Tumpukan limbah rumah tangga di bahu Jalan Pemuda, Ciputat, Tangerang Selatan, dilaporkan bukan berasal dari penduduk setempat. Fenomena pembuangan sampah liar ini terjadi secara konsisten meskipun petugas kebersihan telah berulang kali melakukan pengangkutan di lokasi tersebut.
Aan (50), seorang juru parkir yang bertugas di kawasan itu, menyebutkan bahwa pelaku pembuangan sampah sembarangan diduga kuat merupakan warga dari luar wilayah Ciputat. Aktivitas ilegal tersebut biasanya dilakukan saat kondisi sepi pada malam hari hingga menjelang subuh, dilansir dari Megapolitan.
"Biasanya malam atau dini hari. Ada saja yang buang sampah ke sini," ujar Aan saat ditemui di lokasi, Senin (27/4/2026).
Aan menjelaskan bahwa pengawasan di area tersebut sebenarnya sudah diupayakan, namun hasilnya belum maksimal. Hal ini disebabkan karena penjagaan oleh petugas hanya berlangsung hingga tengah malam saja.
Kekosongan penjagaan setelah pukul 00.00 WIB dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk membuang bungkusan sampah. Pelaku sering kali menggunakan kendaraan bermotor dan langsung melempar muatannya tanpa menghentikan kendaraan.
"Sebenarnya sudah ada yang jaga tapi cuma sampai jam 00.00 WIB. Biasanya jam 04.00 WIB suka ada yang langsung lempar saja dari motor," ujar dia.
Dampak dari keberadaan titik sampah liar ini sangat dirasakan oleh para pelaku usaha di sekitar jalan tersebut. Lia (37), seorang pedagang warung, mengungkapkan rasa kesalnya karena lokasi tumpukan sampah berada tepat di samping tempat usahanya.
Polusi bau dan serangan lalat yang muncul dari tumpukan sampah memaksa Lia untuk sering menutup warungnya. Kondisi lingkungan yang tidak higienis membuat pelanggan, terutama anak-anak, enggan datang untuk berbelanja.
"Aduh, berdampak banget ya. Karena kan anak-anak mungkin enggak mau karena bau. Saya juga sering enggak dagang karena gimana keadaannya banyak sampah kayak gitu, jadinya sering libur," kata dia.
Situasi ini berdampak langsung pada kondisi finansial Lia. Ia melaporkan terjadinya penurunan pendapatan yang sangat signifikan akibat kondisi lingkungan yang buruk di sekitar lapak dagangannya.
"Dampaknya banget ke omzet. Bisa turun lebih dari setengah. Biasanya bisa sampai Rp 500.000, sekarang paling sekitar Rp 200.000," ungkap dia.
Menghadapi masalah yang terus berulang, Lia mengharapkan adanya tindakan nyata dan ketegasan dari Pemerintah Kota Tangerang Selatan. Ia mengusulkan penguatan pengawasan melalui teknologi dan koordinasi antarwarga.
"Berharap bisa dipasang CCTV ya biar ketahuan siapa yang buang sampah sembarangan di lokasi. Terus RT/RW bisa mengutus orang untuk bisa gantian ronda," ucap dia.
Hingga laporan ini disusun, upaya konfirmasi telah dilakukan kepada Humas Pemkot Tangsel, Satiri, serta Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangsel, Bani Khosyatullah. Namun, pihak-pihak terkait belum memberikan pernyataan resmi mengenai solusi penanganan sampah di lokasi tersebut.