Regulator hulu minyak dan gas bumi Indonesia, SKK Migas, tengah memfokuskan seluruh upaya untuk memvalidasi temuan gas raksasa di Blok South Andaman. Lokasi penemuan ini berada di sekitar 62 mil dari lepas pantai Sumatra Utara.
Langkah ini diambil guna memperkuat dominasi Indonesia di pasar energi global, seperti dikutip dari Investortrust. Penemuan cadangan gas berskala besar ini dinilai para ahli menjadi pengubah permainan bagi Asia Tenggara.
Bagi pasar energi internasional, penemuan di Andaman ini membawa pergeseran masif dalam dinamika pasokan regional. Indonesia berpotensi memosisikan diri sebagai pusat LNG krusial di saat pasar Barat menghadapi volatilitas pasokan.
Potensi cadangan gas yang ada mencapai lebih dari 6 TCF atau setara dengan sekitar 1 miliar barel minyak. Kehadiran investasi ini sekaligus menandai kembalinya perusahaan minyak internasional ke tanah air.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perubahan regulasi di Indonesia menuju kontrak yang lebih fleksibel, baik melalui skema gross split maupun cost recovery, mulai membuahkan hasil nyata.
Penemuan gas masif yang diumumkan oleh perusahaan asal Uni Emirat Arab, Mubadala Energy, ini bersumber dari sumur eksplorasi Layaran-1. SKK Migas bergerak cepat melakukan validasi data demi meredam spekulasi publik.
Langkah taktis tersebut diambil agar pemerintah mendapatkan data yang akurat guna keperluan perencanaan pembangunan infrastruktur penunjang.
Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas, Hudi D. Suryodipuro, mengingatkan agar masyarakat tidak terpengaruh oleh rumor yang keliru yang menyebutkan bahwa temuan tersebut didominasi oleh minyak bumi.
"Proses pembuktian dan validasi besarnya cadangan gas dan kondensat sangat diperlukan sebagai dasar pengambilan langkah dan pembangunan infrastruktur pendukung yang dibutuhkan untuk percepatan onstreaming," kata Hudi dalam rilis pada Selasa.
Temuan ini menjadi hadiah akhir tahun bagi industri hulu migas nasional. Momentum positif ini melengkapi penemuan cadangan gas berkapasitas 5 TCF oleh perusahaan asal Italia, ENI, di Blok North Ganal sebelumnya.
Revitalisasi Kilang Arun Menjadi Hub LNG
Skala besar dari penemuan di South Andaman turut memberikan gairah baru bagi pengembangan infrastruktur lokal. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) bersiap memanfaatkan momentum ini.
Perusahaan transportasi dan distribusi gas alam terbesar di Indonesia tersebut berencana merevitalisasi kilang LNG Arun yang berlokasi di Lhokseumawe.
PGAS menargetkan transformasi Arun menjadi terminal penerimaan dan hub LNG berkelas dunia. Fasilitas di kilang tersebut saat ini memiliki enam train LNG dengan kapasitas mencapai 12,5 juta ton per tahun (MTPA).
Bagi perusahaan pelat merah tersebut, pasokan gas dari Blok Andaman akan menjadi bahan baku yang sangat penting. Komoditas ini bakal menyokong percepatan industrialisasi di seluruh wilayah Sumatra.
Target Produksi Dipercepat pada 2028
SKK Migas tidak ingin mengulur waktu dalam menggarap proyek strategis ini. Regulator telah menginstruksikan Mubadala Energy untuk mempercepat penyusunan Plan of Development (POD) antara tahun 2025 dan 2026.
Target agresif telah ditetapkan agar proyek ini sudah bisa mulai berproduksi atau onstream pada tahun 2028 atau 2029.
Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Benny Lubiantara, menegaskan bahwa faktor waktu menjadi penentu utama dalam persaingan pasar global yang kompetitif.
"Sebagian besar investor migas akan memilih wilayah kerja yang sudah memiliki infrastruktur dan lebih dekat dengan pasar," kata Benny.
Presiden Direktur Mubadala Energy Indonesia, Abdulla Bu Ali, memberikan apresiasi atas dukungan penuh yang diberikan oleh pemerintah Indonesia. Menurutnya, potensi energi yang dimiliki Indonesia sangat luar biasa.
Abdulla Bu Ali menambahkan bahwa potensi besar ini menjadi bagian vital dalam mendukung pencapaian target produksi nasional yang dicanangkan untuk tahun 2030.