-tiba berhenti dan membeli sebuah kantong kecil (pouch) dan payung lipat. AJS dengan cekatan melayani transaksi tersebut, menyadari bahwa faktor cuaca Jakarta yang sering hujan menjadi peluang emas baginya.
Selain melayani pembeli, AJS ternyata juga menjadi sosok yang dituakan oleh sesama pedagang di area tersebut untuk urusan tukar-menukar uang. Meskipun terkadang ia tidak bisa membantu karena stok pecahan uang yang terbatas, ia tetap merespons rekan-rekannya dengan sangat ramah.
Dedikasi AJS terhadap usahanya juga terlihat dari caranya merawat barang dagangan agar tetap terlihat bersih dan menarik di mata pengunjung. Ia rutin membersihkan setiap casing ponsel dan aksesori lainnya menggunakan kemoceng kecil agar terhindar dari debu yang menempel.